Surat untuk Ibu — Delapan belas

Wednesday, May 20, 2026

 Assalamualaikum, Ibuku…


Cintaku, ini tepat tahun ketiga kami tidak bisa lagi mendengar suaramu. Memelukmu. Mengajakmu sekedar makan siang di rumah makan, membelikanmu sushi dan sashimi kesukaan, melihat pesan singkat atau telepon masuk atas namamu, meminta doa dan restu untuk menyelesaikan satu persatu masalah hidup.

Bu, pagi hari ini hujan turun deras sekali. Kakak enggan bangun dari kasur, lelah sekali rasanya. Ingin istirahat seharian. Beberapa hari lalu juga Kakak sempat telepon Ayah, rasanya penuh sekali isi pikiran dan hati. Kakak rindu rumah, meskipun tetap di sana, cuma rasanya pulang ga akan pernah sama lagi, bu.

Banyak sekali hal yang ingin Kakak ceritakan, banyak sekali. Tapi saat lihat halaman kosong ini, entah harus dari mana Kakak memulainya. Hapus…. Ketik…. Hapus… gitu aja terus.  

Walaupun ga ada lagi doa Ibu, semoga Kakak bisa ya bu jadi lebih baik. Kakak bisa memafkan apa yang harus kakak Ikhlaskan. Waktu Kakak yang tidak pernah bisa panjang untuk bertemu saat masih ada, dan saat Kakak tidak mampu berlari lebih cepat saat waktu kita sudah semakin menipis. Ketidakmampuan Kakak, semoga tidak menyusahkan Ibu. Terimakasih ya kemarin sempat datang ke mimpinya Kakak, seneng deh, walaupun bangun-bangun mata Kakak sembab banget rasanya. Tapi seakan Kakak bisa cerita, bisa peluk, bisa liat Ibu langsung. 

Semoga makin bertambah harinya, gak membuat Kakak melupakan suara Ibu, ya. Lebih baik Kakak bawa saja rindu dan dukanya setiap hari, membiasakan hari dengan rasa rindu yang akan Kakak bawa entah sampai kapan. Sulit, bu. Tapi biarkan Kakak coba lagi ya setiap harinya.

Tapi hari ini,

Hanya hari ini,

Kakak minta sedikit kelonggaran ke Tuhan. Bukan tidak mampu mengikhlaskan, tapi hari ini Kakak ga bisa dulu buat bertahan seperti biasanya. Maaf ya, bu.

Peluk cium Kakak, masih akan terus Kakak berikan, tapi bentuknya doa penuh harap ke Tuhan. Terselip juga rindu yang panjang. Semoga Tuhan sampaikan ya, bu. Kakak kangen Ibu.


     

Mei, 2026

3 tahun selepas cintaku terlelap di sisi Allah SWT



Surat untuk Ibu — Tujuh Belas

Saturday, August 09, 2025

 Assalamualaikum, Ibuku …

Bahkan hanya dengan menulis surat yang tidak akan pernah Ibu baca, Kakak terdiam cukup lama di depan halaman kosong. Kakak ingin mengeluh, ingin bercerita, ingin bertanya, bu. Entah sudah berapa kali, Kakak gagal mengirim pesan ke Ayah. Kakak takut, bu. Kakak capek. Padahal perjalanan Kakak mungkin masih lama, masih panjang sekali, bu.

Sekarang setiap harinya Kakak sudah harus selalu minum obat, bu. Kata dokter, hal pertama yang harus Kakak lakuin tuh untuk bisa menerima keadaan sekarang, harus bisa mengontrol semuanya. Dua bulan ini tuh berat banget buat Kakak. Banyak sekali perubahan hidup yang mendadak terjadi. Ternyata kepergian Ibu, belom cukup untuk Kakak belajar buat menerima perubahan besar yang gak pernah bisa Kakak ukur. Allah sayang banget kayaknya sama Kakak, bu. Allah pengen bilang, kalau Kakak pasti bisa, kan bu? Tapi gimana ya, bu? Kakak bisa ga ya, bu?

Kakak tau sedikit banyak, gimana rasanya menghadapi dan mendampingi yang sedang berjuang akan sakitnya, ga mudah, bu. Capeknya ada, emosinya ada, pasti ada fase ingin melepas walaupun tidak akan pernah sampai hati. Tapi Kakak juga takut sendirian, bu. Kakak takut jarum suntik. Kakak takut menghadapi vonis dokter. Kakak takut ketika mendengar hasil Lab. Kakak takut tiba-tiba tensi terlalu tinggi. Kakak takut untuk tahu bahwa obatnya masih terus berlanjut. Kakak takut usaha Kakak belum ada hasil yang significant. Kakak mau hamil, tapi takut dan kasihan nanti ia bahkan harus menerima obat sedari dalam kandungan. Kakak takut banyak hal, bu.

Andai Kakak bisa bertanya harus gimana, andai Kakak bisa pulang sebentar untuk memeluk, andai Kakak masih bisa tiba-tiba mengirimkan pesan singkat. Andai masih bisa, bu. Ternyata Kakak di umur segini, belum bisa apa-apa banyak hal, tanpa Ibu dan doa Ibu.

Tapi kayaknya, Kakak harus kembali belajar buat berani sendiri, bu. Kakak dulu bisa kok berusaha untuk bisa menghadapi hidup sendiri dan jauh dari Ibu. Kali ini, harusnya Kakak tetap bisa ya, bu.

Memarnya akan sembuh, bekasnya akan hilang, hidup akan baik-baik saja, bu. Walaupun perlahan, tapi Kakak pasti bisa. Selama Kakak masih punya Allah.


Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Aamiin.


Dalam kepasrahan, hanya Allah yang maha tau.


Surat untuk Ibu — Enam Belas

Friday, May 23, 2025

 Assalamualaikum, Ibuku…

Ternyata surat kali ini, sudah ada draftnya dari november tahun lalu. Tapi hidup sedang terlalu riuh, dan berusaha untuk dinikmati. Jadi maaf ya, surat kali ini agak terlambat.

Hampir setahun ini, banyak hal yang terjadi, bu.

Pertama kalinya Kakak menggantikan tugas Ibu, membawa adik ke pintu rumah tangganya. Menemani ayah dalam tangisnya yang lebih kencang, melepaskan anak lelaki satu-satunya. Bisa gitu ya bu, Kakak belum tau rasanya memiliki anak, tapi sudah tau bagaimana melepaskan mereka untuk harusnya jadi lebih mandiri—tidak sepenuhnya tau sih. Tapi…. Oh gini ya rasanya. At least, I was learned, and will know better when the times come, ya kan?

Bu, lucunya beberapa bulan terakhir, banyak sekali rumor bahwa nantinya Kakak harus bersiap melepaskan ayah, jika harus ada orang baru yang menempati posisi Ibu. Kakak egois banget ya kalo ternyata belum sesiap itu? Karena posisi Ibu, belum bisa tergantikan oleh siapapun. Bagi Kakak. Lebih lucu lagi, mereka yang terkadang berucap, adalah mereka yang belum kehilangan Ibunya—separuh dunianya, tapi merasa lebih tau bagaimana masa depan seharusnya, ironis ya?

Kadang Kakak bingung, ada masanya Kakak bisa menanggapi segala hal dengan ucap penuh tawa, but somehow it turns to cut me deeper than I ever realized. Ada lubang yang gedeeeeeee banget masih tinggal di dalam diri Kakak. Padahal ga ada yang salah, tapi rasanya benar kosong. Entah kapan akan sedikit demi sedikit bisa terisi kembali.

Oh iya, kemarin tepat di dua tahun, Kakak sudah bisa pakai baju yang sama lagi. Tapi dengan kondisi yang berbeda bu. Kakak bertemu teman, berbincang, tertawa dan sorenya bareng doain Ibu lewat video call, bareng adek dan cucu pertama Ibu! Pertama kalinya dia ketemu Jiddah, walaupun banyaknya bolakbalik tampak penasaran.

Bu, semoga rindu dan doa kami semua bisa terdengar ya, meringankan dan memeluk Ibu dalam kesendirian. Jalan kami masih panjang untuk selalu menitipkan doa pada yang Maha Kuasa, dalam salah satu cara merindukan belahan hati kami.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Aamiin.



Kakak yang sedang rindu, di rumah.





Surat untuk Ibu — Lima Belas

Thursday, October 03, 2024

 Assalamualaikum, Ibuku…

Tepat hari ini, di tujuh hari lalu, Juki berada dalam peristirahatan panjangnya. Menemui kedamaian dan didekap Tuhan. Sebagaimana Ibu menghembuskan nafas kelegaan, akan akhir dari sakit yang terlalu nyaman untuk tinggal.

Masih dengan terbiasa membuka pintu, selayaknya biasa ia akan pulang dari berjalan-jalan seharian. Memanggil namanya tanpa sengaja. Atau melihat ke sisi rumah, tempat biasa ia menyenderkan badannya untuk melepaskan lelah sejenak dan berakhir tertidur pulas.

Suaranya masih terekam jelas, dan seringkali satu persatu kenangan berputar di kepala, seakan mengaburkan batas kenyataan. 

Bahkan, seminggu ini pun rumah tak pernah sepi dengan kehadiran kucing liar yang lalu lalang. Entah menunggu makanan di depan rumah, berantem entah karena apa, atau sekedar lewat dan beristirahat sejenak di bawah mobil. Lucu ya? Seakan mereka berusaha meramaikan rumah, yang kini terlalu hening untuk dihuni oleh manusia saja.

Bu, kira-kira ke depannya hidup akan baik-baik aja ga ya? 

Meskipun sudah pernah, Kakak benar tidak butuh untuk melewati berbagai kehilangan dalam waktu dekat. Allah tau Kakak bisa, mampu. Tapi jika bisa, Kakak lebih memilih untuk tidak usah dulu, bu. 

Bu, semoga Kakak bisa sekuat apa yang mungkin Ibu harapkan dan semogakan, ya.

Seperti biasa, doa semoga Kakak untuk Ibu juga tidak pernah lepas setiap harinya.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Aamiin.



Rumah, memeluk Juki dalam kenangan.






Surat untuk Ibu — Empat Belas

Friday, September 27, 2024

 Assalamualaikum, Ibuku…

Sudah lama Kakak gak mampir buat menulis ya? A lot of things happened, bu.

Salah satunya, Kakak harus merelakan untuk kepulangan Juki dalam keheningan. Hanya Juki yang tidak bersuara, tapi Kakak dan Sas berisik sekali dengan tumpahan air mata yang entah berapa episode. 

Tiga hari, bu. Jukinya sakit dan harus dirawat intensif oleh dokter. Tiap hari Kakak datang, sekedar untuk menyemangati dan mengelus kepalanya. Ibu tau ga, terakhir Kakak datang, dia berusaha mengangkat kepalanya, seakan menjawab ajakan kakak yang “Yuk, mau pulang ga?”. Mungkin memang dia ingin menghabiskan harinya yang lelah dan sendiri, dengan kembali pulang ke rumah.

Banyak sekali hal yang berputar di kepala Kakak, untuk ditanyakan ke dokter. Tapi bu, setiap Kakak datang, selalu ada kabar baru yang membuat Kakak tidak mampu berpikir jernih. Hanya ingin menemui Juki yang setiap harinya berusaha untuk bangun, tapi sudah terlalu ringkih dan tak mampu berbuat banyak.

Kembali Kakak lihat kesayangan tertidur, terbalut infus, dengan segala diagnosa penyakit yang dokter suarakan. Cek darah, XraySuspect tumor, ginjal, cairan di paru dengan segala kemungkinan treatment yang panjang dan mungkin akan melelahkan bagi Juki. Rasanya dejavu sekali, hingga beberapa saat mengucap perlahan “wah, ada yang sama ya dengan Ibu…” Bahkan saat terakhir Kakak dikabarin, secepat apapun mobil melaju, Kakak tetap terlambat untuk menemuinya di helaan nafas terakhirnya. 

Padahal semalam sebelumnya, Kakak memimpikan Juki yang kembali sehat, berdiri dan bertingkah sebagaimana biasanya. Apa itu jadi salam terakhir, cara ingin dia dikenang dengan baik? 

Lucu ya? Kakak kira akan terbiasa, nyatanya memang tidak ada yang akan pernah siap dengan jalan menuju kehilangan, berapa kalipun mengalami. Tapi bagaimanapun Kakak berusaha, ternyata memang berusaha Ikhlas adalah satu-satunya jalan keluar. Setidaknya, di beberapa hari terakhirnya, sudah Kakak suapi, temani, peluk dan ucapkan doa terbaik.

Kali ini, dia pulang ke rumah. Meski tidak lagi memilih tertidur di atas sofa atau sekitar kipas favoritnya. Meski tidak lagi merengek untuk minum dari gelas hijaunya. Meski tidak lagi mengikuti langkah siapapun di rumah untuk meminta jatah makannya. Meski tidak lagi menunggu dibalik jendela untuk meminta masuk. Meski tidak lagi bisa Kakak panggil untuk datang menghampiri. Meski Kakak harus kehilangan satu-satunya “teman” saat harus sendirian di rumah. Juki tetap memilih pulang dengan Kakak hingga saat terakhirnya.

Bu, sekarang rindu Kakak bertambah lagi. Tapi doa untuk Ibu akan selalu sama dan senantiasa terucap;

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Aamiin.



Rumah, sehari setelah kehilangan (lagi).




Surat untuk Ibu — Tiga belas

Monday, May 20, 2024

 Assalamualaikum, Ibuku …

Tepat satu tahun, bu. Dunia terus berputar, tapi tidak selalu dengan milik Kakak. Lebih banyak berhentinya. Pelan-pelan kembali menapaki kehidupan yang seharusnya bisa dengan baik dijalani, tapi butuh usaha yang jauh lebih banyak dari biasanya.

Tepat satu tahun, bu. Kali ini Kakak memilih pulang lebih dahulu, memesan penerbangan yang lebih awal. Bahkan Kakak sudah memakai pakaian berwarna hitam, entah kenapa, padahal lagi panas banget akhir-akhir ini hehe. Meskipun perjalanan pulang tidak akan pernah sama lagi rasanya, akan selalu ada rutinitas yang tidak lagi Kakak lakukan—mencium tangan dan pipimu—sesampainya di rumah. Bahkan panikpanik tipisnya kambuh menjelang take off, hanya bisa istighfar, atur napas, sembari menghapus air mata. 

Tahun ini, Kakak dan adik-adik membawakan kembali bunga yang semoga bisa memberi sedikit keharuman di rumah Ibu. Lengkap kok, bu. Kita semua sama-sama berdoa bareng, Ibu bisa dengar kan? Walaupun gak banyak orang, tapi suara kami tadi lumayan kenceng kok, bu. Hehe

Tepat satu tahun, bu. Banyak yang masih ingin Kakak ceritakan, masih banyak yang ingin Kakak tanyakan, bahkan masih banyak hari-hari Kakak yang membutuhkan doa Ibu. Semoga hidup anak-anak Ibu akan selalu jadi jauh lebih baik hari demi hari dan saling melindungi, sebagaimana ingin Ibu biasanya, ya.

Tepat satu tahun, bu. Allah memeluk Ibu dikeheningan paling dalam, dan peristirahatan paling tenangnya. Dan Kakak tetap merindukan Ibu dengan bisik doa di setiap sujud dan tangan yang mengadah. 

Untuk hari ini, maafkan Kakak ya jika masih berduka di beberapa sela waktu, dan terasa lebih sering dari kemarin. Besok Kakak coba lebih baik lagi.


Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira


Rumah, kembali pulang. May 2024




Surat untuk Ibu — Dua belas

Tuesday, April 02, 2024

 Assalamualaikum, Ibuku…

Bu, tahun ini Kakak ulang tahun di tanggal yang seharusnya loh. Kado yang Kakak minta tahun lalu juga masih ada, entah harus berucap itu keberuntungan atau bukan, ketika Kakak terlalu keras kepala dan ngeyel buat meminta sesuatu. Nyatanya, menjadi kado terakhir yang Kakak punya dari Ibu. Harusnya ada doa yang Kakak juga terima tahun ini, tapi mulai kini, Kakak harus bisa merasa cukup dengan yang ada.

Oh iya! Sekarang sudah kembali bertemu bulan Ramadhan, bu. Tapi ini bulan pertama tanpa Ibu di rumah. Biasanya bakalan ada pesan masuk atau panggilan untuk membangunkan sahur, atau sekedar bertanya “buka puasa pake apa hari ini?”.

Entah kenapa rindunya berkali lipat deh, bu. Entah sudah sujud ke berapa, atau ucap doa penuh penekanan yang mana yang sudah Kakak sampaikan ke Tuhan, bahwa Kakak sangat rindu dan berharap rindunya sampai. Sebegitunya. Dan dua hari kemarin, ketika Kakak tidak sengaja terlelap di sela-sela kesibukan siang hari, Kakak bermimpi sedang “pulang”. Ada Ayah, Adik-adik, dan ada Ibu. Kita bercengkrama seperti biasa, dan Kakak memilih untuk akhirnya menemani rutinitas Ibu ketika sedang tidur siang. Mencoba memeluk dan mengelus lengan Ibu sembari rebah di ranjang kamar, berharap tidak terlepas. Karena bahkan ketika bermimpi, Kakak sadar bahwa Ibu tidak lagi nyata. Takut untuk terlelap, dan terbangun untuk mendapati bahwa Ibu tidak ada. Lucu ya, bu. Bahkan ketika dalam mimpi pun Kakak tidak bisa memeluk dan mencium Ibu sepuasnya.

Meski hanya sebentar, dan akhirnya terbangun dengan mata yang basah. Rindunya masih ada, Ibunya yang udah gak ada. 

Tapi gapapa, Kakak tetap bersyukur Tuhan mendengarkan dan mencoba menenangkan hati Kakak yang sedang payah. Satu hal yang pasti, memeluk Ibu dalam mimpi, adalah salah satu hal termewah yang bisa Kakak miliki saat ini. Jadi, sering datang ya bu. Nanti Kakak ceritakan tentang semua hari yang terlewat tanpa Ibu.


Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira


April 2024, Ramadhan pertama tanpa Ibu.



Surat Untuk Ibu — Sebelas

Monday, January 01, 2024

 Assalamualaikum, Ibuku…

Hari ini tepat di hari pertama pergantian tahun, Kakak sudah berjalan hingga lebih dari 7 bulan tanpa Ibu. Hebat ya, bu. Meski masih juga Kakak scrolling kembali percakapan kita melalui chat, beberapa foto dan video yang ada Ibu di dalamnya. Meski tangisnya tidak sepecah dulu, tapi sedikit demi sedikit bisa berkurang air matanya, bu.

Tau gak bu, ternyata setelah Ibu enggak ada, Ayah sekarang lebih sering untuk berinteraksi dengan warga sekitar. Bahkan malam tahun baruan kemarin pun Kakak dapet kabar dari Adek, Ayah lagi ngumpul-ngumpul seru. Bahkan Kakak memulai komunikasi dengan menanyakan kabar Ayah terlebih dahulu. Jarang banget terjadi ya, bu. Kalau Ibu bisa lihat sendiri, pasti Ibu juga ga nyangka kami berdua keluar dari zona nyaman masing-masing hahahaha

Biasanya juga tiap malam tahun baruan, Kakak akan telepon Ibu, atau menunjukkan menu makan malam special yang Kakak buat, tapi tahun ini kayaknya ga bisa ya bu, Kakak tunjukkan ke mama aja. Lumayan mengobati kerinduan Kakak untuk menceritakan sedikit dari hari-hari yang sedang Kakak lewati. 

Bu, tahun ini Kakak berharap bisa bertemu dengan diri Kakak yang bisa berbesar hati untuk menerima, bahwa akan lebih banyak lagi kenyataan yang sudah tidak bisa sama lagi, seperti biasanya. Diri Kakak yang menjadi cukup dan dimudahkan untuk mensyukuri hari demi hari dengan mereka yang selalu dan berusaha untuk ada buat Kakak.

Kakak akan berusaha untuk selalu menempatkan Al-fatihah dan juga doa pendek setiap kali teringat Ibu, semoga sampai, ya. 

Oh! Jangan lupa juga untuk datang ke mimpi Kakak, ya. Karena Kakak akan selalu rindu.


Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira




2024, tahun yang baru dengan rindu yang sama.

Surat untuk Ibu — Sepuluh

Thursday, November 30, 2023

 Assalamualaikum Ibuku …

Setelah 6 bulan lamanya Kakak menunggu. Terimakasih ya kemarin malam sudah datang ke mimpi Kakak. Meski hanya sebentar, melihat Ibu dengan baju daster putih bunga-bunga, sedang duduk di dapur dengan kursi kecilmu dan bersiap memasak—entah mungkin akan ada acara, dan sekedar ucapan “Bu, udah masak nasi belum? Laper”, lalu Kakak terbangun. 

Hanya itu yang terjadi. Sebentar. Hanya ucapan biasa, sehari-hari. Tapi tidak akan pernah bisa terjadi kembali.

Nanti datang lagi ke mimpi Kakak ya, Bu. Kakak akan selalu rindu.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira


Surat untuk Ibu — Sembilan

Monday, November 20, 2023

 Assalamualaikum, Ibuku …

Hampir tiga bulan lamanya Kakak belum menulis surat untuk Ibu.

Melewati 100 harian Ibu, 40 harian Kakek, tiga bulan pertamanya Ayi, perjalanan kembali menaiki pesawat yang terasa berkali lipat mengerikan, dan beberapa hal yang tidak terduga lainnya. Such a roller coaster dalam hidup, bu. I wish, I could tell you more. Like we used to. 

Tepat hari ini harusnya umur Ibu bertambah, biasanya akan ada jam nya video call dengan rencana surprise kecil,  tiupan lilin, ucapan selamat serta rentetan doa. Rindu bisa telponan berjam-jam hanya untuk membicarakan banyak hal, berbagai pesan singkat yang seringkali remeh, atau menitip sesuatu hingga ke pulau seberang, karena terkadang tidak ada di sekitar rumah. Tapi mulai tahun ini, Kakak dan yang lainnya hanya bisa menyelipkan doa untuk didengar Tuhan. Maaf, Kakak hanya bisa menitipkan dua pulih anyelir-nya melalui adek, Kakak belum bisa datang lagi. Kakak juga titipkan rindu hebat, doa dan harap yang lirih, semoga tersampaikan ya, bu.

Tahun ini masih belum berakhir, tapi rasanya lumayan melelahkan, bu. Hari ini tertawa, entah besok akan menangis seperti apa. Masih belum bisa tenang ketika menerima telepon, di saat yang tak biasa. Terhitung hari ini, meskipun tidak tiap hari, Kakak sudah mulai bisa meniadakan agenda one day, one cry. Sekarang jadi seminggu sekali, hehe. Banyak juga hal yang seringkali ketika harus bersikap, atau memutuskan sesuatu, membuat Kakak berpikir; “apa yang biasanya Ibu akan lakukan ya?”. Nyatanya Kakak masih butuh banyak bimbingan, bu.

Bu, hingga hari ini Kakak masih belajar mengikhlaskan. 

Masih belajar menata emosi yang sungguh sangat bisa meledak hebat, tanpa bisa Kakak duga.

Semoga Kakak bisa kembali menulis surat dengan isi yang lebih membahagiakan ya, bu.

Sekali lagi, selamat ulang tahun wanita terhebatku. Pintu doa utama. Pengucap hal paling tulus. Manusia tersabar. Kami rindu Ibu.

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. 


Dua puluh november, di rentang rindu yang jauh.

Surat untuk Ibu — Delapan

Wednesday, August 23, 2023

 Assalamualaikum, Ibuku…

Sudah beberapa minggu Kakak tidak menuliskan beberapa kata rindu melalui tulisan, tapi doa dan pinta Kakak pada Tuhan, semoga dapat terdengar dan meringankan segala urusan Ibu di sana, ya.

Bu, Kakak kehilangan dan belajar banyak hal di tiga bulan terakhir ini. Jika saja kita masih banyak waktu untuk sekedar telepon meski jauh, pasti akan ada banyak hal yang Kakak ingin ceritakan. Tentang kita yang kedatangan anggota baru yang sudah sangat Ibu nantikan, yang Kakak belum bisa berikan. Namun semoga sampai akhir umur, Ibu bisa mengerti kerisauan hati Kakak—ternyata memang Ibu sekuat itu menghadapi dunia sendirian kala itu hingga selesai. Tentang Ayah yang kembali kehilangan satu-satunya pintu doa terakhir yang bisa ia miliki. Tentang rasa emosi dan hilang arah karena beberapa hal. Pasti juga akan banyak komentar tak terduga, kata peredam, hingga omelan sekilas yang menimpali. Hehe, kangen, bu.

Bu, sebentar lagi Kakak mau pulang ke rumah. Makin nyata rasa tidak tenang. Masih terekam detik pejalanan terakhir Kakak untuk pulang dan mencium dahi Ibu untuk terakhir kalinya. Tidak pernah terlintas di benak, akan ada saatnya Kakak sangat membenci perjalanan udara. Dimana biasanya Kakak akan selalu menunggu waktunya, merengkuh dan menyelesaikan rindu memang selalu bisa diatasi dengan peluk dan temu, kan? 

lalu bagaimana dengan yang kali ini?

Sesampainya nanti di rumah, tidak akan ada lagi Kakak temui diri penuh kenyamanan hangat, karena pintu ampunan dan doa terbesar yang Kakak miliki ada di sekitar. Akan Kakak temui kembali, kenyataan bahwa tempat pulang Kakak, kini sudah berpulang. Ke rumahnya yang abadi. Pelukan Tuhan.

Bismillah, semoga siklus meresahkan itu tidak kembali dengan hebatnya. Susah payahnya Kakak berusaha untuk pulih, merelakan sekaligus hidup terbiasa, yang seringkali tumpang tindih dengan rasa rindu tanpa henti.

Lagi-lagi, tunggu Kakak ya, bu. Akan Kakak kunjungi dengan bunga yang melimpah di pusara.

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. 



BSD, berharap tidak adanya dering telpon dari ibu,

Hanya karena Ibu tidak punya kuota atau pulsa.


Surat untuk Ibu — Tujuh

Saturday, July 08, 2023

 Assalamualaikum Ibuku …

Hari ini di sabtu sore hari, hujan lagi turun dengan derasnya. Seharian ini kondisi cuaca lebih kelabu dari biasanya. Gak cuaca, gak hati. Sama aja emang suka berubah tanpa ada aba-aba, bu.

Bu, minggu kemarin Kakak melewati minggu yang lumayan butuh penyesuaian. Belum selesai Kakak meniti duka 40 hari tanpa hadirnya Ibu, dilanjutkan dengan kemeriahan pesta yang mengharuskan Kakak untuk bisa berjalan seperti biasanya. Tersenyum dan tertawa lebih banyak dari biasanya. Meredam isak yang biasanya akan datang sehari sekali. Entah mereka menyadari, apakah Kakak baik-baik saja atau tidak.

Memang benar jika memang harus kehilangan dahulu, agar tau cara terbaik untuk menghargai keberadaan. Kakak rindu akan pesan singkat dan Doa Ibu yang selalu Kakak pinta sebelum memulai perjalanan. Sosok yang akan bertanya apakah Kakak akan baik-baik saja, bagaimana perjalanan, dan selipan doa-doa yang akan Ibu haturkan dari jauh untuk keselamatan Kakak dimanapun kaki Kakak melangkah. Bahkan beberapa petuah yang datang tanpa Kakak minta. 

Sekarang tidak ada lagi yang akan seleluasa itu Kakak ceritakan bagaimana hari-hari berjalan dengan begitu dinamisnya. Tidak ada lagi yang akan mendengarkan dan menimpali segala cerita, meski mungkin sambil menahan pusing di kepala atau lelahnya badan. Tidak akan ada lagi yang bisa tiba-tiba menanyakan, “Kakak kapan pulang?”. Tidak akan ada lagi yang akan menggerutu sembari lewat ketika Kakak protes akan sesuatu. Tidak akan ada lagi yang mengucapkan terimakasih atas segala hal kecil yang mungkin remeh dan terlupakan. 

Istighfar, kak” pengingatmu ketika anak-anakmu terlalu emosi, ataupun tidak mampu mengatur ekspektasi hidup. Ibu, pintu doa terbesar dan terbaik yang Kakak miliki. Dari semua hal baik yang pernah Ibu ingatkan, Ibu belum usai mengajarkan Kakak untuk berpijak kembali kala kehilangan. 

Nafas terhembus masih dengan begitu beratnya, hidup dengan kondisi yang masih timpang, ternyata ikhlas masih menjadi jalan yang panjang untuk Kakak.

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. 


BSD, kembali jatuh menyerah pada keadaan.

Surat untuk Ibu — Enam

Wednesday, June 28, 2023

 Assalamualaikum, Ibuku …

Tepat sudah 40 hari di hari ini. Harinya cantik, bu. Malam nanti malam takbiran, dan besok lebaran Idul Adha. Lebaran pertama tanpa Ibu. I’m just wondering how it feels… pasti akan berbeda dengan biasanya. It won’t be the same anymore, bu.

Kakak hanya bisa mengingatkan dari jauh, semua persiapan lebaran yang mungkin akan terasa lebih sepi karena kehilangan. Semoga rumah akan selalu bisa menjadi tempat kembali pulang  dan tempat ternyaman bagi kami ya, bu. Seperti pelukan dan petuah Ibu.

Hari ini Kakak puasa Arafah, biasanya pasti Ibu yang mengingatkan. Tidak memaksakan, tapi supaya Kakak bisa menjalankannya dengan kesadaran dan keinginan pribadi. Ada untungnya ternyata Kakak berpuasa selain berpahala, Kakak berusaha bertahan untuk tidak terlalu meluapkan emosi selepas ibadah. Sulit sekali. Padahal itu waktu paling melegakan untuk Kakak meminta pada Tuhan dengan suara paling kencang, meski hanya dalam relung hati. Tapi ini masih siang ya, ga tau nanti malam. Hehe.

Biasanya jika kondisi Kakak sedang tidak baik-baik saja, pesan singkat Ibu akan tiba-tiba masuk. Entah membicarakan apa atau hanya sekedar menanyakan kabar. Seringkali Kakak merasa tidak perlu bercerita banyak, tidak perlu menunjukkan di depan mata, tapi Ibu akan “hadir” dalam bentuk yang tak terduga. Membuat Kakak merasa tidak akan pernah sendiri.

Bu, hari ini rasa tidak nyamannya datang terlalu pagi. Ternyata untuk menjadi tenang ketika tanpa pegangan, Kakak tidak menyangka akan membutuhkan Butterfly hug sebagai penenang. Iya, selepasnya tentu ditambah dengan istighfar. Persis seperti yang biasa Ibu akan ucapkan dalam kondisi apapun.

40 hari, bu.

40 hari dan masih terngiang suara juga cuplikan memori dengan jelas.

40 hari kami melewati griefing journey dan berusaha pulih dengan cara masing-masing.

40 hari rindu Kakak dan adik-adik hanya bisa dibisikkan lewat sujud dan doa, kapanpun, dimanapun. 

40 hari yang akan datang, tapi ternyata tidak akan pernah siap. Menjadi ikhlas pun masih jalan yang panjang.

Semoga Tuhan mendengar pinta dengan nafas terengah dan suara terisak Kakak dan Adik-adik ya, bu. Pelan-pelan untuk tenangkan, untuk ikhlaskan.

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. 



BSD, Tepat 40 hari terus berusaha mengikhlaskan diri.


Surat untuk Ibu — Lima

Tuesday, June 27, 2023

 Assalamuallaikum Ibuku …

Bu, lagi-lagi Kakak harus meminta maaf karena ketidakhadiran yang seringkali Kakak lakukan. Kali ini Kakak belum bisa pulang karena alasan yang mungkin akan Kakak ceritakan lain kali. Adik-adik juga sudah Kakak beritahu. Lagi-lagi peran Kakak harus digantikan sementara oleh mereka. Kakak bersyukur punya mereka sebagai belahan jiwa Kakak lainnya.

Bu, hari ini Kakak sudah bersiap sedari sore. Kakak pinjam baju Ibu ya. Sebelum kembali, Kakak sempat membawa beberapa baju Ibu untuk Kakak kenakan. Dress warna hitam. Khusus Kakak gunakan hari ini untuk menemui Ibu dalam doa, bersama dengan yang lainnya.

Bu, Kakak sudah titip pesan ke adik-adik, jika nanti Kakak ingin melakukan panggilan video. Kakak sedang tidak ingin melewati hari ini sendiri, bu. Meski seadanya nanti, semoga harap dan doa Kakak juga semua yang menyayangi Ibu, bisa menghangatkan, bisa meringankan, bisa melapangkan, bisa menemani Ibu ya.

Bu, sekali lagi ucap maaf, karena sudah melewatkan beberapa minggu tanpa menaburkan bunga dan mengucapkan doa langsung di pusara. Tapi Kakak yakin, Ibu akan mengerti seperti biasanya. Ibu akan bilang jika Kakak tidak perlu memaksakan kehendak. Ibu akan bilang semuanya akan baik-baik saja selama Kakak merapal doa pada Tuhan. 

Tapi bu, kali ini Kakak benar-benar tidak baik-baik saja.

Meski sudah berusaha, nyatanya Kakak masih belum lulus untuk tidak mengeluarkan air mata kala mengingat, masih belum mampu menahan diri. Ternyata menjelang 40 hari, Kakak masih sama saja seperti halnya hari pertama.

Kakak coba lagi ya, bu. Tenang ya, bu. 

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa.


BSD, menjelang 40 hari kepergian belahan jiwa.

Surat untuk Ibu — Empat

Monday, June 26, 2023

 Assalamualaikum, Ibuku…

Hari ini Kakak iseng buat konsultasi. Karena rasa tidak nyaman yang Kakak rasakan semakin menjadi. Kakak juga semakin sulit bernapas, bu. Rasanya udara di sekitar Kakak menipis dan sulit untuk dihirup. Bingung. Baru pertama kalinya Kakak sampai sebegininya. Biasanya kalau Kakak sedang bingung, Kakak bisa tanya Ibu. Mulai saat ini, Kakak coba tanya ke orang yang mungkin bisa membantu ya. Ibu tenang aja.

Hasilnya? Tentu seperti yang sudah beberapa teman Kakak juga coba diagnosis. Tadi Kakak sudah coba tanya ke beliau yang lebih profesional, gapapa kok, tapi butuh proses. Gak tau butuh berapa lama. Semoga Kakak bisa melewati fasenya dan tidak berkubang duka semakin lama. Semoga apa yang Kakak bisa kenang, adalah segala hal baiknya. Walaupun sekarang Kakak udah ga bisa minta doa Ibu, tapi Kakak berusaha untuk bisa kembali lagi seperti biasa. Ibu tenang aja.

Mungkin jika tidak lewat surat, jika saja Ibu pun masih ada, dan Kakak ada di fase seperti ini. Kakak gak akan dengan mudah menceritakan hal seperti ini. Ketakutan Kakak akan menambah satu lagi hal yang harus ibu khawatirkan dan pikirkan. Tapi kali ini hanya dengan surat ini, Kakak bisa lebih lega menceritakan berbagai hal. Iya, sehabis sholat pun tetap akan Kakak ceritakan keluh kesah dan keinginan yang seringkali diluar batas manusia. Terutama untuk Ibu, semoga doa Kakak didengar Tuhan ya. Kalau tidak hari ini, akan Kakak selalu coba setiap waktu. Jadi, Ibu tenang aja.

Tapi bu, Kakak boleh bilang kangen yang sedikit lebih banyak ga hari ini? Boleh ya? 

Semoga rindu Kakak diwakili oleh seuntai doa yang akan terus selalu Kakak ucapkan,

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa. 



BSD, mencoba menikmati proses dan rindunya akan hidup tanpa Ibu.

Surat untuk Ibu — Tiga

Saturday, June 24, 2023

Assalamualaikum, Ibukuu…

Rindu juga ternyata sudah beberapa minggu tidak ada pesan singkat masuk yang menanyakan kabar, atau dering telepon sekedar ingin menceritakan beberapa hal penting ataupun tidak.

Bu, tau ya Kakak lagi rindu?

Seperti biasanya jika Kakak sedang tidak baik-baik saja, adanya kabar Ibu yang tiba-tiba datang, meski tanpa dimulai. Seakan tau bahwa Kakak sedang butuh sandaran. Kali ini, tidak lama dari paragraf utama diketik, Adik-adik melakukan telepon video dan mengabarkan jika sedang mengunjungi Rumah Ibu. Kami membacakan doa bersama meski jauh. Tepat seperti yang Kakak butuhkan. Kehadiran Ibu yang diwakili oleh Adik-adik. Allahuakbar, gimana bisa ya, bu?

Lagi-lagi, ada kalanya Kakak tidak Ibu biarkan sendirian melewati hari—yang ternyata masih saja berat.

Terimakasih ya,  bu. Sudah mengajarkan kami untuk saling tidak meninggalkan bagaimanapun kondisinya. Kakak masih tidak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika harus melewati semuanya sendiri.

Bu, surat ini sempat terhenti untuk Kakak tuliskan. Tapi di hari sabtu yang sudah lewat sebulan ini, Kakak masih belum bisa melewati dengan normal dan seperti biasa tanpa ada hal yang mengganggu.

Sedari malam tadi Kakak masih belum mudah memejamkan mata, paginya pun Kakak masih menolak bangun lebih cepat. Perut Kakak sedang tidak bisa di ajak kompromi, mual. Bingung. Seperti sabtu di beberapa minggu lalu, tapi kali ini Kakak berusaha melewatinya tanpa tangis sedu.

Sabtunya Kakak mungkin saja tidak akan pernah sama lagi, tapi Kakak berusaha untuk mencoba memeluk rasa pahitnya agar tidak lebih menggigit. Berteman dengan luka memang tidak mudah kan, bu?

Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa


BSD, masih dalam usaha mengikhlaskan.

Surat untuk Ibu — Dua

Saturday, June 10, 2023

 Assalamualaikum, Ibukuu.

Malam tadi, kakak tanpa sadar tidak bisa tidur hingga lewat pukul 03.00 Wib. Kakak takut akan ada panggilan mendadak yang membuat kakak hampir tidak memijak bumi. Biasanya, sebelum pukul 01.00 kakak akan terlelap karena terlalu lelah menangis setiap harinya. Maaf ya, bu. Masih belum bisa menahan air mata yang jatuh, entah karena doa selepas sholat atau memang ingin melepaskan rasa sesak.

Bu, beberapa hari terakhir ketika kembali ke rumah. Kakak selalu merasa. tidak tenang disekitar pukul 10.00 WIB. Tidak tau entah karena benar memang hanya perasaan, atau memang alam sadar kakak memainkan perannya. Waktu terasa lebih lambat, dunia terasa lebih menghimpit, udara lebih sulit didapatkan. I’m lost, bu.

Bu, sekitar 1 bulan sebelum telepon itu berdering, kakak sering membayangkan “bagaimana rasanya jika kehilangan dunia?”. Masih terekam jelas bagaimana Kakak mendengar isak tangis tanpa penjelasan panjang, yang membuat jantung terasa berhenti sepersekian detik. Harinya telah datang, dan ternyata jawabannya adalah tidak akan pernah siap.                                                                                                   

Langkah kaki Kakak menuju ke Bandara saat itu seakan sudah lari paling cepat yang bisa kakak lakukan, nyatanya…. Kakak melihat banyak yang berjalan lebih dulu di depan. Badan kakak seakan tidak memijakkan kaki ke bumi.  I felt like it was the scariest and the longest flight I ever had. 

Jika hari-hari berjalan dengan biasa, mungkin kakak akan mengabari Ibu, atau berpikir untuk membuat kejutan dengan kepulangan kakak. Tapi kali itu berbeda. Kakak hanya bisa mengirimkan pesan singkat untuk meminta Ibu menunggu Kakak sebentar, hanya sebentar lagi. Meskipun Kakak tau, tidak akan pernah Ibu baca isi pesannya. Kakak juga terlalu takut untuk meminta panggilan suara ataupun video kepada sesiapapun di rumah sakit, doa kakak bahwa ini hanya kesalahan, ternyata kalah dengan kenyataan pahit dan ketetapan Tuhan.

Tapi kepulangan Kakak kali itu disambut banyak orang, adik-adik dan ayah mengantarkan Kakak menemui Ibu sembari meminta maaf karena merasa telat mengabari dan tidak memberikan waktu Kakak bertemu Ibu di rumah sakit. Kakak tidak bisa membayangkan bagaimana mereka merelakan kepergian Ibu dengan sadarnya. Adik meminta langsung penghentian RJP, karena ia tau, dada Ibu sakit kan beberapa bulan terakhir? Jika itu Kakak, mungkin tidak akan bisa kakak melakukan apa yang ia lakukan. Lagi-lagi, maaf Kakak bahkan masih tidak sesadar itu dalam mengambil keputusan.

“Ibu cantik sekali”. Tapi tidak sempat Kakak ucapkan. Wajah Ibu penuh ketenangan, meski lebih dingin dan kaku dari biasanya Kakak cium. Pun tak sempat Kakak cium tangan Ibu, tanda hormat Kakak buat Ibu, yang terakhir kalinya.

Hari itu berjalan begitu cepat, banyak teman Kakak yang juga turut mengantar Ibu hingga ke liang kubur. Sodara dari jauh juga beberapa ada yang langsung membeli tiket untuk mengantarkan Ibu ke rumah baru. Meski mungkin waktunya memang tidak cukup untuk melihat Ibu ketika belum tertutup tanah dan bunga. Tapi semuanya berdoa untuk Ibu, semuanya sayang, semuanya berusaha dengan sangat keras untuk bisa ikhlas.

Pagi ini, Kakak berusaha untuk menghabiskan sarapan bubur yang saat itu tidak mampu Kakak habiskan.

Sebagaimana dunia berjalan dengan semestinya, berputar dengan sebaik-baiknya, tapi dunia kakak berhenti. Tepat dengan deringan telepon pagi itu.

Besok-besok Kakak cerita lagi ya. Adik-adik sehat, Ayah juga. Tenang ya, bu.


Rabbighfirlii wali waalidayya warham humma kamaa rabbayaanii shaghiiraa


BSD, hari sabtu ke empat yang dilewati tanpa Ibu.



Surat untuk Ibu — Satu

Thursday, June 08, 2023

 

“Assalamualaikum, ibuuu”

Masih terekam dengan jelas bagaimana kelakarmu, agar anakmu ini tidak lupa mengucapkan salam ketika memulai atau mengakhiri percakapan.

Tulisan ini tepat kakak tulis di 20 hari semenjak kepergian ibu.

Semenjak kakak udah ga punya cara lain untuk berbicara, selain selalu memohon kebesaran Tuhan dalam menjaga ibu selepas sholat. Semoga doa kakak dan adik-adik, bisa memeluk dan menjaga ibu dalam keheningan paling dalam, ya.

Maaf ya bu, kemarin kakak sempat telat untuk datang dan tidak sempat melakukan ritual yang berulang kali kakak lakukan ketika pulang; Cium punggung dan telapak tangan Ibu berkali-kali, dan mencium dahi-pipi mu juga berulangkali. Hanya bisa sekali, bahkan kakak tidak mampu keras kepala untuk melawan mereka yang menahan kakak melakukannya ketika ingin lebih, “Ikhlasin, jangan sampai air matanya kena ya”. 

Lucu ya, bahkan kakak harus menahan diri di detik terakhir yang berjalan seakan begitu cepat.

Berat, bu.

Padahal ucapan terakhir kakak sebelum pamit ke bandara sebelumnya, “kita belum sempat cerita banyak”. Terlalu sibuk menyiapkan perhelatan lebaran hari raya Idul Fitri, yang siapa sangka… be our last eid.

Maaf kakak belum bisa jadi anak yang Ibu andalkan ketika harus bolak balik rumah sakit, berulangkali malah diwakili oleh adik-adik. Bahkan seringkali kakak telat mengetahui bahwa Ibu sedang rawat inap, karena tidak ada satupun yang mengabari. Takut kakak khawatir ya? Maaf ya, sudah buat Ibu dan semuanya merasakan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Seringkali Ibu melayangkan protes karena kakak jarang memberi kabar meski jauh. Karena kakak pasti akan bercerita tentang banyak hal, yang mungkin saja membuat Ibu akan terus memikirkannya. Cukup sejauh ini Ibu tau bahwa kakak di sini baik-baik saja, dan bersama orang yang tepat.

Bu, semoga kakak bisa membedakan tangis sesak yang memang dalam ingin mengingat, atau ketidakikhlas-an yang menganggu. Semoga yang kakak lakukan tidak membuat Ibu resah di sana.

Bu, nanti kakak cerita lagi lebih banyak ya. Banyak hal yang mau kakak sampaikan. Sekarang mau siap-siap dulu menjelang maghrib dan mengirimkan doa untuk Ibu. Kakak gak mau kalah, karena kemarin sore adik-adik sudah menaburkan bunga di pusara Ibu. Cantik.

Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā.
"Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil."


BSD, Menjelang malam Jum’at

Tepat 20 hari Ibu tertidur dalam pelukan Tuhan.










Kehidupan di pertengahan tahun, saat tiga puluh.

Thursday, June 16, 2022

 In the middle of June, 2022


Wow, it has been a long time no see. 2020 adalah tahun terakhir untuk posting sesuatu, menceritakan sedikit yang ingin diceritakan.

Pada saat tulisan ini dibuat, saya sedang menatap keluar rumah. Kondisi cuaca sedang tidak terlalu terik, tidak juga cukup mendung untuk mengubah perasaan menjadi kelabu. Cukup nyaman untuk dinikmati udaranya.

Kehidupan di angka tiga puluh yang akan saya singgung ini, ternyata sudah berjalan cukup beberapa bulan. Bagaimana saya akan memulai ceritanya? Mungkin dari bagaimana pertambahan umur ini terbilang cukup unik. Meskipun saya menghabiskannya di pulau Dewata bersama dengan pasangan dan sahabat, tapi ternyata dibarengi pula dengan positif covid-nya saya dan pasangan. Membuat rencana kami yang awalnya hanya sekitar 4 hari saja, harus bertambah hingga 10 hari lebih. Tanpa ucapan meriah, ataupun tiupan lilin di kue ulang tahun seperti biasanya. Bahkan hanya satu dari keluarga yang mengucapkan dan memperingati. Mungkin terdengar terlalu sentimental, tapi sekedar ucapan yang seringkali dianggap hanya basa-basi, menjadi pengingat bahwa hidup saya yang biasa ini masih harus dilanjutkan keberadaannya. Masih diingat. Mahal rasanya.

Benar-benar minggu yang penuh perubahan mendadak. Salah satu hal yang saya dan mungkin banyak lainnya tidak menyukai— perubahan.

Bagaimana tepatnya Tuhan memainkan kuasa-Nya pada makhluk kecil yang suka lupa diri. Karena sebaik-baiknya manusia berencana, Tuhan adalah dzat paling kuat untuk menentukan.

Sedih? Kecewa? Awalnya tentu saja sebagaimana manusia biasa. Akan mengalami berbagai perasaan tidak mengenakkan dan tidak nyaman. Tapi ternyata rencana Tuhan akan selalu indah dan menenangkan. Ada sahabat yang setia menemani hingga akhirnya kami bisa kembali ke rumah dengan sehat dan selamat.

Salah satu penerimaan diri yang hingga sekarang masih menjadi salah satu hal sulit untuk dilakukan. Menerima bahwa semua kondisi dan situasi tidak akan selalu bisa sesuai dengan yang diharapkan. Kalimat-kalimat klise yang kerapkali ditemukan dimana saja, diucapkan oleh sesiapa saja, tapi ternyata hingga detik ini, di umur yang sudah menginjak tiga puluh. Masih sangat sulit dilakukan. Maka, meminta seseorang untuk langsung menerima segala hal untuk berjalan dengan begitu adanya, adalah salah satu hal yang tidak bijaksana, bagi saya pribadi. Bagaimanapun kasus masalahnya.

Bahkan hampir 4 bulan lamanya, tapi ternyata masih sering terucap bahwa sayang ingin terus bisa “bermain”, hingga nanti usia tua. Menikmati hidup yang mungkin dulu sempat tidak bisa dilakukan, atau acapkali dikesampingkan keinginannya. Sedang tidak ingin memikirkan bagaimana perasaan dan hidup orang lain, harus berjalan dengan baik. Atau bagaimana saya harusnya menyikapi hidup yang terkadang menuntut penyesuaian diri.

Seperti sedang bergelung dengan diri sendiri dan segala macam perasaannya. Menutup akses bagi orang lain untuk menyentuh terlalu dalam.

Kira-kira akan bertahan berapa lama?



BSD, June 2022

LA LA LA LOST YOU - NIKI; 

As my back song to finish the paragraph.


Welcome Back, 29!

Wednesday, March 04, 2020


Selamat datang 29 februari 2020!

Long time no see. After 4 years, kita ketemu lagi dengan banyak suguhan kehidupan yang berbeda. Saya dan segala perubahan besar dalam hidup, dimulai dari menopang status baru, hingga pindahan ke rumah yang baru. Memulai segalanya sedari awal.

Tahun ini adalah tahun ke dua puluh delapan, saya hidup, memiliki impian, menjalani jatuh dan bangun akan kehidupan, dan mengalami untuk merelakan serta mencintai lebih lagi.

Sedikit cerita, ketika akan menyambut tanggal bersejarah ini, saya benar-benar merasakan bagaimana ketakutan kecil yang menyelinap diam-diam. Perasaan dimana saya takut belum menyelesaikan apa saja yang ingin saya selesaikan, memiliki apa saja yang saya idamkan. Walaupun seringkali ada yang berucap, age is just a number, buat for me, it matters. A lot.

Bahkan tepat sehari sebelum siklus tanggalan menuju ke angka dua puluh sembilan di penghujung februari, saya mendapatkan kabar bahwa orang tua dan adik-adik saya yang kini sedang berada jauh di pulau yang berbeda, sakit. Padahal sebelumnya saya dan mereka sudah merencanakan beberapa impian untuk berlibur bersama, menghabiskan umur baru yang saya miliki dengan berbagai cetakan kenangan. Maklum, saya tidak bisa dengan mudahnya untuk pulang dan meninggalkan apa yang saya miliki, walaupun sejenak. Banyak pemikiran yang membuat saya tetap tinggal, dengan ikhlas. Sungguh. Meski ketika saya tidak mampu menatap para separuh jiwa saya secara langsung, hanya bisa memantau mereka melalui telepon genggam, meratap doa, dan air mata yang tiba-tiba menetes kala pesan masuk, “Selama ibu masih bisa berbicara, semua masih baik-baik saja”.

Tepat pada tanggalan dua puluh sembilan, mereka yang menyayangi saya tetap memberikan kejutan dadakan yang membuat hati hangat, saya ternyata amat di sayangi. Tidak peduli bagaimana keras kepala dan menyebalkannya.

Akhirnya Bandung menjadi pilihan pelarian sesaat, yang tentunya membahagiakan.

Bagi mereka yang mungkin mempertanyakan, kenapa saya tetap memilih tinggal dan akhirnya tidak mendekap separuh jiwa yang kini sedang melawan sakitnya raga, saya hanya bisa tersenyum. Jika mereka sudah pernah menikah, dan merasakan jauh dari orang tua, mungkin mereka akan sedikit mengerti.

Satu hal yang saya pikirkan, bahwa saya harus bahagia apapun kondisinya. Demi mereka yang telah menyelipkan doa atas kebahagiaan saya selama ini. Jika saya malah meratap dan memilih menghabiskan hari untuk berkeluh kesal dan menyalahkan keadaan, hati yang hancur bukan hanya saya.

Jika saya memilih pilihan yang terkesan mungkin tidak biasa dan dianggap egois, saya pun tetap akan memilih seperti itu.


Hai, you know who you are.
Terima kasih untuk segala usaha, doa dan harapan baiknya. Semoga kalian tidak bosan untuk mengenal saya.

Hai, dua puluh delapan.
Semoga kita berteman untuk jadi lebih baik lagi dalam memandang kehidupan, dan memilih keputusan.



Penghujung februari, 2020








 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS