Untukmu, lelaki penguat di balik jarak

Wednesday, May 21, 2014

Photo by @Mytaaaa


Jarak.

Sekecil apapun, kata itu sedari dulu menjadi salah satu hal menakutkan bagiku, ketika ingin menjalankan sebuah hubungan. Bagaikan orang ketiga yang mengganggu dan menjadi benalu mengambil semua rasa percaya yang harusnya dipupuk untuk membuat sebuah hubungan tetap hidup dan berjalan dengan sebagaiman mestinya.

Tapi, karena satu dan banyak hal. Entah karena aku terlalu terperangkap nostalgia masa lalu atau perasaan takut yang begitu hebat, mengguncang semua sendi kepercayaan yang aku punya. Karena pernah porak poranda, karena pernah terhempas, karena jarak.

Sedari awal, aku menyadari kelemahan yang aku miliki. Seringkali menyepelekan rasa percaya yang entah sudah sedari kapan merengek memintaku memeluknya. Tapi aku malah mengabaikan dan melangkah dengan rasa sakit yang menggelayut mesra. Aku terlalu buta untuk memilih mana yang harusnya aku percaya, terkadang aku terlalu memaksakan untuk mensejajarkan langkah tanpa menyadari bahwa sudah saatnya aku beristirahat sejenak.

Hingga suatu hari, jarak menjadi salah satu kata yang tidak bisa lagi aku hindari keberadaannya. Detik demi detik waktu kebersamaan di renggutnya, Jarak menjadi pemenang.

Haruskah ia ?

Perasaan cemas, dahaga akan sebuah kepercayaan menari-nari seakan sedang berada di atas awan. Mencoba menekan dengan segala cara, menahan tangis hingga menjadi diam. Mencoba menjadikan semuanya tampak baik-baik saja, dan berharap akan begitu untuk seterusnya hingga akhir. Meski sekali waktu emosiku mendobrak keluar, Mengedepankan cemburu dan berpikir yang tak tentu arah, berkata tanpa memikirkan keadaan, berharap ia yang berada di balik jarak ini mengampiri, menggenggamku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Nyatanya, pertengkaran seringkali tak bisa lagi terelakkan.

Kini kepongahan jarak, kembali menjadi pemenang.

Terkadang terlalu malu mengucap kata rindu terlalu sering, ku pendam saja. Tak ada gunanya meluapkan ketika tahu bahwa ada bendungan besar yang bernama “kesibukan” akan menjadi penghalang utama. Tak mau pula aku menjadi seseorang yang dipandang seperti anak kecil, dengan rengekan manjanya disetiap waktu. Biarkan rindu ini menggelayut, menghitam, menunggu waktunya untuk melepaskan rasa.

Berkali-kali jarak menang dan ia menunjukkan kuasanya. Aku menyerah dan belajar untuk menyapa sekitar, menyapa rasa percaya yang sudah lelah memintaku untuk mendampingi hidup. Menyesap bahwa nyatanya aku bisa, akan selalu bisa.

Berusaha percaya meski tanpa secara langsung melihat dengan mata, mendengar dengan telinga, dan melangkah tanpa langkah yang bersisian.

Kini, terimakasih ku ucapkan untuk mu, lelaki penguat dibalik jarak yang membentang.
Terimakasih telah menjadi alasan paling masuk akal yang bisa aku miliki untuk bertahan.
Semoga tetap membuatku percaya dan mengerti.

Aku tidak pernah setenang ini ketika jarak menjadi salah satu penghalang dalam sebuah pertemuan.

Tidak pernah senyaman ini meski keberadaan bukanlah sesuatu yang  bisa diharapkan adanya dalam sekejap.
Terimakasih.
 Jambi, 21st May 2014
Backsong: LDR by Raisa

No comments:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS