Setahun yang lalu dan setelahnya.

Wednesday, August 21, 2013





Setahun yang lalu.
Tepat setahun yang lalu.
Pertahanan yang sudah sedemikian mulai dibangun, mulai kembali goyah.

Setahun yang lalu.
Tepat setahun yang lalu.
Seseorang yang sangat berarti kembali datang, tanpa diundang, tanpa diminta.

Setahun yang lalu.
Tepat setahun yang lalu.
Dan seharusnya semua tidak dimulai lagi. Dibiarkan tetap menjadi seperti sebelum setahun yang lalu. Mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Tidak akan ada lagi serangan hebat di hati. Tidak akan ada lagi kepercayaan diri terhadapnya. Tidak akan ada, dan seharusnya memang tidak ada lagi.

Terlalu lelah berbicara tentang kepercayaan. Karena sudah berkali-kali kepercayaan menjadi layaknya barang yang bisa sesegaranya terganti menjadi lebih baik lagi, bagimu. Tapi sayangnya, tidak bagiku. Aku terlalu lelah untuk terus membangunnya kembali, ketika alasanku untuk percaya adalah alasan yang sama untuk tidak lagi ingin melakukannya. Kamu.

Setahun setelah yang lalu.
Tepat di hari ini.
Keputusan penting telah aku ambil. Hal besar telah berani aku lakukan. Begitu juga dia.

Setahun setelah yang lalu.
Tepat di hari ini.
Aku akan kembali memperbaiki kepercayaanku, bukan untuknya. Tapi untuk orang yang lebih pantas lagi. Akan kembali terserang rindu yang begitu hebat, tapi berusaha untuk mengalihkannya. Akan kembali ingin segera berlari memeluknya, tapi berusaha untuk menahan langkah. Akan kembali merasakan ada yang hilang, tapi berusaha untuk mengisinya kembali, nanti. Akan menutup buku yang memang seharusnya tidak pernah aku baca kembali. Karena meski kali ini di akhir yang tidak sama, tapi ada sakit yang tidak jauh berbeda.

Setahun setelah yang lalu.
Tepat di hari ini.
Ada airmata yang menggantung dan tak sengaja mengalir kembali, ketika akhirnya memutuskan.
Ada keihklasan yang berusaha masing-masing lakukan untuk kehidupannya. Ada.

Ini awal, bukan akhir.
Bismillah.









The end.

Start from now, I'm gonna miss him more than yesterday, but I'll be allright. Bismillah.

Maaf, bila masih berkisar tentangmu.

Friday, August 02, 2013

Sebelumnya, maaf bila tulisan ini masih berkisar tentangmu.
Tuhan, maaf bila aku telah lancang kembali memutar ingatan, yang harusnya aku endapkan di masa yang telah lalu.





Tulisan ini tercipta kala aku meradang tentang ingatan yang lalu. Ketika harusnya aku telah berpijak pada landasan masa depan. Bukan karena ingin kembali dan menetap, hanya ingin mengunjungi dan berkata, "Apa kabar hidupmu tanpa aku ?"

Maaf bila mungkin rasa ingin tauku masih besar, tentang hidupmu.
Maaf bila mungkin masih ada rasaku yang berputar di sekelilingmu.
Maaf bila mungkin keyakinan yang ada belum bisa pulih, karenamu.
Maaf bila mungkin hidupku masih berkisar tentangmu.

Tentang hidupku harusnya bisa lebih baik daripada ini, tapi bukannya aku tak berusaha, tapi memang aku masih tertatih kali ini. Menyembuhkan dan membuat hidup kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya itu susah ya ternyata, aku tidak mampu membayangkan bagaimana rasanya bila "rasa sakit" itu lebih dalam lagi. Benar-benar aku tidak mampu.

Aku sedang berdiri menghadap kenyataan, bahwa kamu sudah tidak lagi harusnya berada di dalam masa depanku. Itu menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan lagi, kala aku harus menyadari bahwa meskipun kamu diijinnkan untuk tetap ada, kamu tak akan pernah bisa sepenuhnya berjanji untuk selalu menetap.

Suara di luar sana, riuh rendah mengingatkanku, memanggilku, menyadarkanku bahwa harusnya aku tersadar dan kembali berjalan. Hingga pada suatu hari aku merasa terlalu letih untuk mengikuti suara yang berpendar jelas di sekelilingku. Aku lupa bahwa aku sedang berjalan dengan separuh hati. Aku lupa bahwa sesungguhnya aku butuh untuk beristirahat sejenak.

Aku butuh didengar tidak hanya oleh mereka, namun juga oleh mu. Aku disini berusaha berdiri berpegang pada kenyataan yang bersisi tajam. Bisakah hanya coba mendengarkanku sejenak ? Aku butuh diyakinkan bahwa aku sedang baik-baik saja, bahkan saat delusionalku tentangmu sedang bermain tanpa henti. Aku butuh digenggam, dihangatkan oleh pelukan, bahkan ketika aku merasa bahwa hatiku sudah terlalu dingin untuk mengenali hal-hal baru.

Aku tau jalanku harusnya kedepan. Aku tau harusnya aku mengacuhkan bukan tentang masa yang akan datang. Aku tau sedang ada yang menungguku siap untuk kembali membuka hati. Aku tau. Tapi yang aku tidak tau, entah kapan aku sebenarnya benar-benar siap. Karena sesungguhnya kakiku masih bergetar ketika melangkah, hatiku masih meneteskan rasa perih dan telingaku terkadang masih tidak bisa menerima janji yang lebih baik. Dan mataku ? Masih butuh melihat mata seseorang yang mampu membuatku percaya, bahwa dunia kecilku telah kembali.

Fana itu memang untuk dunia. Selama ada kamu. Akan selalu begitu.

So, can you let me feelin' okay when I'm actually (not) okay ?






Tanggal kedua di bulan agustus. Mengakhiri si tanggal satu.



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS