Showing posts with label Kotak Rasa. Show all posts
Showing posts with label Kotak Rasa. Show all posts

Surat untuk Ibu — Satu

Thursday, June 08, 2023

 

“Assalamualaikum, ibuuu”

Masih terekam dengan jelas bagaimana kelakarmu, agar anakmu ini tidak lupa mengucapkan salam ketika memulai atau mengakhiri percakapan.

Tulisan ini tepat kakak tulis di 20 hari semenjak kepergian ibu.

Semenjak kakak udah ga punya cara lain untuk berbicara, selain selalu memohon kebesaran Tuhan dalam menjaga ibu selepas sholat. Semoga doa kakak dan adik-adik, bisa memeluk dan menjaga ibu dalam keheningan paling dalam, ya.

Maaf ya bu, kemarin kakak sempat telat untuk datang dan tidak sempat melakukan ritual yang berulang kali kakak lakukan ketika pulang; Cium punggung dan telapak tangan Ibu berkali-kali, dan mencium dahi-pipi mu juga berulangkali. Hanya bisa sekali, bahkan kakak tidak mampu keras kepala untuk melawan mereka yang menahan kakak melakukannya ketika ingin lebih, “Ikhlasin, jangan sampai air matanya kena ya”. 

Lucu ya, bahkan kakak harus menahan diri di detik terakhir yang berjalan seakan begitu cepat.

Berat, bu.

Padahal ucapan terakhir kakak sebelum pamit ke bandara sebelumnya, “kita belum sempat cerita banyak”. Terlalu sibuk menyiapkan perhelatan lebaran hari raya Idul Fitri, yang siapa sangka… be our last eid.

Maaf kakak belum bisa jadi anak yang Ibu andalkan ketika harus bolak balik rumah sakit, berulangkali malah diwakili oleh adik-adik. Bahkan seringkali kakak telat mengetahui bahwa Ibu sedang rawat inap, karena tidak ada satupun yang mengabari. Takut kakak khawatir ya? Maaf ya, sudah buat Ibu dan semuanya merasakan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Seringkali Ibu melayangkan protes karena kakak jarang memberi kabar meski jauh. Karena kakak pasti akan bercerita tentang banyak hal, yang mungkin saja membuat Ibu akan terus memikirkannya. Cukup sejauh ini Ibu tau bahwa kakak di sini baik-baik saja, dan bersama orang yang tepat.

Bu, semoga kakak bisa membedakan tangis sesak yang memang dalam ingin mengingat, atau ketidakikhlas-an yang menganggu. Semoga yang kakak lakukan tidak membuat Ibu resah di sana.

Bu, nanti kakak cerita lagi lebih banyak ya. Banyak hal yang mau kakak sampaikan. Sekarang mau siap-siap dulu menjelang maghrib dan mengirimkan doa untuk Ibu. Kakak gak mau kalah, karena kemarin sore adik-adik sudah menaburkan bunga di pusara Ibu. Cantik.

Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā.
"Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil."


BSD, Menjelang malam Jum’at

Tepat 20 hari Ibu tertidur dalam pelukan Tuhan.










Please, stay.

Wednesday, July 26, 2017




Entah Kenapa belakangan ini marak sekali berita tentang kasus bunuh diri yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Bahkan dengan rentang jarak waktu yang tidak terlalu lama, aksi ini bahkan dilakukan oleh mereka yang terbilang masih muda. Alasannya ? Bahkan beragam. Mulai dari karena sakit hati, hingga depresi. Bahkan tidak pandang jenis kelamin, baik itu wanita maupun pria.

Disini, saya cuma bisa membaca berita yang muncul di berbagai media dengan mencoba menelaah maksud dan tujuan para pelaku. Merasa legakah mereka sekarang atas hasil dari apa yang sudah mereka lakukan ? Ataukah hanya itulah cara yang paling aman dan masuk akal, yang mereka bisa lakukan untuk mengakhiri segala rasa sakit ataupun masalah yang mereka rasakan? Just wondering.

Tidak mencoba untuk menyalahkan para pelaku ataupun mereka yang disebut sebagai penyebabnya. Tapi ya, bukankah untuk setiap asap akan selalu ada api yang menjadi sumbernya ? Baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sedikit bercerita dan berbagi kisah, entah depresi atau tidak. Bukankah hampir setiap manusia pasti akan merasakan namanya sakit hati, ataupun merasa keadaan sedang memburuk ? Begitupun saya, manusia biasa. Pasti pernah. Memiliki masalah yang kalo diperumpamakan adalah “Gak berdarah, tapi kok sakit ya ?”. Bermacam-macam alasannya. Tapi satu hal yang pasti adalah, yang paling berkemungkinan untuk menyakiti seseorang dengan hebat, adalah mereka yang paling dekat dengannya,  right ?

Dengan segala asumsi dan kesotoy-an saya, entah kenapa saya merasa bahwa mereka yang se-depresi itu hingga terpikirkan untuk melakukan aksi bunuh diri. Pasti sudah se-sakit dan se-buntu itu untuk mengetahui arah ujung hidupnya. Feels like no one to staying beside them, padalah gak perlu melakukan hal bermacam-macam. Cuma untuk tetap ada dan memastikan bahwa suara mereka yang gemetar itu akan selalu ada yang mendengar, entah sebenar atau sesalah apapun itu. Ataupun sekedar untuk bersuara, “It’s okay to be not okay, let it out” dan menepuk pundak mereka. Karena rasa apapun itu dan beban sebesar apapun yang mereka rasakan, bisa jadi adalah sebongkah batu besar yang terbentuk tidak hanya dalam satu hari. Tertahan, tanpa sempat memecah dan membelah diri terlebih dahulu.





Mungkin juga mereka tengah mencoba untuk membangun dinding ke-optimis-an yang sempat runtuh, beberapa dari mereka mungkin akan bisa menyelesaikan tepat waktu hingga membentuk kastil yang tangguh, namun beberapa dari mereka memiliki lebih banyak terjal, hingga akhirnya tak sempat menyelesaikannya. Bukan hanya satu, tapi banyak. Bahkan dengan salah satu alasannya adalah untuk tidak menambah beban orang lain, mereka menahan apa saja yang sudah sewajarnya mereka muntahkan, tapi lagi-lagi harus mereka telan bulat-bulat. Tanpa sisa.

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang menginginkan kehadirannya untuk menjadi beban bagi orang lain. Tapi entah kenapa, rasa itu akan muncul. Persepsi negatif yang mereka miliki akan diri sendiri, adalah buah hasil dari apa saja sikap yang mereka terima di setiap harinya,entah itu dari lingkup keluarga maupun yang lebih luas lagi. Beban akan lingkungan sekitar yang menuntut mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan perlakuan dimana mungkin kurangnya rasa apresiasi ketika mereka menang, dan tiadanya tempat kembali yang memaklumi ketika mereka pernah salah karena telah berani untuk mencoba. Tanpa perlu banyak tuduhan, tudingan hingga sikap yang menyudutkan baik secara verbal ataupun fisik. Because no one who knows best than other, but themselves.



Akan selalu ada luka yang mungkin tinggal dan tak terlupakan, untuk setiap penolakan yang mungkin secara tak sengaja orang lain lakukan. Penolakan untuk diterima, penolakan untuk didengar, hingga penolakan untuk sekedar berbagi cerita atas alasan apapun, entah sebenar atau setidak masuk akal apapun itu. Sehingga mereka akan menutup diri lebih rapat dari sebelumnya. Karena bukankah sudah menjadi sifat alamiah, untuk melindungi diri dari sesuatu hal yang sekiranya pernah menyakiti, mengantisipasi agar tidak merasakan sakit yang sama untuk kesekian kalinya.

Perihal kasus bunuh diri hanyalah satu dari banyak hasil pemikiran salah yang akhirnya "dibenar-benarkan" oleh sang pelaku, dan masih banyak lagi sikap yang seharusnya tidak dilakukan namun terjadi di sekeliling, ketika kita mungkin lebih bisa membuka mata.

Jadi, untuk mengantisipasi akan kejadian yang sama terjadi pada mereka yang kita sayangi, mungkin jangan lagi terlalu menyalahkan siapapun ataupun lemparan tanya kenapa mereka sebelumnya tidak pernah bercerita ketika semuanya terlihat sudah terlambat, karena mereka sendiri pun adalah korban. Lebih baik mulai tanyakan pada diri kita masing-masing. Apakah kita sudah memberikan sedikit waktu tenang untuk menerima dan mendengarkan mereka?



Yuk, belajar sedikit lebih menerima dan mendengarkan dari biasanya.









Jambi, Akhir July 2017

Ketika tanda tanya dan rasa sedang bergumul menjadi satu, dan postingnya berhubungan dengan bahasan sebelumnya.
#stophatred #stopmentalillness






Surat untuk diri sendiri di tahun mendatang - Part 1

Thursday, April 20, 2017

Teruntuk diriku sendiri, di lima atau sepuluh tahun mendatang.

Hai, bagaimana keadaanmu hari ini ? apakah akan lebih baik daripada hari ini ?
Apakah kebebasan bertindak yang seringkali kamu impikan, sedikit bisa terwujud ?
Semoga saja, “Iya” jawabmu meski sambil berbisik.

Jika pada hari ini, terbaca olehmu post usang yang tertulis kala usiamu masih 25 tahun. Usia seperempat abad yang menuntutmu memiliki banyak pencapaian lebih dari adik-adikmu. Untuk membuktikan bahwa keluarga—terutama kedua orangtua—sukses mendidik anaknya. Akan ada sedikit pengingat untuk diri, yang mungkin sekarang telah memiliki jauh lebih banyak tanggung jawab. Keluarga kecilmu dengan Dia yang kamu sayangi.

Apakah telah ada malaikat kecil sebagai pelengkap hari ? Bagaimana rupanya ? Lucu dan menggemaskan ya sepertinya. Sebagaimana tingkah diri yang seringkali diceritakan oleh keluarga dan mereka yang acap kali menimangmu ketika masih kecil. Pasti telah banyak pemikiran dan impian-impian yang diri dan Dia rumuskan untuk masa depannya. Seru sekali memikirkan bagaimana pencapaian itu akan terjadi dengan dibarengi langkahmu di sisinya.

Sebelum semua hal selesai diterapkan,  satu hal pertama yang akan aku ingatkan; 
Jangan biarkan malaikat kecilmu selalu menuruti apa maumu. Biarkan ia mengambil langkah yang ia inginkan, hargai dan dukunglah.

Jangan biarkan segala hal yang tidak mampu diri sendiri lakukan pada masa lampau, menjadi tolak ukur untuk segala hal baik yang harus malaikat kecilmu lakukan. Ia tidak pernah memilih untuk menjadi seseorang yang akan mengemban tanggung jawab atas ketidakmampuanmu di masa lalu. Jadi, jangan jadikan ia salah satu jembatanmu, kecuali ia menginginkannya.

Jangan selalu mengambil alih segala pilihan yang akan ia tapaki kedepannya dan membuatnya terkesan untuk diam tak bisa mengungkapkan pendapat, sebagaimana yang pernah diri sendiri pernah alami. Karena ketika nanti ia dewasa, ia akan sedikit kesusahan dalam mengambil keputusan-keputusan untuk hidupnya. Biarkan ia belajar bertanggung jawab sedari dini untuk segala keputusan yang ia ambil. Ajarkan ia bahwa dirinya sendiri adalah pribadi yang harus dihormati pandangan dan keberadaannya, tidak hanya orang lain. Hingga nanti yang ia sadari, bahwa tidak mudah bagi orang lain untuk mempengaruhi prinsip hidupnya, ataupun mencemooh pendapatnya. Karena ia tau bahwa dirinya seberharga itu, dengan porsi yang seharusnya. Tidak kurang, pun tidak berlebihan hingga mengecilkan orang lain.

Tidakkah ingat bagaimana di malam-malam tertentu, upaya diri untuk tertidur malah berujung berbagai macam evaluasi diri atas segala hal yang tidak selesai diwujudkan. Membuatmu menangis, mengutuki ketidakmampuan dan berakhir dengan keinginan lari dari segala tanggung jawab. Jangan sampai malaikat kecilmu mengalami hal yang sama. Biarkan ia bersyukur untuk segala kekalahan atau kemenangannya di kemudian hari, dengan sepenuh hati bahwa dirinya sendiri juga menyumbangkan langkah untuk mengambil keputusan besar tersebut. Dan tak lupa rasa haru yang menyelimuti untuk menyadari bahwa dirinya telah didorong dan didukung penuh oleh keluarga kecil yang teramat menyayangi dan menghargai segala keputusannya, sedari awal.

Pertimbanganmu mungkin akan jauh diatas dari ia yang belum mengetahui apapun, tapi setiap manusia akan selalu memiliki keinginan atas kebebasannya sendiri. Belajarlah dari dirimu sendiri yang 25 tahun telah hidup dan masih menginginkan kebebasan tersebut.

Cukup berikan pandangan lain dari setiap langkah yang akan ia tuju, tidak selalu bicara akan batasan
Cukup berikan jalan yang entah akan lebar atau sempit, setidaknya berikan Ia tempat untuk menapak
Cukup berikan Ia ruang untuk mengambil alih tanggung jawab dan menyelesaikannya
Cukup berikan Ia pelukan ketika lelah terlihat saat ia berusaha, ucapkan bahwa apapun pencapaian baik yang ia lakukan adalah kebanggaanmu
Cukup ajarkan hal tersebut untuk menjadi kebiasaan pada diri sendiri.

Bebaskan ia dengan sewajarnya, sebelum ia memaksa untuk lari darimu, dan menghukum diri tak berkesudahan.






Backsound : Dive - Ed Sheeran
Ketika ingin belajar untuk mencintai  seseorang dengan  memberikannya kebebasan seperlu yang ia inginkan.






WHAT IF - Terimakasih untuk hadir


Jika saja memang benar bahwa cupid itu ada, tolong sampaikan rasa terimakasih yang tak berkesudahan untuknya. Karena panahnya, saya kembali menjadi seseorang yang penuh harapan.



Ternyata memiliki hidup yang seakan bermimpi tak bertepi, terasa sedikit agak melelahkan. Seperti itulah rupa beberapa waktu terakhir yang saya miliki. Ingin bermimpi, tapi lelah. Ingin terbangun, terlalu bosan akan pengulangan kebiasaan.


Hingga akhirnya tiba waktu sang Universe dan segala permaianannya, Tuhan dan segala bentuk karunia-Nya. Seringkali usil dan mencoba membuat saya tersipu dengan semua kemungkinan yang hampir tidak pernah dipikirkan. Jangankan terpikir, membayangkan saja  tak sampai.

Saya merasakan kembali satu titik di priode kebahagiaan dalam hidup. Pengulangan yang saya pikir, tidak pernah akan sama. Tidak banyak letupan kasmaran yang mungkin seringkali ditemui di kisah kasih semasa sekolah, ataupun perangai jatuh cinta yang menginginkan keberadaan 24 jam di sekitar kekasih. Sama sekali tidak banyak, bahkan jarang sekali terjadi.

Letupan yang saya temui adalah perasaan tenang ketika harus berbulan-bulan menempuh hubungan jarak jauh, bukan lagi harus resah takut akan kehadiran pihak ketiga, dan seterusnya. Bagaikan menemukan anak tangga hidup yang hilang, karena memiliki pasangan yang mencoba membantu saya menggapai, apa saja yang telah dan akan saya mulai. Letupan perasaan senang ketika akhirnya waktu pertemuan tiba, dengan sesekali pertanyaan ke diri sendiri, bahwa ternyata berpuluh purnama seringkali tidak terasa akan berakhir. Timbunan rasa lega untuk menikmati rasa dicemburui dengan sewajarnya, dan dibebaskan dengan sepantasnya. Tak lupa rentetan rasa syukur dan senyum, kala ada yang berbahagia akan kehadiran saya dan khawatir akan ketidakberadaan saya, bahkan tak henti berucap, kamu datang di waktu yang tepat”.

Segalanya terasa jauh lebih mudah dari yang seharusnya. Seringkali merasa sedikit takut, bahwa kebahagiaan akan cepat sekali berakhir justru ketika tanpa persiapan sama sekali. Tapi sekali lagi, ada genggaman yang menguatkan, seakan berkata bahwa meskipun saya berbahagia, sedikit adu pendapat dan emosi akan selalu dibutuhkan. Karena apapun yang akan terjadi kedepannya, bahkan perseteruan singkat pun akan menjadi hal yang dirindukan, bukan lagi menjadi salah satu alasan untuk menyerah.

Meskipun seringkali menahan diri untuk tidak berharap terlalu tinggi, tetapi selalu saja ada alasan untuk akhirnya merapal doa semakin jadi.


“Ya Allah, bila memang tidak semudah itu, maka kuatkan dan tak lupa, lancarkan.”









Throwback Story from April, 2018
To someone who always wondering,
Me and Myself







Perihal semestinya hati

Sunday, April 02, 2017

Mencintai sesuatu itu tidak pernah mudah. Karena tidak semua yang me(ngaku)cinta memiliki hati, dan yang memiliki hati tidak selalu bisa mempergunakannya dengan semestinya. – Myta





Seperti halnya menulis sesuatu yang sudah menggunung di otak, tidak pernah mudah. Terkadang inginmu tidak selalu bisa berjalan dengan mulus. Entah waktu yang tidak memadai, atau memang akan kalah dengan hasrat lelah ingin melakukan hal yang lain.

Seperti halnya juga ketika kita jatuh dan mencintai seseorang yang mungkin sudah terasa bagaikan cinta mati, bila jauh adanya rindu dan dekat adanya rasa ingin selalu bersama. Padahal untuk berbicara tentang cinta, tidak akan terlepas dari bagaimana proses penitipan hati seseorang kepada pemilik yang lain. PE-NI-TI-PAN, judulnya. Tapi seringkali tidak dijaga dengan baik, bahkan dikembalikan dengan kondisi yang hancur tak bersisa, ataupun banyak retak yang tak wajar. Kamu pasti pernah merasakannya, meski hanya sepintas. Sayangnya, penitipan itu tidak disertakan garansi untuk menggugat bila ada kerusakan, hanya bisa pasrah menerima adanya.

Bagi yang mengaku cinta, tidak semuanya memiliki hati pada tempatnya. Bisa jadi karena pertimbangan waktu yang dijalani sudah terlalu lama, merasa punya janji dengan keluarga,atas dasar senang memiliki banyak fans dan lain sebagainya. Terlalu banyak, miris. Bisa jadi hati yang dimiliki, hanya sebagai kamuflase untuk mematikan pertanyaan masyarakat. Meskipun memang tak sedikit juga yang memang menjatuhkan hatinya dengan sedalam-dalamnya, kepada pasangan hatinya.

Maka benarlah bila ada pepatah yang berbicara bahwa sepahit-pahitnya memiliki harapan, adalah harapan kepada sesama manusia. Bukan tempat terbaik meletakkan cinta yang sesungguhnya, tapi seringkali kita lupa dan terlena untuk mendapatkan kepuasan sesaat. Kepuasan yang diberi label sendiri; kebahagiaan yang lebih berdua. Tapi terkadang malah berakhir dengan berjuang sendiri.

Walaupun mungkin kamu, kamu ataupun kamu memiliki hati, yakin sudah kamu gunakan dengan semestinya ?

Bila memang sudah, yakin telah meletakkannya pada orang yang sepantasnya ?

Karena seringkali kita—bahkan sayapun juga—tidak mempergunakan hati dengan seharusnya. Mengubah diri menjadi lebih egois dan berubah untuk sedikit mengendurkan rasa cemas untuk diri sendiri, tapi menambah rasa takut kehilangan yang luar biasa untuk orang lain. Membangun dinding harapan yang tinggi, tanpa melihat apakah ada yang bersiap untuk membangun bersama, bukan malah memilih menjaga sendirian, tanpa sadar bahwa dinding itu bisa saja runtuh tanpa ada alasan.

Selelah apapun rasa yang sudah dimiliki, tidak kunjung jua meletakkan hati yang salah. Terus saja memaksakan kehendak, hingga akhirnya kehabisan daya untuk mendorong hanya dari satu sisi. Bodohnya.

Maka, bersyukurlah kamu yang mungkin sudah menemukan hati yang sebaik-baiknya pemilik. Kamu lulus dalam ujian untuk mempergunakan hati dengan sebagaimana mestinya.

Berbahagialah,
Dan jagalah.






Jambi, April 2017
Backsong Biarlah - Raisa





#SuratUntukFebruari

Thursday, February 02, 2017



Surat untuk februari ini akan saya dedikasikan untuk luka lama yang terkadang terlintas, tapi nyerinya sudah tak lagi mengganggu meski sepintas.



Hai ...
Lama tidak berjumpa, kamu, yang berbelit akan rasa pedih yang merintih. Luka lama yang kini sedang saya perbincangkan sudah tidak terasa lagi, meski didendangkan dengan mata terbuka dan alunan lagu kesukaan. 

Kilas balik, kamu, adalah yang pernah menjadi alasan utama untuk setiap tetes air yang jatuh dari sudut mata. Pencetus pertama untuk ketidaknyamanan ketika tertidur, hingga rasa paling tidak bisa teraba meski hidangan yang tersaji di depan mata adalah apa yang disuguhkan dengan segenap cita.

Duka, adalah nama panggung yang lupa untuk di sebutkan, tapi lambat laun saya mengerti adanya. Berperan sangat tak diduga, menjadikan hidup seorang anak manusia berubah genre; parodi dengan tawa getir yang melintir. Sialnya, memang sebuah "luka lama" yang tidak akan pernah saya harapkan kehadirannya, tapi selalu tak pernah lupa untuk berkunjung di akhir cerita. Satu demi satu pemain bernafaskan kamu, mencoba memporakpandakan sebuah angan yang sudah membubung tinggi. Sayangnya, rencana itu berhasil sempurna dan menjatuhkannya kembali dalam bentuk serpihan, tak bersisa. 

Tanya saja bagaimana sebuah genggam yang dulu melekat erat, perlahan-lahan mengendurkan diri tanpa perlu diminta lagi. Bagaimana sebuah perjuangan untuk mendobrak sebuah pintu jati diri, akhirnya lelah dan beranjak pergi.

Meski seringkali candu akan bibirmu yang melepaskan aksara cinta dan tawa, tanganmu yang penuh sentuhan mesra, matamu yang merefleksikan masa demi masa, ataupun langkahmu yang seringkali menyeimbangkan rasa. Saya memilih untuk pamit diri, berkubang dengan segala yang pedih ternyata mampu membuat jiwa terkikis sedih.

Kembali, saya mengingatkan, berbahagialah.
Lahirlah menjadi sebuah alasan untuk senyum lain yang tak pernah lagi patah.
Tak perlu lah sering mengenang yang mungkin lebih baik terduduk di sudut dengan tenang.
Cukup jadikan sandiwara yang pernah menjadikan kita pemain utama, sebuah cerita yang harusnya terlintas tanpa terasa kebas.
Begitupun saya, kini sedang bersiap untuk bertemu hari demi hari yang semoga tidak pernah memakamkan diri.








Jambi, Februari 2017
#SuratUntukFebruari pertama







Kisah dunia baru sang perempuan dan sepasang lengan

Tuesday, May 03, 2016

Untuk hari-hari yang mulai tidak bisa perempuan itu raba penghabisannya, dan ketiakpastian yang menggelayuti, ia menuturkan cerita singkatnya...


Beberapa hari belakangan, perempuan itu menemukan dunia barunya.
Dunia dengan segala nuansa baru dan pengalaman yang mungkin terbilang mampu mencetak tiap degup baru di tiap harinya. Ia menikmatinya, seakan ingin berselimut manja hingga tidak terbangun dan menjejakkan kaki di dunia lain.

Layaknya sekedar mimpi, segala yang ia seringkali ucapkan di kabulkan oleh sang pencipta alam semesta, yang mana dengan jahil-Nya menjadikan ucapnya menjadi begitu nyata. Dengan langkah ringan di tiap harinya, perempuan itu menunjukkan riangnya dalam kuluman senyum yang tiada padam.

Hingga suatu ketika, sang perempuan dihadiahi sepasang lengan yang mampu menangkup hari-harinya, menimbun laranya dan seraya menunjukkan jalan lain yang ia kira tidak akan pernah ia lewati. Terlalu berkabut, terlalu jauh, dan masih banyak pikiran lainnya yang perempuan itu pikirkan sesaat sebelum menapak. Sepasang lengan berwujud dan merupakan kado dari sang Pencipta, terus mencoba mengajaknya menapak satu persatu, meyakinkannya bahwa setiap permulaan akan menuju akhir, meskipun akan selalu ada jarak yang mesti di tempuh.

Dunia baru yang semula membuatnya terus berjalan dengan degup jantung tak beraturan, kini berdampingan dengan jalan setapak dengan jarak yang tidak terukur. Sepasang lengan itu pula ternyata mampu menggenggam tangan dan keyakinan sang perempuan sedikit demi sedikit dengan lebih erat. Sungguh luar biasa, sepasang lengan yang baru hadir mampu membawanya melangkahi banyaknya terjal ketidakyakinan. Membuatnya seketika limbung dan terlalu mabuk atas egonya, ia pun memilih untuk menggandeng keduanya, karena ia mulai mencintai segala hal tentang dunia baru dan jalan setapak yang di tawarkan oleh sepasang lengan dan berbeda kehidupannya tersebut.






*plak*

Mendadak kenyataan menggoncangnya dengan tamparan. Memutarbalikkan kenyataan. Bahwa akan selalu ada hal tak terduga di setiap perjalanan. Tidak peduli bahagianya sang perempuan. Akan ada segelintir perih yang membayangi, bahkan rasa rindu untuk mencapai hari esok dalam pertemuan selanjutnya adalah semacam belati yang terus menancap dalam ingatan -- membekas dan memberikan rasa sakit tanpa teraba oleh indera -- dan ternyata sang perempuan tidak menyadarinya sedari awal. 

Sungguh kasihan. Perempuan itu terlalu yakin dan lupa bahwasanya sepasang lengan itu bisa saja terselip dan mendadak terlepas, hilang di tengah kabut, diantara jarak yang membentang yang sedari awal ia yakinkan bahwa akan terasa lebih dekat daripada kelihatannya. Membuat jarak yang ada semkin membentang dan menjauh. Begitu juga dengan dunia barunya yang terus berputar, dan kini ia merasakan rasa kelam saat gelap datang.

Tersudutlah sang perempuan dalam dua sisi yang ia sayangi, sekaligus memaksanya untuk mengerti. Bahwa kehilangan dan ketidakpastian di tiap harinya akan selalu berkemungkinan untuk terjadi. Merelakan salah satu adalah jalan tengahnya.
Membuatnya harus segera mematikan rasa peduli.
Sebelum seluruh rasa yang ia miliki habis dibawa lari.





"Hanya sekedar mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata dan menyakitkan..."


Sang perempuan itu terbangun, meraba pipinya, menghapus air matanya, menyadari bahwa cerita sebelumnya memang hanyalah sekelebatan mimpi, tepat sebelum banyak keputusan besar yang ia harus ambil. Menatap jam dinding dan keluar jendela, menyadari ternyata ia sudah terlelap begitu lama. Cukup lama untuk mengenyampingkan kenyataan. Kini ia merapikan kembali dan menjaga setiap inci kesadarannya, hingga tidak boleh terlelap.






Jambi, Mei 2016
Ketika rindu untuk menulis sudah menumpuk, namun waktu yang semakin menipis.








Pernah. Di suatu waktu.

Friday, March 11, 2016

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki dengan kata cinta yang jarang terucap, bukan berarti ia tidak cinta. Tetapi perempuan itu menyadari bahwa segala perbuatan sang lelaki. Hanyalah untuk membahagiakannya. Meski terkadang caranya cukup sulit untuk dimengerti dengan sekali waktu. Butuh di pelajari setiap hari.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang jarang tersenyum, layaknya para lelaki lain yang memberi angin segar bagi para wanita yang mencintainya. Tapi ketika ia tersenyum meski hanya sekilas, perempuan itu tau bahwa lelakinya berbahagia lebih dari itu. Dan ia tau bahwa senyum terbanyaknya hanya milik orang yang lelaki itu cintai.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak terlalu suka dengan keramaian. Karena baginya tidak perlu ramai, bila pelukan tiada henti bisa mewakili salah satu quality time. Lelaki itu terkadang lebih suka menghabiskan waktu hanya berdua, tanpa ada interupsi dari dunia lainnya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak pernah melarang perempuannya dalam mengejar segala mimpinya. Tidak peduli dimana, asalkan sang perempuan tetap meletakkan ia dalam berbagai prioritasnya, dan menjaga untuk menyeimbangkan hidup, lelaki itu akan membebaskannya. Karena ia sadar bahwa perempuannya akan kembali pulang kepadanya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tak hilang jiwa kekanakannya. Menjadi tua adalah pasti bagi setiap manusia, namun dewasa adalah pilihan -- kalimat itu yang sering terdengar. Benar adanya. Lelaki yang ia cintai memang tidak semuda itu lagi, pun ia belum setua yang dibayangkan. Tapi ia bukan lagi anak kecil. Namun seringkali tingkahnya membuat perempuan itu membayangkan sedang memadu kasih dengan seorang bocah laki-laki. Kepolosannya, kebiasaannya, makanan favoritnya, hingga cara ia menyelesaikan hal kesukaannya. Perempuan itu jatuh cinta bahkan ketika sang lelaki meminta hanya dititipkan cokelat kesukaannya atau mainan kesukaannya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang akan selalu menghabiskan masakan yang ia hidangkan. Perempuan itu bukanlah seorang perempuan yang bertalenta di dapur, namun ketika ia sedang belajar untuk menghidangkan sesuatu yang layak kepada lelakinya, bagaimanapun rasanya, sang lelaki akan selalu menandaskan piringnya, dan kemudian mengucapkan terima kasih.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki tanpa basa-basi. Jarang sekali terlontar kata rayu yang mendayu. Seringkali malah terlalu langsung tepat sasaran. Perempuan itu pun akhirnya tak perlu bersusah payah mengandalkan segala kode, hanya cukup katakan. Meminta apa yang diinginkan.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang memikirkan segala sesuatunya dengan segala kemungkinannya. Menjadi batas dari segala obsesi sang perempuan yang seringkali tak terbendung alurnya. Menjadi penguat dari segala ke-pesimis-an hidup yang terkadang merundung perasaan. Menjadi sisi lain dari jalan keluar masalah yang seringkali tidak terlihat sebelumnya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang terlalu kaku untuk membaur dengan dunia barunya. Apalagi dengan dunia perempuannya yang lebih berwarna dari dirinya. Tapi bukan berarti ia akhirnya membatasi. Namun seringkali tingkah lelaki itu dianggap tidak menghargai, ketika yang ia sebenarnya rasakan adalah tidak tahu bagaimana untuk memulai.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak pernah menuntutnya terlalu banyak, bahkan dalam hal fisik yang semestinya sesempurna itu, sebagaimana lelaki lain mungkin pinta. Lelaki itu menerima sang perempuan dalam keadaan yang bagaimanapun perempuan itu pernah menjadi, dan sudah menjadi.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak terbisa memberikan suatu kejutan, bersikap romantis atau memberikan sesuatu di tanggal-tanggal tertentu. Tapi ketika ia melakukannya, tanpa mungkin lelaki itu sadari, perempuan itu akhirnya jatuh cinta lebih dalam lagi kepadanya.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang tidak sesempurna itu untuk dibilang lelaki impian. Bahkan jauh dari kata sempurna.

Perempuan itu pernah mencintai seorang lelaki yang pernah ia sebutkan namanya di dalam doa,
menunjukkan kepada Tuhannya, lelaki mana yang ia harapkan untuk menjadi imam bagi keluarga kecilnya nanti.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk sang perempuan mengerti segala cara mencintai sang lelaki kepadanya.

Pernah. Di suatu waktu.









Jambi, Maret 2016
Terinspirasi dari Novel "Twivortiare 2" by Ika Natassa dan sedikit kenangan






Ketika "pindah" tidak selalu mudah.

Monday, January 18, 2016

Selamat datang, dua ribu enam belas.

Sudah lama sekiranya saya tidak menyampaikan kabar dan menuliskan beberapa bait tentang kehidupan. Saya rindu. Maaf lama tidak menyambangi lembaran kertas digital ini. Bukan berarti saya lupa, hanya memang terkadang kesibukan untuk menjadi seseorang yang diharapkan untuk bisa hadir di segala ruang, menyita banyak waktu.

Dua ribu enam belas,
terpaut hanya beberapa bulan dari cerita sebelumnya, namun terlihat seperti cukup lama. Rindu yang akhirnya akan saya tuang dalam barisan kata.

Tahun baru yang seringkali di deifinisikan dengan rentetan catatan panjang resolusinya, beribu rencana yang diharapkan bisa dilsayakan kali ini. Ada yang tertunda entah sekian lama dengan berjuta alasan, atau memang mungkin pikiran "waktu masih banyak" seringkali terbersit dan terbuai hingga tak sadar, waktu telah meninggalkan terlalu jauh.

Tahun yang sudah semakin banyak bilangannya, dan saya yang semakin denial tentang kehidupan untuk menjadi lebih dewasa. Bagaimana tidak, harusnya sekarang waktu tentang rencana kehidupan yang lebih berdua, nyatanya malah lebih memilih untuk menunggalkan diri, meraih apa yang masih jauh dan belum tergapai pasti. Bahkan resolusi ? Hanya setengahnya yang nyatanya terisi.

Bukan saya tidak cinta dengan kehidupan yang lebih baik dan menjadi manusia yang sebagaimana mestinya saya diumurku. Tapi bahkan untuk bertemu dengan tanggal lahir kembali, menjadi salah satu ketsayatan yang tidak terelakkan. Iya, 4 tahun sekali untuk bertemu dan menyapa, tak pelak juga malah tsayat yang menghampiri. Ternyata saya semakin tua, tapi tidak semakin dewasa.

Bercerita tentang tahun yang baru, segala bentuk tentang "Pindah" menjadi tema cerita di tiap saatnya. Meskipun tidak pernah menjadi resolusi, ternyata Tuhan mencoba memberikan jalan lain di berbagai cerita kehidupan hamba-Nya. Benar bahwasanya pun segala sesuatu yang seringkali tidak pernah terpikirkan untuk akan benar terjadi, malah akan di wujudkan dengan berbagai cara.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCiNbs6wX3lWr1UhhdisFoyCit1s6zVrtiKZSrmkIqTTBODAf1RjPiYDyf1e20776TLKMkFFOpRa3-8u4KvunSGf1MRd1fSwggYk0spsiwKbMcC_ilrUVQICCan5RVK2mqhBlcXb0Awc3Z/s320/629107-9-1300532346262_large.jpg

Bukan hanya berganti tahun, tapi juga untuk sementara waktu akan pindah untuk pulang kembali ke pelukan keluarga. Tidak hanya itu, tapi juga tentang hati. Hati yang berulangkali mesti di yakinkan, karena perpindahan tentunya tidak akan pernah mudah. Meskipun menyangkut tentang penggapaian salah satu mimpi besar, yang sedari dulu ingin sekali diwujudkan. Dan disini saya sekarang. Pindah untuk menggapai mimpi di sebuah lingkungan yang tidak baru, namun tetap terkadang masih terasa asing.  

Pindah tidak selalu mudah. Membereskan satu persatu yang ada, hingga tanpa sadar menemukan banyak hal yang telah lama tak diraba. Memilah mana yang harusnya dibawa, meninggalkan mana yang baiknya tak perlu lagi ada. Butuh pertimbangan yang tidak sebentar, karena bila sedikit saja saya salah memasukkan, maka selamanya akan selalu terbawa sebagai kenangan yang entah nantinya akan saya butuhkan atau nyatanya menjadi tidak menyenangkan.

Pindah tidak selalu mudah. Banyak hati yang harus direlakan keberadaannya. Tentang keluarga, sahabat,  hingga yang saya anggap cinta, ataupun ternyata hanya suka. Kehidupan yang sekiranya dianggap akan lebih terasa lebih indah, nyatanya tidak akan begitu setiap harinya. Ada banyak pertarungan pendapat yang lebih hebat di kedepannya. Untuk masa depan yang bukan lagi hal  main-main untuk diputuskan.

Pindah tidak selalu mudah. Akan banyak cerita tentang hari istimewa yang mungkin tidak akan saya sempat rasakan. Saya lewati, namun tidak untuk saya anggap begitu saja pergi. Tidak hanya kalian yang ingin saya tetap tinggal, begitupun saya. Tidak perlu lagi menambah air mata tertahan, cukup tinggalkan tawa sebagai kenangan.

Terimakasih saya haturkan untuk mereka yang telah meramaikan dua ribu lima belas kemarin. Baik buruknya, saya tetap merundukkan kepala dan melebarkan senyuman untuk setiap inci kesempatan, kesalahan, dan pelajarannya. Untuk mereka yang telah mencoba menyempitkan ruang rindu yang seringkali terlalu lama untuk terisi penuh dengan sebuah pelukan, membantu melegakan diri dalam tawa dan tangis yang seringkali berkepanjangan, menjejakkan tambahan pengalaman akan hal baru yang membekas dalam ingatan, hingga yang pernah datang lalu tinggal atau malah akhirnya melangkah pergi.  Percayalah, hati lebih dari ini. Keraguan yang semula akan terasa begitu mendera akan berganti dengan ketenangan yang tiada henti. Bahwa nyatanya tidak ada alasan yang pantas untuk meninggalkan, kecuali dengan imbalan untuk kembali pulang yang lebih membahagiakan.
Insya Allah.


Sekali lagi, 
selamat datang dua ribu enam belas.
Semoga kita berjodoh kali ini.




Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBy4QQOxuLoeSqk7_s6BvaArEKQqK_aTRAUlxTmdVKN4w_r4CeIzabw3_QYISzJDT_4j7VbG_5ayor8z-VNs8z2i7AKBetWIcqIAyrqBUXMi37LA7fLYxhBH0KMZdaUWsYce7SMtz-Lwtx/s320/tumblr_mgwvl8qRwM1rvvrm4o1_500.jpg




Jambi, awal tahun 2016
Ketika "Float - Sementara" dalam kondisi terputar berulang kali




Aku yang seringkali meng-aku-kan diri, maaf.

Sunday, September 20, 2015

"Aku kini terjatuh dan ingin mencoba untuk dimengerti. Lelah. Ingin sejenak meluruskan kaki yang berat untuk melangkah."

Berkaca pada hal yang seringkali aku hempaskan, seringkali aku mencoba untuk mendobrak rasa keterbatasan yang mengekang terlalu keras. Sakit, memang tidak terlalu. Aku masih kuat untuk menahan diri, untuk tidak tenggelam terlalu jauh. Tetapi seakan terlalu berdarah dan semakin tidak berhenti, kala aku tau bahwa dirimu malah menjauh dan menggelengkan kepala, tanda ketidak mengertian yang menjadi.

Sekelibatan masalah yang merundung di hari-hari belakangan, ah, jangan tanya pula dengan kegagalan yang menghampiri. Keambisiusanku seakan menjadi berkeping, hancur berantakan. Tak sadar, kegagalan tersebut aku jejak tanpa menggunakan alas. Tak kepalang, mengepal sudah tangan ini untuk menghentikan rasa sakit yang menggigit. Menjalar, menyetubuhi kekosongan diri. Hingga akhirnya aku terlalu diam, seakan menjadi terlalu aktif untuk tak bergeming dari peraduanku kini.

Maaf bila akhirnya aku harus melihatmu duduk terdiam mengalirkan perih, karena sikap dingin dan kata-kataku yang membuat kita tak berhenti untuk beradu kata. Air mata yang harusnya tak perlu untuk dikeluarkan oleh makhluk sepertimu, tak sengaja akulah yang menjadi pemicunya. Lelaki ini yang sedang terhempas rasa ketidakmampuan, rasa yang luar biasa mengikis rasa ketidak percayaan dirinya. Lelaki yang mencoba untuk seringkali mengangkatmu dalam keberagaman warna kata, padahal tahu bahwa dirimu tidak akan mampu tergambarkan, walaupun hanya setitik.

Aku yang seringkali meng-aku-kan diri di depan kenyataan pahit, terlalu angkuh, terlihat ingin tetap tersenyum seakan melambai bahwa semuanya baik-baik saja. Namun sebenarnya terkadang tidak mampu melihat dengan tatapan penuh harap. Berpikir bahwa tidak akan ada harapan sedikitpun disana, dengan sesungguhnya mengemban banyak sekali harapan pada kenyataan yang di tinggikan di setiap pundak diri. Berakhirlah aku dengan meracau akan ketidakmampuan diri sendiri, menyedihkan bukan ?

Tapi maaf bila aku tidak menunjukkan sisi yang berkabut ini kepadamu, kepada kalian para penonton setia hidup orang lain. Aku hanya tidak ingin menjadi salah satu pemeran utama di atas panggung perkataanmu. Tidak perlu rasa belas kasih terlalu berlebihan, aku mampu, bila aku mau. Hanya mungkin terkadang butuh jeda sedikit lebih lama untuk menjauh dan berlayar menjelajah, untuk menghangatkan diri yang mendadak membeku, atas ketidakjelasan jalan hidup yang Tuhan seringkali tetapkan. Bukan berarti aku menyerah, bukan begitu.

Teruntukmu yang kini sedang aku usahakan sebagai tempatku kembali pulang, mohon mengerti sedikit lebih banyak lagi. Untuk keadaan yang sedikit lebih baik.

Janjiku, aku akan kembali pulang, secepatnya waktu yang bahkan akan kamu syukuri pada akhirnya.









Jakarta, September 2015
Terinspirasi dari lelaki yang sedang mengumpulkan mimpi besarnya






Dari aku, yang kini sedang ingin istirahat sejenak

Saturday, September 05, 2015

Dear, you.

Seperti halnya mencintai tanpa ada batasan di balik dindingnya, ah, tidak. Bukankah cinta harusnya tak berbatas ? Tak memiliki sudut ataupun dinding yang menghalangi. Begitulah harusnya kita.

Hey, kamu. Duduklah bersamaku kini, akan ku kisahkan sedikit dari rasa sakit yang ingin tetap senantiasa memiliki. Atas nama rindu yang menggigit tapi seakan terabaikan pilunya.

Ketika akhirnya aku memilih untuk berhenti melakukan sesuatu yang sekiranya salah untuk terus di lanjutkan. Mungkin aku akan merasakan banyak keresahan, panjangnya pemikiran, membayangkan segala hal ketidaknyamanan yang mungkin saja akan terasa asing namun terasa, atas nama keterbiasaan akan kehadiran. Namun bukankah akan sedikit lebih melegakan, pada saatnya aku tidak lagi berjalan tersendat, namun melangkah lebih lebar sekiranya menghindari genangan-genangan kenangan.

Keterbiasaan akan menjadi racun ketika memang sudah menjadi darah daging pada hari-hari dalam setahun. Tapi sedikit saja ingin mengenang, bahwa mungkin kita memang membutuhkan jeda yang sedikit lebih lama daripada biasanya. Untuk saling menghangatkan hati, memantapkan diri. Bisakah kita kembali menjadi seperti apa yang pernah kita impikan kedepannya ?

Aku memilih untuk sedikit lebih tidak peduli, oh atau mungkin lebih banyak, dari biasanya. Bukan saja karena mencoba untuk mengenyampingkan rasa resah atas ketidakpercayaan. serta senantiasa sedang ingin mengenyahkan rasa ketidaknyamanan yang kini sedang aku rasakan. Juga karena aku terlalu lelah untuk mengerti lebih jauh dari biasanya.

Maaf, bila prioritas yang seringkali di bicarakan, bukan lagi tentang aku dan kamu - kita. Tapi sudah tentang aku, hidupku, dan masa depanku. Bukan karena kamu tidak lagi ada dalam list masa depan, tapi aku juga sedikit menyangsikan akankah aku ada di dalam list teratasmu ? Saat bahkan kamu tidak mendahulukan rasa nyaman yang sekiranya mampu membuatku tinggal. Catatan untukmu, rasa di pentingkan dan di dahulukan itu mahal sekali rasanya. Mewah.

Maaf, bila aku terlalu naif dalam mengutamakan rasa kenyamanan. Terasa agak sedikit janggal memang. Tapi bukankah kita akan selalu memilih tinggal pada sesuatu yang menenangkan lagi nyaman ? Maaf, bila aku merasa bahwa ke-posesif-an lelaki terhebat - ayah - terhadap diriku dari dulu, ternyata berdampak sangat besar. Dimana aku melihat beliau berusaha mengupayakan segalanya, untuk memberikan rasa terbaik yang akan atau sedang aku miliki.

Kita telah terlalu beranjak jauh lebih dewasa dari yang kita pikir, yang akan berusaha memberikan segala sesuatunya dengan pemikiran panjang. Bukan karena adanya kamu, aku akan mendadak jadi jauh lebih hebat, tapi setidaknya adanya kita mengajarkan bahwa keseriusan bermula lebih dari sekedar pelukan hangat dan canda tawa. Nyatanya dunia bukan hanya berkisar tentang kita saja, bukan ?

Karena cinta bukanlah jawaban dari semua pertanyaan, bukan pula sebuah pernyataan tunggal. Ada lebih banyak hal lagi yang harusnya di pertimbangkan lebih teliti. Karena aku berpikir kita akan berjalan jauh dan tidak mudah untuk melewatinya, tidak akan sesembarang itu kan kita dalam mempersiapkan segalanya ? aku butuh alasan yang cukup kuat untuk membuatku tetap tinggal. Karena mereka yang seserius itu, tidak akan pernah kehabisan akal untuk menunjukkan keseriusannya.

Atas nama rindu dan rasa yang ingin memiliki yang terlalu besar,
Aku yang sedang lelah, kini memilih untuk beristirahat sejenak dan mendahulukan apa yang kini sedang membuatku bahagia.
Yaitu rasa tidak berharap terlalu besar kepada makhluk lainnya.

Because falling in love with someone does not hurt you, but your expectation and that person, does.





Jakarta, September 2015
Kala kota Jambi sedang berkabut, begitupun hati.

 









Sesuatu yang mungkin dia tidak tau.

Thursday, January 22, 2015

Sesuatu yang mungkin dia tidak tau,

Aku selalu merasa bangga untuk segala pencapaiannya hingga hari ini. Merasa selalu amazing setiap dia menceritakan segala perjuangan hidup, dan kemandirian yang dia lakukan. Bagaimana tidak, dia mampu melakukan segala hal yang seringkali tak terpikirkan olehku, di umurnya yang mungkin masih ingin bermain-main.

Sesuatu yang mungkin dia tidak tau,

Seringkali aku mengucap segala keluhan akan ketidakpuasan, tanpa dia tau bahwa ada banyak rasa syukur yang telah aku lepaskan tentang kehadirannya, sikapnya, keputusannya, bukan di depan dirinya tetapi di hadapan orang lain. Satu hal yang juga mereka tau, bahwa aku sangat menyayanginya dan memilih untuk bertahan, bahkan ketika aku terlalu jemu akan pertengkaran yang seringkali terjadi.

Sesuatu yang mungkin dia tidak tau,

Tidak hanya dia mampu merebut hatiku, tapi juga keluargaku. Mereka mampu mempercayakanku padanya, yang baru saja singgah di dalam kehidupan mereka. Mampu merelakan diri mereka untuk nantinya akan aku serahkan pilihan akhir hidupku, kepadanya.

Sesuatu yang mungkin dia tidak tau,

Aku memilih menggenggamnya, karena pernah tau bagaimana rasanya berjalan tanpa tujuan dan sendirian. Tidak akan pernah aku ingin merasakan hal yang sama, terlalu menyakitkan. Entah dia mengetahui atau tidak, apa yang telah aku lewati sebelumnya, karena dia tidak pernah bertanya dengan pasti. Tapi kehadirannya pernah di sahuti dengan kalimat, "Ini balasan baik untuk setiap rasa sakit yang kamu lewati kemarin" oleh seorang sahabat baikku.

Sesuatu yang mungkin dia tidak tau,

Aku pernah memilih untuk bermain-main, mencoba segala rasa tanpa memperdulikan masa depan. Pernah juga memimpikan dan merencanakan segala hal dengan sedemikian rupa. Tapi akhirnya aku malah menyakiti orang lain ataupun mengakhiri kisah dengan membawa rasa kecewa. Hingga aku masih belum mengerti, mana yang harus aku lakukan ketika menjalani segala hal dengannya. Akhirnya aku memilih, untuk percaya dan menitipkan rencana masa depan yang lebih berdua. Ketika resahnya karena merasa tidak di percaya, percayalah, tidak ada orang yang akan memiliki pandangan yang jauh dan menyampingkan rasa akan kecewa, tanpa memiliki rasa percaya. Begitupun sesungguhnya aku terhadapnya.

Sesuatu yang mungkin dia tidak tau,

Membanggakan rasanya bahwa lingkungannya menerima aku dengan segala khilaf yang mungkin aku lakukan. Salah satu pencapaian bahwa masa depan bukan selalu hanya tentang kita, tapi juga tentang mereka yang ada di sekeliling. Ada rasa yang bahkan tidak mampu untuk di ucapkan ketika dia bisa membawaku, membaur dengan lingkungan yang ia tinggali. Begitu juga ketika ia mampu menyunggingkan senyum, atau berbaur dengan lingkungan yang aku miliki. Ah, tak usah di bicarakan bagaimana leganya hati.

Sesuatu yang mungkin dia tidak tau,

Ketika ada segala macam rasa lelah dan kekecewaan yang luar biasa di dalam hari bersamanya, selama aku masih menjadi salah satu di antara sekian banyak rencana masa depannya, maka aku akan berdiri untuk tetap tinggal dan bertahan. Karena apa lagi yang diharapkan bila hadirku saja sudah tidak ada lagi dalam list masa depannya ?


Untuk sesuatu hal yang mungkin dia tidak tau,
atau entah sekarang dia sudah tau,


Maukah dia menjadi pilihan hidupku ?





Jambi, hari selanjutnya ketika menjadi seseorang yang menunggu.




Maaf, untuk membutuhkanmu.

Friday, December 05, 2014

Entah apa yang lebih menyakitkan, daripada meminta maaf atas kehadiran dan rasa membutuhkan yang dimiliki.

Perempuan itu kembali mengumpulkan serpihan waktu yang berserakan di ingatannya. Tentang bejana akan kenangan yang tertumpah dan mengalir bebas. Membawanya mengitari hari demi hari, musim demi musim. Dengan orang yang sama, tapi kejadian di rentang waktu yang berbeda. Perempuan dan lelaki itu.

Kebersamaan yang meninggalkan jejak berusaha untuk menggapai kembali permukaan hati. Laksana mimpi indah, perempuan itu terpana pada satu titik, dimana tawa sang lelaki menjadi alunan melodi paling indah kesukaannya, Serta genggam tangan sang lelaki yang mengisyaratkan bahwa semuanya akan menjadi baik-baik saja pada akhirnya. Ketika itu semua indah layaknya cerita dongeng di masa kecil. Harapan sang perempuan pun juga masih sama, seperti kisah akhir sang putri dan pangeran impiannya, berakhir indah.

Seakan terlalu berkeyakinan, bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu menuliskan cerita mereka dengan tinta emasnya. Tinta keabadian.

Beranjaklah sang perempuan menuju suatu tempat penuh rasa damai, dengan ditemani deburan ombak sore hari, ia mencoba menyusuri pesisir pantai dengan sejuta kenangannya. Waktu dimana kaki sang lelaki menjejak dan meninggalkan bekas, begitu juga rasa yang tertinggal di hidup sang perempuan. Tak terhapus meski ombak kecil permintaannya untuk menghilangkan sudah terlalu tinggi, bagaikan terukir pada sebuah batu, tak mampu untuk terhapus dalam waktu singkat.

Perempuan itu sadar bahwa hanya si pemilik jejak yang mampu menghaluskan goresan cerita yang tertinggal, tapi ia juga sadar bahwa akan ada goresan dengan relung yang lebih dalam kala ia semakin berharap. Entah goresan itu akan terasa sangat menyakitkan atau malah membuatnya bersenandung. Mematikan logika, hanya tersisa rasa.

Hidupnya sudah terlanjur tergores oleh cerita yang dilalui bersama sang lelaki, dan kemanapun ia mencoba berpindah, goresan itu seakan mengikutinya dan berusaha mengingatkannya. Seegois apapun mohon yang ia minta untuk mematikan rasa, namun rasa sang perempuan malah mengukuhkan diri di tempatnya. Membuatnya menjadi candu akan kehadiran sang lelaki. Meski terkadang rasa yang ia miliki tak tersentuh oleh sang lelaki, yang entah ia sadar atau tidak bertindak mengegoiskan diri dan mengedepankan rasa tak acuhnya, hingga bersembunyi di balik ketidakmampuannya dalam berbuat.

Akhirnya, disinilah ia berdiri. Titik dimana perempuan itu membutuhkan sang lelaki lebih jauh, kini dan entah sampai kapan.

Aku meminta maaf untuk rasa membutuhkan yang terkadang terlalu besar. Percayalah, aku nyatanya sedang mencoba menunggalkan rasa yang sudah menjamakkan dirinya, dalam diriku.









Jakarta, November 2014
Cerita untuk melepas rasa penat




November Rain

Wednesday, November 12, 2014

'Cause nothin' lasts forever
And we both know hearts can change
And it's hard to hold a candle
In the cold November rain

We've been through this such a long long time
Just tryin' to kill the pain

But lovers always come and lovers always go
An no one's really sure who's lettin' go today
Walking away


Lantunan lirik lagu November Rain menggema di telinga perempuan itu. Di sore hari yang tidak begitu kelabu seperti sebelumnya. Namun tampak sekumpulan awan hitam yang sepertinya ingin segera menghampiri langit, angin berhembus dan tanpa ia sadari menarik lebih rapat jaket yang sedang di kenakan.

Jauh sebelum itu....

Melangkah sejenak jauh ke beberapa waktu lalu saat amarah sang lelaki memuncak karena kesalahan yang pernah perempuan itu perbuat. Rasa sakit ini tidak bisa di negoisasi, begitu kata lelaki itu. Hancur rasanya mendengar orang yang perempuan itu sayangi begitu kecewa karena sebuah kesalahpahaman. Tidak peduli pukul berapa, bagaimana langit sudah terlalu malam dan bulan menampakkan dirinya tanda sudah waktunya untuk melelapkan diri, perempuan itu berlari menuju ke arah sang lelaki. Mencoba untuk menemui lelakinya dan memeluknya tanpa jeda, perempuan itu rasakan lagi hal yang sama meski dengan keadaan yang berbeda, bagaimana menggapai seseorang begitu sangat sulit untuk ia lakukan.

Tidak peduli harus menunggu berapa lama, perempuan itu menunggu kedatangan sang lelaki, sendirian, di tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya. Butuh waktu tidak sebentar untuk ia meyakinkan sang lelaki. bahwa semuanya hanyalah kesalah pahaman, bahwa semuanya masih pantas untuk di perjuangkan. Mencoba meraba luka sang lelaki untuk kesekian kalinya, ingin sesegeranya menyembuhkan hingga tiada berbekas. Entah saat itu sang lelaki mempertimbangkan dengan melihat bagaimana perempuan itu berusaha mempertahankan, atau ada alasan lain. Mereka kembali mencoba memperbaiki keadaan bersama. Pelan-pelan.

Hingga akhirnya suatu hari, rasa tak tenang yang beberapa hari belakangan menganggu, membuat perempuan itu mendapati kenyataan. Kesalahan yang dulu pernah ia buat, yang pernah membuatnya begitu tersiksa oleh rasa bersalah, pernah dilakukan jauh sebelum perempuan itu melakukan kesalahannya, oleh seseorang yang amat ia sayangi. Lelakinya. Meski dengan keadaan yang berbeda, rasa kecewanya mungkin hampir sama.

Amarah yang menggunung dan kecewa yang membuncah ? Tak pelak lagi perempuan itu merasakan sakit yang mungkin pernah di rasakan oleh lelakinya. Tapi dengan alasan yang bertambah satu.

Bagaimana bisa kamu menyalahkanku sehebat itu, saat kamu pun pernah melakukan hal yang tidak berbeda menyakitkan sebelumnya ?

Perempuan itu bukan perempuan tersabar yang pernah ada, namun ia masih bisa berusaha menurunkan oktaf suaranya meskipun emosinya yang sedang ia tahan bukanlah sebentar. Hingga akhirnya pertanyaan perempuan itu pada akhirnya, 

"Aku boleh kecewa sama kamu saat ini ?"
Percayalah, saat perempuanmu telah mengucapkan kata itu, sungguh ia telah kecewa jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan. Tapi, ia berusaha untuk menahan.

Hingga perempuan itu menyadari bahwa kecewanya mungkin sama sekali tidak berarti bagi sang lelaki, karena mungkin pula baginya rasa kecewa yang perempuan itu rasakan, bukan sesuatu yang patut sang lelaki pikirkan. Kecewanya, bukan saja karena lelaki itu melakukan kesalahannya, tapi juga karena ia merasa menjadi perempuan yang tidak seharusnya di perjuangkan lebih oleh sang lelaki.

Tanpa usaha untuk mencoba meredam rasa sakit, berbekal alasan bahwa semuanya hanyalah masalah kecil bagi sang lelaki, perempuan itu mengucapkan kata terakhir yang mampu ia utarakan. Kata sederhana yang membuatnya sejenak ingin berhenti dan mewakilkan semua rasa yang ia miliki.

"Terimakasih."






Jakarta, November 2014
Cerita iseng pada musim hujan di bulan november





 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS