Surat untuk Ibu — Delapan belas

Wednesday, May 20, 2026

 Assalamualaikum, Ibuku…


Cintaku, ini tepat tahun ketiga kami tidak bisa lagi mendengar suaramu. Memelukmu. Mengajakmu sekedar makan siang di rumah makan, membelikanmu sushi dan sashimi kesukaan, melihat pesan singkat atau telepon masuk atas namamu, meminta doa dan restu untuk menyelesaikan satu persatu masalah hidup.

Bu, pagi hari ini hujan turun deras sekali. Kakak enggan bangun dari kasur, lelah sekali rasanya. Ingin istirahat seharian. Beberapa hari lalu juga Kakak sempat telepon Ayah, rasanya penuh sekali isi pikiran dan hati. Kakak rindu rumah, meskipun tetap di sana, cuma rasanya pulang ga akan pernah sama lagi, bu.

Banyak sekali hal yang ingin Kakak ceritakan, banyak sekali. Tapi saat lihat halaman kosong ini, entah harus dari mana Kakak memulainya. Hapus…. Ketik…. Hapus… gitu aja terus.  

Walaupun ga ada lagi doa Ibu, semoga Kakak bisa ya bu jadi lebih baik. Kakak bisa memafkan apa yang harus kakak Ikhlaskan. Waktu Kakak yang tidak pernah bisa panjang untuk bertemu saat masih ada, dan saat Kakak tidak mampu berlari lebih cepat saat waktu kita sudah semakin menipis. Ketidakmampuan Kakak, semoga tidak menyusahkan Ibu. Terimakasih ya kemarin sempat datang ke mimpinya Kakak, seneng deh, walaupun bangun-bangun mata Kakak sembab banget rasanya. Tapi seakan Kakak bisa cerita, bisa peluk, bisa liat Ibu langsung. 

Semoga makin bertambah harinya, gak membuat Kakak melupakan suara Ibu, ya. Lebih baik Kakak bawa saja rindu dan dukanya setiap hari, membiasakan hari dengan rasa rindu yang akan Kakak bawa entah sampai kapan. Sulit, bu. Tapi biarkan Kakak coba lagi ya setiap harinya.

Tapi hari ini,

Hanya hari ini,

Kakak minta sedikit kelonggaran ke Tuhan. Bukan tidak mampu mengikhlaskan, tapi hari ini Kakak ga bisa dulu buat bertahan seperti biasanya. Maaf ya, bu.

Peluk cium Kakak, masih akan terus Kakak berikan, tapi bentuknya doa penuh harap ke Tuhan. Terselip juga rindu yang panjang. Semoga Tuhan sampaikan ya, bu. Kakak kangen Ibu.


     

Mei, 2026

3 tahun selepas cintaku terlelap di sisi Allah SWT



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS