Showing posts with label Tentang perempuan itu. Show all posts
Showing posts with label Tentang perempuan itu. Show all posts

Kisah dunia baru sang perempuan dan sepasang lengan

Tuesday, May 03, 2016

Untuk hari-hari yang mulai tidak bisa perempuan itu raba penghabisannya, dan ketiakpastian yang menggelayuti, ia menuturkan cerita singkatnya...


Beberapa hari belakangan, perempuan itu menemukan dunia barunya.
Dunia dengan segala nuansa baru dan pengalaman yang mungkin terbilang mampu mencetak tiap degup baru di tiap harinya. Ia menikmatinya, seakan ingin berselimut manja hingga tidak terbangun dan menjejakkan kaki di dunia lain.

Layaknya sekedar mimpi, segala yang ia seringkali ucapkan di kabulkan oleh sang pencipta alam semesta, yang mana dengan jahil-Nya menjadikan ucapnya menjadi begitu nyata. Dengan langkah ringan di tiap harinya, perempuan itu menunjukkan riangnya dalam kuluman senyum yang tiada padam.

Hingga suatu ketika, sang perempuan dihadiahi sepasang lengan yang mampu menangkup hari-harinya, menimbun laranya dan seraya menunjukkan jalan lain yang ia kira tidak akan pernah ia lewati. Terlalu berkabut, terlalu jauh, dan masih banyak pikiran lainnya yang perempuan itu pikirkan sesaat sebelum menapak. Sepasang lengan berwujud dan merupakan kado dari sang Pencipta, terus mencoba mengajaknya menapak satu persatu, meyakinkannya bahwa setiap permulaan akan menuju akhir, meskipun akan selalu ada jarak yang mesti di tempuh.

Dunia baru yang semula membuatnya terus berjalan dengan degup jantung tak beraturan, kini berdampingan dengan jalan setapak dengan jarak yang tidak terukur. Sepasang lengan itu pula ternyata mampu menggenggam tangan dan keyakinan sang perempuan sedikit demi sedikit dengan lebih erat. Sungguh luar biasa, sepasang lengan yang baru hadir mampu membawanya melangkahi banyaknya terjal ketidakyakinan. Membuatnya seketika limbung dan terlalu mabuk atas egonya, ia pun memilih untuk menggandeng keduanya, karena ia mulai mencintai segala hal tentang dunia baru dan jalan setapak yang di tawarkan oleh sepasang lengan dan berbeda kehidupannya tersebut.






*plak*

Mendadak kenyataan menggoncangnya dengan tamparan. Memutarbalikkan kenyataan. Bahwa akan selalu ada hal tak terduga di setiap perjalanan. Tidak peduli bahagianya sang perempuan. Akan ada segelintir perih yang membayangi, bahkan rasa rindu untuk mencapai hari esok dalam pertemuan selanjutnya adalah semacam belati yang terus menancap dalam ingatan -- membekas dan memberikan rasa sakit tanpa teraba oleh indera -- dan ternyata sang perempuan tidak menyadarinya sedari awal. 

Sungguh kasihan. Perempuan itu terlalu yakin dan lupa bahwasanya sepasang lengan itu bisa saja terselip dan mendadak terlepas, hilang di tengah kabut, diantara jarak yang membentang yang sedari awal ia yakinkan bahwa akan terasa lebih dekat daripada kelihatannya. Membuat jarak yang ada semkin membentang dan menjauh. Begitu juga dengan dunia barunya yang terus berputar, dan kini ia merasakan rasa kelam saat gelap datang.

Tersudutlah sang perempuan dalam dua sisi yang ia sayangi, sekaligus memaksanya untuk mengerti. Bahwa kehilangan dan ketidakpastian di tiap harinya akan selalu berkemungkinan untuk terjadi. Merelakan salah satu adalah jalan tengahnya.
Membuatnya harus segera mematikan rasa peduli.
Sebelum seluruh rasa yang ia miliki habis dibawa lari.





"Hanya sekedar mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata dan menyakitkan..."


Sang perempuan itu terbangun, meraba pipinya, menghapus air matanya, menyadari bahwa cerita sebelumnya memang hanyalah sekelebatan mimpi, tepat sebelum banyak keputusan besar yang ia harus ambil. Menatap jam dinding dan keluar jendela, menyadari ternyata ia sudah terlelap begitu lama. Cukup lama untuk mengenyampingkan kenyataan. Kini ia merapikan kembali dan menjaga setiap inci kesadarannya, hingga tidak boleh terlelap.






Jambi, Mei 2016
Ketika rindu untuk menulis sudah menumpuk, namun waktu yang semakin menipis.








Pernah. Di suatu waktu.

Friday, March 11, 2016

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki dengan kata cinta yang jarang terucap, bukan berarti ia tidak cinta. Tetapi perempuan itu menyadari bahwa segala perbuatan sang lelaki. Hanyalah untuk membahagiakannya. Meski terkadang caranya cukup sulit untuk dimengerti dengan sekali waktu. Butuh di pelajari setiap hari.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang jarang tersenyum, layaknya para lelaki lain yang memberi angin segar bagi para wanita yang mencintainya. Tapi ketika ia tersenyum meski hanya sekilas, perempuan itu tau bahwa lelakinya berbahagia lebih dari itu. Dan ia tau bahwa senyum terbanyaknya hanya milik orang yang lelaki itu cintai.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak terlalu suka dengan keramaian. Karena baginya tidak perlu ramai, bila pelukan tiada henti bisa mewakili salah satu quality time. Lelaki itu terkadang lebih suka menghabiskan waktu hanya berdua, tanpa ada interupsi dari dunia lainnya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak pernah melarang perempuannya dalam mengejar segala mimpinya. Tidak peduli dimana, asalkan sang perempuan tetap meletakkan ia dalam berbagai prioritasnya, dan menjaga untuk menyeimbangkan hidup, lelaki itu akan membebaskannya. Karena ia sadar bahwa perempuannya akan kembali pulang kepadanya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tak hilang jiwa kekanakannya. Menjadi tua adalah pasti bagi setiap manusia, namun dewasa adalah pilihan -- kalimat itu yang sering terdengar. Benar adanya. Lelaki yang ia cintai memang tidak semuda itu lagi, pun ia belum setua yang dibayangkan. Tapi ia bukan lagi anak kecil. Namun seringkali tingkahnya membuat perempuan itu membayangkan sedang memadu kasih dengan seorang bocah laki-laki. Kepolosannya, kebiasaannya, makanan favoritnya, hingga cara ia menyelesaikan hal kesukaannya. Perempuan itu jatuh cinta bahkan ketika sang lelaki meminta hanya dititipkan cokelat kesukaannya atau mainan kesukaannya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang akan selalu menghabiskan masakan yang ia hidangkan. Perempuan itu bukanlah seorang perempuan yang bertalenta di dapur, namun ketika ia sedang belajar untuk menghidangkan sesuatu yang layak kepada lelakinya, bagaimanapun rasanya, sang lelaki akan selalu menandaskan piringnya, dan kemudian mengucapkan terima kasih.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki tanpa basa-basi. Jarang sekali terlontar kata rayu yang mendayu. Seringkali malah terlalu langsung tepat sasaran. Perempuan itu pun akhirnya tak perlu bersusah payah mengandalkan segala kode, hanya cukup katakan. Meminta apa yang diinginkan.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang memikirkan segala sesuatunya dengan segala kemungkinannya. Menjadi batas dari segala obsesi sang perempuan yang seringkali tak terbendung alurnya. Menjadi penguat dari segala ke-pesimis-an hidup yang terkadang merundung perasaan. Menjadi sisi lain dari jalan keluar masalah yang seringkali tidak terlihat sebelumnya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang terlalu kaku untuk membaur dengan dunia barunya. Apalagi dengan dunia perempuannya yang lebih berwarna dari dirinya. Tapi bukan berarti ia akhirnya membatasi. Namun seringkali tingkah lelaki itu dianggap tidak menghargai, ketika yang ia sebenarnya rasakan adalah tidak tahu bagaimana untuk memulai.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak pernah menuntutnya terlalu banyak, bahkan dalam hal fisik yang semestinya sesempurna itu, sebagaimana lelaki lain mungkin pinta. Lelaki itu menerima sang perempuan dalam keadaan yang bagaimanapun perempuan itu pernah menjadi, dan sudah menjadi.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak terbisa memberikan suatu kejutan, bersikap romantis atau memberikan sesuatu di tanggal-tanggal tertentu. Tapi ketika ia melakukannya, tanpa mungkin lelaki itu sadari, perempuan itu akhirnya jatuh cinta lebih dalam lagi kepadanya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak sesempurna itu untuk dibilang lelaki impian. Bahkan jauh dari kata sempurna.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang pernah ia sebutkan namanya di dalam doa,
menunjukkan kepada Tuhannya, lelaki mana yang ia harapkan untuk menjadi imam bagi keluarga kecilnya nanti.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk sang perempuan mengerti segala cara mencintai sang lelaki kepadanya.

Pernah. Di suatu waktu.









Jambi, Maret 2016
Terinspirasi dari Novel "Twivortiare 2" by Ika Natassa dan sedikit kenangan






Maaf, untuk membutuhkanmu.

Friday, December 05, 2014

Entah apa yang lebih menyakitkan, daripada meminta maaf atas kehadiran dan rasa membutuhkan yang dimiliki.

Perempuan itu kembali mengumpulkan serpihan waktu yang berserakan di ingatannya. Tentang bejana akan kenangan yang tertumpah dan mengalir bebas. Membawanya mengitari hari demi hari, musim demi musim. Dengan orang yang sama, tapi kejadian di rentang waktu yang berbeda. Perempuan dan lelaki itu.

Kebersamaan yang meninggalkan jejak berusaha untuk menggapai kembali permukaan hati. Laksana mimpi indah, perempuan itu terpana pada satu titik, dimana tawa sang lelaki menjadi alunan melodi paling indah kesukaannya, Serta genggam tangan sang lelaki yang mengisyaratkan bahwa semuanya akan menjadi baik-baik saja pada akhirnya. Ketika itu semua indah layaknya cerita dongeng di masa kecil. Harapan sang perempuan pun juga masih sama, seperti kisah akhir sang putri dan pangeran impiannya, berakhir indah.

Seakan terlalu berkeyakinan, bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu menuliskan cerita mereka dengan tinta emasnya. Tinta keabadian.

Beranjaklah sang perempuan menuju suatu tempat penuh rasa damai, dengan ditemani deburan ombak sore hari, ia mencoba menyusuri pesisir pantai dengan sejuta kenangannya. Waktu dimana kaki sang lelaki menjejak dan meninggalkan bekas, begitu juga rasa yang tertinggal di hidup sang perempuan. Tak terhapus meski ombak kecil permintaannya untuk menghilangkan sudah terlalu tinggi, bagaikan terukir pada sebuah batu, tak mampu untuk terhapus dalam waktu singkat.

Perempuan itu sadar bahwa hanya si pemilik jejak yang mampu menghaluskan goresan cerita yang tertinggal, tapi ia juga sadar bahwa akan ada goresan dengan relung yang lebih dalam kala ia semakin berharap. Entah goresan itu akan terasa sangat menyakitkan atau malah membuatnya bersenandung. Mematikan logika, hanya tersisa rasa.

Hidupnya sudah terlanjur tergores oleh cerita yang dilalui bersama sang lelaki, dan kemanapun ia mencoba berpindah, goresan itu seakan mengikutinya dan berusaha mengingatkannya. Seegois apapun mohon yang ia minta untuk mematikan rasa, namun rasa sang perempuan malah mengukuhkan diri di tempatnya. Membuatnya menjadi candu akan kehadiran sang lelaki. Meski terkadang rasa yang ia miliki tak tersentuh oleh sang lelaki, yang entah ia sadar atau tidak bertindak mengegoiskan diri dan mengedepankan rasa tak acuhnya, hingga bersembunyi di balik ketidakmampuannya dalam berbuat.

Akhirnya, disinilah ia berdiri. Titik dimana perempuan itu membutuhkan sang lelaki lebih jauh, kini dan entah sampai kapan.

Aku meminta maaf untuk rasa membutuhkan yang terkadang terlalu besar. Percayalah, aku nyatanya sedang mencoba menunggalkan rasa yang sudah menjamakkan dirinya, dalam diriku.









Jakarta, November 2014
Cerita untuk melepas rasa penat




November Rain

Wednesday, November 12, 2014

'Cause nothin' lasts forever
And we both know hearts can change
And it's hard to hold a candle
In the cold November rain

We've been through this such a long long time
Just tryin' to kill the pain

But lovers always come and lovers always go
An no one's really sure who's lettin' go today
Walking away


Lantunan lirik lagu November Rain menggema di telinga perempuan itu. Di sore hari yang tidak begitu kelabu seperti sebelumnya. Namun tampak sekumpulan awan hitam yang sepertinya ingin segera menghampiri langit, angin berhembus dan tanpa ia sadari menarik lebih rapat jaket yang sedang di kenakan.

Jauh sebelum itu....

Melangkah sejenak jauh ke beberapa waktu lalu saat amarah sang lelaki memuncak karena kesalahan yang pernah perempuan itu perbuat. Rasa sakit ini tidak bisa di negoisasi, begitu kata lelaki itu. Hancur rasanya mendengar orang yang perempuan itu sayangi begitu kecewa karena sebuah kesalahpahaman. Tidak peduli pukul berapa, bagaimana langit sudah terlalu malam dan bulan menampakkan dirinya tanda sudah waktunya untuk melelapkan diri, perempuan itu berlari menuju ke arah sang lelaki. Mencoba untuk menemui lelakinya dan memeluknya tanpa jeda, perempuan itu rasakan lagi hal yang sama meski dengan keadaan yang berbeda, bagaimana menggapai seseorang begitu sangat sulit untuk ia lakukan.

Tidak peduli harus menunggu berapa lama, perempuan itu menunggu kedatangan sang lelaki, sendirian, di tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya. Butuh waktu tidak sebentar untuk ia meyakinkan sang lelaki. bahwa semuanya hanyalah kesalah pahaman, bahwa semuanya masih pantas untuk di perjuangkan. Mencoba meraba luka sang lelaki untuk kesekian kalinya, ingin sesegeranya menyembuhkan hingga tiada berbekas. Entah saat itu sang lelaki mempertimbangkan dengan melihat bagaimana perempuan itu berusaha mempertahankan, atau ada alasan lain. Mereka kembali mencoba memperbaiki keadaan bersama. Pelan-pelan.

Hingga akhirnya suatu hari, rasa tak tenang yang beberapa hari belakangan menganggu, membuat perempuan itu mendapati kenyataan. Kesalahan yang dulu pernah ia buat, yang pernah membuatnya begitu tersiksa oleh rasa bersalah, pernah dilakukan jauh sebelum perempuan itu melakukan kesalahannya, oleh seseorang yang amat ia sayangi. Lelakinya. Meski dengan keadaan yang berbeda, rasa kecewanya mungkin hampir sama.

Amarah yang menggunung dan kecewa yang membuncah ? Tak pelak lagi perempuan itu merasakan sakit yang mungkin pernah di rasakan oleh lelakinya. Tapi dengan alasan yang bertambah satu.

Bagaimana bisa kamu menyalahkanku sehebat itu, saat kamu pun pernah melakukan hal yang tidak berbeda menyakitkan sebelumnya ?

Perempuan itu bukan perempuan tersabar yang pernah ada, namun ia masih bisa berusaha menurunkan oktaf suaranya meskipun emosinya yang sedang ia tahan bukanlah sebentar. Hingga akhirnya pertanyaan perempuan itu pada akhirnya, 

"Aku boleh kecewa sama kamu saat ini ?"
Percayalah, saat perempuanmu telah mengucapkan kata itu, sungguh ia telah kecewa jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan. Tapi, ia berusaha untuk menahan.

Hingga perempuan itu menyadari bahwa kecewanya mungkin sama sekali tidak berarti bagi sang lelaki, karena mungkin pula baginya rasa kecewa yang perempuan itu rasakan, bukan sesuatu yang patut sang lelaki pikirkan. Kecewanya, bukan saja karena lelaki itu melakukan kesalahannya, tapi juga karena ia merasa menjadi perempuan yang tidak seharusnya di perjuangkan lebih oleh sang lelaki.

Tanpa usaha untuk mencoba meredam rasa sakit, berbekal alasan bahwa semuanya hanyalah masalah kecil bagi sang lelaki, perempuan itu mengucapkan kata terakhir yang mampu ia utarakan. Kata sederhana yang membuatnya sejenak ingin berhenti dan mewakilkan semua rasa yang ia miliki.

"Terimakasih."






Jakarta, November 2014
Cerita iseng pada musim hujan di bulan november





Sang perempuan dan harapan barunya.

Sunday, August 24, 2014

Aku ingin nantinya mencintaimu dengan bukan lagi sepenuh hati, tapi sepenuh kehidupan yang aku miliki.

Tapi untuk saat ini, biarkan aku mencoba untuk berbicara hanya dengan diriku sendiri,
berusaha meyakinkan bahwa apa yang akan aku pertaruhkan untukmu, bukanlah hanya ego diri yang berbicara.

Malam itu, bintang seakan enggan menggeliat di langit. Menyibukan dirinya dengan lain hal, hingga perempuan itu tak mampu melihat dimana mereka berada. Tak ada hembusan angin pun rasa dingin, yang biasanya mampu membuatnya merekatkan tangan lebih kencang lagi.

Perempuan itu berjalan dengan gontai, pikirannya---bukan lagi badannya--- mencoba berdamai dengan emosinya yang menderu dan sesekali membuatnya harus merelakan tetes demi tetes air mata turun menjelajahi pipinya. Hingga akhirnya ia sambut dengan usapan lemah tangannya. Pundaknya naik turun, berdampingan dengan isak tangis yang berusaha ia tahan sedemikian rupa. Perempuan itu malu dengan semesta, ia ingin terus terlihat bahagia, menghargai semua kerja keras semesta yang membuatnya bisa berdiri dengan pastinya di antara semua nikmat bahagia yang ia rasakan kini. Berusaha untuk mendiamkan diri dan menghentikan tangis, sepertinya menjadi pilihan terbaiknya.

Terlalu bahagia, terkadang bisa membuat siapapun lupa. Bahwa bahagia juga meletakkan rasa lelah di akhir permainannya. Perempuan itu terlalu sering berlari, berputar dan tertawa bermainkan rasa bahagia yang membuncah dengan kehidupannya. Ia lupa untuk mengistirahatkan sejenak semua sendi tubuh dan hatinya, bukan, ia bukan sedang merasakan sakit yang menghempas, ia hanya merasakan kelelahan mulai merambat di hari-harinya.

Memiliki sesuatu yang baru dan mengamatinya hari demi hari, merespon apa yang dilakukan, serta meletakkan harapan untuk selalu berdampingan. Perempuan itu mencintai dengan membicarakan segala hal tentang hidupnya, berceloteh bahkan dalam diamnya dengan menggenggam hingga tanpa lepas, mengisyaratkan bahwa ia menaruh separuh kepercayaannya.

Hari demi hari, perempuan itu akhirnya mulai menguapkan rasa kelelahan dari dalam dirinya, setitik demi titik mulai menunjukkan keringatnya. Tak pelak lagi, rasa ingin mencoba hal yang baru lagi datang menghampiri. Hal baru seringkali berkilauan, hingga perempuan itu mendekat dan memandangnya dengan berbinar. Tapi, ia sadar untuk segera pulang dan memanjakan segala hal yang telah ia miliki. Perempuan itu tidak ingin sesuatu yang baru atau mungkin hal yang telah lama di tinggalkan untuk merusak apa yang kini sedang ia miliki untuk di jaga.

Rasa lelahnya seringkali diglitik dengan usapan menarik dari segala hal yang ia miliki, mengajaknya seakan untuk berjaga dan terus melindunginya, menghalaunya dari orang lain atau hal baru yang bisa saja merusaknya. Perempuan itu berusaha mengupayakan segala hal yang ia miliki untuk menjaga, hingga terkadang ia lupa dengan dirinya sendiri.

Hingga akhirnya, 

Perempuan itu lupa bahwa ia juga butuh di lindungi dan di genggam erat, merasakan bahwa ada sesuatu yang akan kehilangan ketika ia melangkah pergi. Atau mungkin hanya ingin merasa "dicari" ? Sebagaimana ia berusaha menjadikan segala hal yang ia miliki adalah yang utama. Ketika menomorsekiankan segala yang ia inginkan, untuk segala hal yang miliki.

Perempuan itu menenggelamkan kepalanya dibalik selimut hangatnya kala menghentikan sedunya, mencoba mencari ketenangan diselipan rasa terlindungi walau hanya di dekap lembutnya kapas. Hanya rasa "dibutuhkan" yang teramat besar, yang kini bisa membawanya kembali pulang dan terduduk menjalankan apa yang harusnya ia jalani.

Tapi untuk kali ini, ia meminta semesta sedikit memberinya ruang diantara segala hal kebahagiaan yang ia miliki. Ruang untuk mengambil nafas dan merasakan setiap inci dari dirinya, dan mengegoiskan pikiran hanya untuk memikirkan dirinya sendiri. Mencoba melihat, apakah segala hal yang ia jaga, mampu bertahan meski tanpanya. Ia berjanji untuk selalu ada dan menjaga, kapanpun dan dimanapun, tapi perempuan itu pun tahu diri untuk berubah memutar balikkan arah genggamannya, ketika tahu bahwa segala hal yang ia miliki sudah tidak lagi membutuhkannya. Bukankah sudah hukum alam, bahwa setiap hal akan melakukan perubahan seiring berjalannya waktu ?


Berharap diri dan segala hal miliknya berubah menjadi lebih baik.











Jakarta. Agustus 2014
Sedang bosan dan ingin mengisahkan sesuatu.





Cerita baru tentang kepercayaan perempuan itu.

Friday, July 04, 2014

Kala jari jemariku merindukan selanya diisi olehmu
Kala itu aku menyadari bahwa aku tidak sesempurna itu untuk menahan segalanya.

Kala langkahku terasa goyah ketika berjalan tanpa didampingimu
Kala itu aku menyadari bahwa kehampaan bisa datang dengan sesederhana itu.

Kamu, menjadi alasanku untuk menyadari bahwa alasan termudah untuk meluapkan emosi adalah, ketidakberadaanmu di sisi, atau setidaknya ketiadaan kabar meski hanya berupa pesan singkat.

Kamu, menjadi alasanku untuk menyadari bahwa alasan termudah untuk meredakan amarah adalah, ketika pelukanmu menjadi tempat kembali ternyaman, menjadi penawar dalam emosi.


Tanya perempuan itu dengan berbisik.


Masih ingat tentang perempuan yang menyukai toko buku ? Perempuan itu dan tempat ternyamannya yang pernah aku haturkan kisahnya kepadamu. Aku ingin menceritakan sedikit kelanjutan kisahnya, karena sepertinya telah melewati banyak hari dan cerita baru.

Ini rahasia, bisakah kamu menjaganya ?

Perempuan itu ternyata telah bertemu dengan seseorang, yang kini seringkali mengiringi langkahnya untuk sekedar mengitari tempat kesukaannya. Atau mungkin untuk sekedar menghabiskan waktunya duduk diam menghadap layar ketika film kesukaan sedang diputar di bioskop, mungkin juga ketika kesukaannya untuk menghabiskan semangkuk ramen pedas.

Perempuan itu telah bertemu dengan seseorang, yang bisa ia genggam tangannya ketika melewati hamparan pasir pantai. Juga ketika perempuan itu ingin menghabiskan hari menikmati tenggelamnya matahari.  Ia telah menemukan seseorang yang ia ingin habiskan hari-hari untuk bersandar, mencurahkan keluh kesah, meluapkan emosi ataupun menitipkan hatinya sejenak untuk beristirahat.

Tapi sayang, ketika keegoisan untuk memiliki mengaburkan pandangan hatinya, ia menjadi sedikit lebih arogan dari biasanya. Perempuan itu terlalu buta oleh rasa sakit yang pernah ia rasakan, dulu. Ia mengedepankan rasa takutnya untuk akhirnya membuat jarak antara mereka. Membuat rasa manis mendadak menjadi terlalu hambar untuk dicecap masing-masing.

Tak peduli kini perempuan itu terduduk menahan sakit entah dari fisik ataupun hatinya, perempuan itu merasa ada yang hilang ketika amarah menguasai dirinya. Dirinya sungguh terlalu bodoh untuk menegaskan kenyataan yang sepenuhnya hanya kekhawatiran. Tapi perempuan itu masih berdiri di tempatnya dengan keegoisan. Mengharapkan pengertian tentang rasa sakit, betul begitukah ?

Perempuan itu sudah mampu sedikit demi sedikit mempercayakan hatinya, meletakkannya di genggaman seseorang yang ia tahu bisa sangat menyakitkan bila dihancurkan kembali. Kapan pun itu, ia masih belom siap. Meski hatinya pernah terjatuh dan berserakan tak berbekas, oleh tangan orang lain yang hanya berbalik pergi tanpa ada penjelasan pasti, perempuan itu mampu melekatkan lagi setiap serpihannya untuk bertahan hidup.

Waktu menjadi teman terbaik sang perempuan, untuk memoles kembali hatinya untuk menjadi lebih menarik lagi. Pelajarannya untuk tidak selamanya bisa percaya, seringkali membuatnya menyembunyikan hatinya lebih dalam dari yang seharusnya. Seperti layaknya seorang anak kecil yang tidak ingin tersentuh oleh tangan kotor sehabis bermain dengan kebohongan. Perempuan itu melapisi hati rapuhnya dengan sangat hati-hati. Memilah tangan mana yang bisa ia titipkan ketika ia ingin berlari sebentar tanpa beban, tanpa harus berhati-hati karena hatinya sedang ia bawa dan terlalu rapuh untuk diajak berlarian.

Meski seringkali keraguan menggetarkan dan hampir membalikkan semuanya. Memecah semua balutan kenyataan manis. Karena seringkali juga keegoisan untuk diakui bisa saja memporakporandakan segala rencana, hanya untuk perasaan "termiliki", perempuan itu mencoba melakukan segalanya. Perempuan itu jelas sangat tahu rasanya untuk disembunyikan, dianggap tiada kehadirannya, dilewati seakan alfa, ketika nyatanya ia punya hak pasti untuk dibanggakan dan disadari ada-nya. Ketika ia berhenti melangkah, karena seseorang yang pernah ia percaya, hanya berbalik tanpa menahannya untuk mengucapkan kata selamat tinggal. Perempuan itu tau bagaimana rasanya kenyataan sakit menghantamnya tanpa dia sempat sadari untuk berlari menghindar.

Perempuan itu tidak ingin merasakan sakit lagi, hingga harus merelakan melihat hatinya kembali berserakan.

Tangan seseorang yang menggenggam hatinya, kini memiliki kekuasaan yang sepenuhnya bisa ia lakukan untuk menghancurkan. Tetapi perempuan itu hanya bisa meletakkan hati beserta kepercayaan disampingnya.

Teruntuk lelaki yang saat ini perempuan itu sedang percayakan hatinya, 
Maaf bila memang perempuan itu terlalu egois untuk menyatakan kepemilikanmu atas dirinya. Tak peduli bagaimana dirimu, ia melihatmu dengan percayanya. Karenanya pula perempuan itu sadar, bahwa di dalam dirimu telah ia titipkan separuh tentang kehidupannya. Tentang kenangan maupun impian masa depan.


Karena perempuan itu saat ini memilihmu,
Ketika letihnya terlalu lama terjaga sendiri,
Bisakah kamu menjaga hatinya?




Akhirnya perempuan itu menyatakan akhir dari pertanyaannya.





Jakarta, malam selepas hening tanpa kabar
Backsound : Close your eyes - Michael Buble




Perempuan itu dan tempat ternyamannya

Friday, July 19, 2013





Kakinya melangkah gontai menuju suatu tempat yang menjadi tempat favoritnya di sebuah pusat perbelanjaan, atau mungkin dimanapun. Tempat penenangnya kala tidak tau harus kemana. Dikelilingi oleh jutaan buku, dan itu membuatnya merasa tidak sendiri.

Ada banyak kenangan yang tertinggal disana. Iya. Di toko buku yang sedang ia kunjungi. Pertama kalinya ia bertemu seseorang, yang pernah mengisi hari-harinya. Pertama kalinya pula ia tahu bahwa kedepan hidupnya tidak akan sama lagi. Pertama kalinya ia merasa rumah bukan hanya tempat yang selalu tenang, tapi bisa ia temukan dimanapun, bahkan ditengah keramaian. Pertama kalinya ia bisa memilih yang ia mau. Pertama kalinya ia berkata pada dirinya bahwa ia akan selalu kembali. Pertama kalinya, ia jatuh cinta dengan segala yang telah ada, namun semoga ini tidak menjadi yang terakhir baginya.

Perempuan itu masih perempuan biasa yang sangat suka menghabiskan waktunya berjam-jam hanya untuk memilih beberapa buku terbaiknya. Untuk di baca dan di bawa pulang. Masih saja perempuan itu, perempuan yang berharap bisa menemukan seseorang untuk bisa menemaninya berkeliling di sana. Seseorang yang bisa menjadi tempatnya berdiskusi tentang buku yang sedang ia pilih. Karena terkadang, perempuan itu terlihat bagaikan seseorang yang linglung, terlalu banyak pilihan memang seringkali membuatnya gamang untuk menentukan pilihan. Meski pada akhirnya ia harus memilih yang terbaik.

Cerita di balik sebuah buku menjadi salah satu syarat pemikiran matangnya untuk memilih. Perempuan itu tidak mau lagi tertipu oleh kemasan luar sebuah buku, karena beberapa kali ia merasa tertipu hanya karena sesuatu yang manis diluar tetapi di dalam tidak ia temukan cerita yang menarik. Cerita yang mampu membuatnya tak berhenti menatap, meski ia tau matanya letih untuk membaca. Cerita yang mampu membuatnya bertahan untuk menggenggam, meski ia tau bahwa ia butuh istirahat meski sejenak. Jadi, “Don’t judge a book by it’s cover” mungkin bisa dipertimbangkan ke absahannya.

Pilihan mulai dari yang berada paling dekat dengannya hingga berada di rak paling belakang, membuatnya harus memutar langkah hingga mencapai rak paling akhir. Masih saja perempuan itu membolak-balikkan buku atau halaman yang tertera di hadapannya. Memilah dengan teliti.

Perempuan itu sangat suka toko buku. Masih suka hingga sekarang. Bawa ia kesana dan ia bagaikan seorang putri yang menemukan tempat rahasianya. Bagaikan seseorang yang menemukan tempat ternyamannya untuk singgah. Tak pelak terkadang ia terlihat sedang tersenyum ketika membaca cerita yang lucu, atau merengutkan dahinya untuk mengartikan cerita lainnya. Baginya memilih buku yang terbaik dan pantas untuk dibaca itu tidak mudah, butuh proses sebelumnya. Begitu pula dengan hidup, bukan ?

Impian selanjutnya adalah menemukan seseorang yang tepat untuk ia ajak singgah di tempat rahasia sekaligus tempat ternyamannya. Seseorang yang mungkin saja ia cari bagaikan memilih buku terbaiknya, di sebuah toko buku. Toko dengan segudang kisah.







Masih tentang perempuan itu.

Thursday, July 18, 2013

"Harus memulai kembali dari awal. Harus bisa, dan pasti bisa." Ucap perempuan itu lirih di sela helaan nafasnya yang berat.

Belaian angin malam seringkali menemani kehidupan malam sang perempuan. Berbekal segelas cokelat hangat dan laptopnya yang menyala. Kembali ia menumpahkan rasa yang ia miliki kedalam jurnal hariannya. Perempuan itu hanya perempuan biasa yang sangat mencintai dunia menulis. Ceritanya tentang masa lalu, kini dan impian yang akan datang, menjadi cerita yang berbeda dan bermakna untuknya. Baginya cerita tentang kehidupan itu seperti rasa permen, bermacam-macam, dan tak akan pernah cukup waktu untuk merasakannya.

Perempuan itu selalu bermimpi tentang seseorang, yang suatu saat nanti bisa menemaninya menghabiskan hari untuk bercerita tentang banyak rasa dan berakhir dengan membaca cerita yang pernah ia tuliskan. Baginya seseorang yang ia akan cintai kelak, harusnya adalah seseorang yang mencintainya beserta cerita-ceritanya. Tak peduli bagaimana bodohnya kisah itu.

"Kalau dia saja tidak bisa mencintai goresan tanganku, bagaimana dia bisa mencintai asal muasal cerita itu terbentuk ? Diri dan seluruh hidupku." Perempuan itu menjawab dengan tenangnya, ketika seseorang bertanya mengapa ia memiliki kriteria seperti itu.

Seringkali perempuan itu bercerita tentang pahitnya menunggu dan tertatihnya ketika bangkit dari luka. Bukan karena ia senang mengungkap aib hatinya, tapi ia hanya ingin merasa bebas dan menghargai rasa sakit yang telah menyempatkan diri untuk singgah dalam cerita kehidupannya. Entah sudah berapa banyak lembar kehidupannya ditemani oleh isak tangis dan bulir air mata yang menetes. Tapi ketika akhirnya ia bersimpuh dalam sujud dan mengangkat tangannya dihadapan sang Maha Pencipta. Perempuan itu tahu, bahwa dirinya masih mampu untuk berdiri kembali.

Janji manis dan kejadian menyenangkan dalam hidup ? Tentu saja perempuan itu masih membingkainya dengan hangat di setiap sudut otaknya. Tawa yang terselip dan membuncah hebat ketika apa yang perempuan itu impikan satu persatu menjadi nyata. Bukan hanya karena usahanya sendiri, tapi banyak orang-orang yang bahkan tidak dia duga sebelumnya, mampu membantunya mewujudkan itu. Campur tangan Tuhan ? Tentu saja selalu ada. Hangatnya pelukan mereka yang menyayangi perempuan itu, seakan menjadi bahan bakarnya untuk selalu tetap tersenyum, meski air mata menggantung ingin segera mendobrak keluar.

Masih tentang perempuan itu. Masih tentang kesukaannya menulis tentang apapun. Masih tentang helaan napasnya yang seringkali tak teratur, ketika terlalu emosi dalam menggoreskan kisahnya. Masih tentang harapannya dalam mencari seseorang yang ingin duduk disampingnya dan menghabiskan waktunya untuk bertukar rasa, dan tak bosan membaca cerita-ceritanya.






 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS