Showing posts with label Antologi Hati. Show all posts
Showing posts with label Antologi Hati. Show all posts

Surat untuk diri sendiri di tahun mendatang - Part 1

Thursday, April 20, 2017

Teruntuk diriku sendiri, di lima atau sepuluh tahun mendatang.

Hai, bagaimana keadaanmu hari ini ? apakah akan lebih baik daripada hari ini ?
Apakah kebebasan bertindak yang seringkali kamu impikan, sedikit bisa terwujud ?
Semoga saja, “Iya” jawabmu meski sambil berbisik.

Jika pada hari ini, terbaca olehmu post usang yang tertulis kala usiamu masih 25 tahun. Usia seperempat abad yang menuntutmu memiliki banyak pencapaian lebih dari adik-adikmu. Untuk membuktikan bahwa keluarga—terutama kedua orangtua—sukses mendidik anaknya. Akan ada sedikit pengingat untuk diri, yang mungkin sekarang telah memiliki jauh lebih banyak tanggung jawab. Keluarga kecilmu dengan Dia yang kamu sayangi.

Apakah telah ada malaikat kecil sebagai pelengkap hari ? Bagaimana rupanya ? Lucu dan menggemaskan ya sepertinya. Sebagaimana tingkah diri yang seringkali diceritakan oleh keluarga dan mereka yang acap kali menimangmu ketika masih kecil. Pasti telah banyak pemikiran dan impian-impian yang diri dan Dia rumuskan untuk masa depannya. Seru sekali memikirkan bagaimana pencapaian itu akan terjadi dengan dibarengi langkahmu di sisinya.

Sebelum semua hal selesai diterapkan,  satu hal pertama yang akan aku ingatkan; 
Jangan biarkan malaikat kecilmu selalu menuruti apa maumu. Biarkan ia mengambil langkah yang ia inginkan, hargai dan dukunglah.

Jangan biarkan segala hal yang tidak mampu diri sendiri lakukan pada masa lampau, menjadi tolak ukur untuk segala hal baik yang harus malaikat kecilmu lakukan. Ia tidak pernah memilih untuk menjadi seseorang yang akan mengemban tanggung jawab atas ketidakmampuanmu di masa lalu. Jadi, jangan jadikan ia salah satu jembatanmu, kecuali ia menginginkannya.

Jangan selalu mengambil alih segala pilihan yang akan ia tapaki kedepannya dan membuatnya terkesan untuk diam tak bisa mengungkapkan pendapat, sebagaimana yang pernah diri sendiri pernah alami. Karena ketika nanti ia dewasa, ia akan sedikit kesusahan dalam mengambil keputusan-keputusan untuk hidupnya. Biarkan ia belajar bertanggung jawab sedari dini untuk segala keputusan yang ia ambil. Ajarkan ia bahwa dirinya sendiri adalah pribadi yang harus dihormati pandangan dan keberadaannya, tidak hanya orang lain. Hingga nanti yang ia sadari, bahwa tidak mudah bagi orang lain untuk mempengaruhi prinsip hidupnya, ataupun mencemooh pendapatnya. Karena ia tau bahwa dirinya seberharga itu, dengan porsi yang seharusnya. Tidak kurang, pun tidak berlebihan hingga mengecilkan orang lain.

Tidakkah ingat bagaimana di malam-malam tertentu, upaya diri untuk tertidur malah berujung berbagai macam evaluasi diri atas segala hal yang tidak selesai diwujudkan. Membuatmu menangis, mengutuki ketidakmampuan dan berakhir dengan keinginan lari dari segala tanggung jawab. Jangan sampai malaikat kecilmu mengalami hal yang sama. Biarkan ia bersyukur untuk segala kekalahan atau kemenangannya di kemudian hari, dengan sepenuh hati bahwa dirinya sendiri juga menyumbangkan langkah untuk mengambil keputusan besar tersebut. Dan tak lupa rasa haru yang menyelimuti untuk menyadari bahwa dirinya telah didorong dan didukung penuh oleh keluarga kecil yang teramat menyayangi dan menghargai segala keputusannya, sedari awal.

Pertimbanganmu mungkin akan jauh diatas dari ia yang belum mengetahui apapun, tapi setiap manusia akan selalu memiliki keinginan atas kebebasannya sendiri. Belajarlah dari dirimu sendiri yang 25 tahun telah hidup dan masih menginginkan kebebasan tersebut.

Cukup berikan pandangan lain dari setiap langkah yang akan ia tuju, tidak selalu bicara akan batasan
Cukup berikan jalan yang entah akan lebar atau sempit, setidaknya berikan Ia tempat untuk menapak
Cukup berikan Ia ruang untuk mengambil alih tanggung jawab dan menyelesaikannya
Cukup berikan Ia pelukan ketika lelah terlihat saat ia berusaha, ucapkan bahwa apapun pencapaian baik yang ia lakukan adalah kebanggaanmu
Cukup ajarkan hal tersebut untuk menjadi kebiasaan pada diri sendiri.

Bebaskan ia dengan sewajarnya, sebelum ia memaksa untuk lari darimu, dan menghukum diri tak berkesudahan.






Backsound : Dive - Ed Sheeran
Ketika ingin belajar untuk mencintai  seseorang dengan  memberikannya kebebasan seperlu yang ia inginkan.






Perihal semestinya hati

Sunday, April 02, 2017

Mencintai sesuatu itu tidak pernah mudah. Karena tidak semua yang me(ngaku)cinta memiliki hati, dan yang memiliki hati tidak selalu bisa mempergunakannya dengan semestinya. – Myta





Seperti halnya menulis sesuatu yang sudah menggunung di otak, tidak pernah mudah. Terkadang inginmu tidak selalu bisa berjalan dengan mulus. Entah waktu yang tidak memadai, atau memang akan kalah dengan hasrat lelah ingin melakukan hal yang lain.

Seperti halnya juga ketika kita jatuh dan mencintai seseorang yang mungkin sudah terasa bagaikan cinta mati, bila jauh adanya rindu dan dekat adanya rasa ingin selalu bersama. Padahal untuk berbicara tentang cinta, tidak akan terlepas dari bagaimana proses penitipan hati seseorang kepada pemilik yang lain. PE-NI-TI-PAN, judulnya. Tapi seringkali tidak dijaga dengan baik, bahkan dikembalikan dengan kondisi yang hancur tak bersisa, ataupun banyak retak yang tak wajar. Kamu pasti pernah merasakannya, meski hanya sepintas. Sayangnya, penitipan itu tidak disertakan garansi untuk menggugat bila ada kerusakan, hanya bisa pasrah menerima adanya.

Bagi yang mengaku cinta, tidak semuanya memiliki hati pada tempatnya. Bisa jadi karena pertimbangan waktu yang dijalani sudah terlalu lama, merasa punya janji dengan keluarga,atas dasar senang memiliki banyak fans dan lain sebagainya. Terlalu banyak, miris. Bisa jadi hati yang dimiliki, hanya sebagai kamuflase untuk mematikan pertanyaan masyarakat. Meskipun memang tak sedikit juga yang memang menjatuhkan hatinya dengan sedalam-dalamnya, kepada pasangan hatinya.

Maka benarlah bila ada pepatah yang berbicara bahwa sepahit-pahitnya memiliki harapan, adalah harapan kepada sesama manusia. Bukan tempat terbaik meletakkan cinta yang sesungguhnya, tapi seringkali kita lupa dan terlena untuk mendapatkan kepuasan sesaat. Kepuasan yang diberi label sendiri; kebahagiaan yang lebih berdua. Tapi terkadang malah berakhir dengan berjuang sendiri.

Walaupun mungkin kamu, kamu ataupun kamu memiliki hati, yakin sudah kamu gunakan dengan semestinya ?

Bila memang sudah, yakin telah meletakkannya pada orang yang sepantasnya ?

Karena seringkali kita—bahkan sayapun juga—tidak mempergunakan hati dengan seharusnya. Mengubah diri menjadi lebih egois dan berubah untuk sedikit mengendurkan rasa cemas untuk diri sendiri, tapi menambah rasa takut kehilangan yang luar biasa untuk orang lain. Membangun dinding harapan yang tinggi, tanpa melihat apakah ada yang bersiap untuk membangun bersama, bukan malah memilih menjaga sendirian, tanpa sadar bahwa dinding itu bisa saja runtuh tanpa ada alasan.

Selelah apapun rasa yang sudah dimiliki, tidak kunjung jua meletakkan hati yang salah. Terus saja memaksakan kehendak, hingga akhirnya kehabisan daya untuk mendorong hanya dari satu sisi. Bodohnya.

Maka, bersyukurlah kamu yang mungkin sudah menemukan hati yang sebaik-baiknya pemilik. Kamu lulus dalam ujian untuk mempergunakan hati dengan sebagaimana mestinya.

Berbahagialah,
Dan jagalah.






Jambi, April 2017
Backsong Biarlah - Raisa





#SuratUntukFebruari

Thursday, February 02, 2017



Surat untuk februari ini akan saya dedikasikan untuk luka lama yang terkadang terlintas, tapi nyerinya sudah tak lagi mengganggu meski sepintas.



Hai ...
Lama tidak berjumpa, kamu, yang berbelit akan rasa pedih yang merintih. Luka lama yang kini sedang saya perbincangkan sudah tidak terasa lagi, meski didendangkan dengan mata terbuka dan alunan lagu kesukaan. 

Kilas balik, kamu, adalah yang pernah menjadi alasan utama untuk setiap tetes air yang jatuh dari sudut mata. Pencetus pertama untuk ketidaknyamanan ketika tertidur, hingga rasa paling tidak bisa teraba meski hidangan yang tersaji di depan mata adalah apa yang disuguhkan dengan segenap cita.

Duka, adalah nama panggung yang lupa untuk di sebutkan, tapi lambat laun saya mengerti adanya. Berperan sangat tak diduga, menjadikan hidup seorang anak manusia berubah genre; parodi dengan tawa getir yang melintir. Sialnya, memang sebuah "luka lama" yang tidak akan pernah saya harapkan kehadirannya, tapi selalu tak pernah lupa untuk berkunjung di akhir cerita. Satu demi satu pemain bernafaskan kamu, mencoba memporakpandakan sebuah angan yang sudah membubung tinggi. Sayangnya, rencana itu berhasil sempurna dan menjatuhkannya kembali dalam bentuk serpihan, tak bersisa. 

Tanya saja bagaimana sebuah genggam yang dulu melekat erat, perlahan-lahan mengendurkan diri tanpa perlu diminta lagi. Bagaimana sebuah perjuangan untuk mendobrak sebuah pintu jati diri, akhirnya lelah dan beranjak pergi.

Meski seringkali candu akan bibirmu yang melepaskan aksara cinta dan tawa, tanganmu yang penuh sentuhan mesra, matamu yang merefleksikan masa demi masa, ataupun langkahmu yang seringkali menyeimbangkan rasa. Saya memilih untuk pamit diri, berkubang dengan segala yang pedih ternyata mampu membuat jiwa terkikis sedih.

Kembali, saya mengingatkan, berbahagialah.
Lahirlah menjadi sebuah alasan untuk senyum lain yang tak pernah lagi patah.
Tak perlu lah sering mengenang yang mungkin lebih baik terduduk di sudut dengan tenang.
Cukup jadikan sandiwara yang pernah menjadikan kita pemain utama, sebuah cerita yang harusnya terlintas tanpa terasa kebas.
Begitupun saya, kini sedang bersiap untuk bertemu hari demi hari yang semoga tidak pernah memakamkan diri.








Jambi, Februari 2017
#SuratUntukFebruari pertama







Kisah dunia baru sang perempuan dan sepasang lengan

Tuesday, May 03, 2016

Untuk hari-hari yang mulai tidak bisa perempuan itu raba penghabisannya, dan ketiakpastian yang menggelayuti, ia menuturkan cerita singkatnya...


Beberapa hari belakangan, perempuan itu menemukan dunia barunya.
Dunia dengan segala nuansa baru dan pengalaman yang mungkin terbilang mampu mencetak tiap degup baru di tiap harinya. Ia menikmatinya, seakan ingin berselimut manja hingga tidak terbangun dan menjejakkan kaki di dunia lain.

Layaknya sekedar mimpi, segala yang ia seringkali ucapkan di kabulkan oleh sang pencipta alam semesta, yang mana dengan jahil-Nya menjadikan ucapnya menjadi begitu nyata. Dengan langkah ringan di tiap harinya, perempuan itu menunjukkan riangnya dalam kuluman senyum yang tiada padam.

Hingga suatu ketika, sang perempuan dihadiahi sepasang lengan yang mampu menangkup hari-harinya, menimbun laranya dan seraya menunjukkan jalan lain yang ia kira tidak akan pernah ia lewati. Terlalu berkabut, terlalu jauh, dan masih banyak pikiran lainnya yang perempuan itu pikirkan sesaat sebelum menapak. Sepasang lengan berwujud dan merupakan kado dari sang Pencipta, terus mencoba mengajaknya menapak satu persatu, meyakinkannya bahwa setiap permulaan akan menuju akhir, meskipun akan selalu ada jarak yang mesti di tempuh.

Dunia baru yang semula membuatnya terus berjalan dengan degup jantung tak beraturan, kini berdampingan dengan jalan setapak dengan jarak yang tidak terukur. Sepasang lengan itu pula ternyata mampu menggenggam tangan dan keyakinan sang perempuan sedikit demi sedikit dengan lebih erat. Sungguh luar biasa, sepasang lengan yang baru hadir mampu membawanya melangkahi banyaknya terjal ketidakyakinan. Membuatnya seketika limbung dan terlalu mabuk atas egonya, ia pun memilih untuk menggandeng keduanya, karena ia mulai mencintai segala hal tentang dunia baru dan jalan setapak yang di tawarkan oleh sepasang lengan dan berbeda kehidupannya tersebut.






*plak*

Mendadak kenyataan menggoncangnya dengan tamparan. Memutarbalikkan kenyataan. Bahwa akan selalu ada hal tak terduga di setiap perjalanan. Tidak peduli bahagianya sang perempuan. Akan ada segelintir perih yang membayangi, bahkan rasa rindu untuk mencapai hari esok dalam pertemuan selanjutnya adalah semacam belati yang terus menancap dalam ingatan -- membekas dan memberikan rasa sakit tanpa teraba oleh indera -- dan ternyata sang perempuan tidak menyadarinya sedari awal. 

Sungguh kasihan. Perempuan itu terlalu yakin dan lupa bahwasanya sepasang lengan itu bisa saja terselip dan mendadak terlepas, hilang di tengah kabut, diantara jarak yang membentang yang sedari awal ia yakinkan bahwa akan terasa lebih dekat daripada kelihatannya. Membuat jarak yang ada semkin membentang dan menjauh. Begitu juga dengan dunia barunya yang terus berputar, dan kini ia merasakan rasa kelam saat gelap datang.

Tersudutlah sang perempuan dalam dua sisi yang ia sayangi, sekaligus memaksanya untuk mengerti. Bahwa kehilangan dan ketidakpastian di tiap harinya akan selalu berkemungkinan untuk terjadi. Merelakan salah satu adalah jalan tengahnya.
Membuatnya harus segera mematikan rasa peduli.
Sebelum seluruh rasa yang ia miliki habis dibawa lari.





"Hanya sekedar mimpi, tapi kenapa terasa begitu nyata dan menyakitkan..."


Sang perempuan itu terbangun, meraba pipinya, menghapus air matanya, menyadari bahwa cerita sebelumnya memang hanyalah sekelebatan mimpi, tepat sebelum banyak keputusan besar yang ia harus ambil. Menatap jam dinding dan keluar jendela, menyadari ternyata ia sudah terlelap begitu lama. Cukup lama untuk mengenyampingkan kenyataan. Kini ia merapikan kembali dan menjaga setiap inci kesadarannya, hingga tidak boleh terlelap.






Jambi, Mei 2016
Ketika rindu untuk menulis sudah menumpuk, namun waktu yang semakin menipis.








Ketika "pindah" tidak selalu mudah.

Monday, January 18, 2016

Selamat datang, dua ribu enam belas.

Sudah lama sekiranya saya tidak menyampaikan kabar dan menuliskan beberapa bait tentang kehidupan. Saya rindu. Maaf lama tidak menyambangi lembaran kertas digital ini. Bukan berarti saya lupa, hanya memang terkadang kesibukan untuk menjadi seseorang yang diharapkan untuk bisa hadir di segala ruang, menyita banyak waktu.

Dua ribu enam belas,
terpaut hanya beberapa bulan dari cerita sebelumnya, namun terlihat seperti cukup lama. Rindu yang akhirnya akan saya tuang dalam barisan kata.

Tahun baru yang seringkali di deifinisikan dengan rentetan catatan panjang resolusinya, beribu rencana yang diharapkan bisa dilsayakan kali ini. Ada yang tertunda entah sekian lama dengan berjuta alasan, atau memang mungkin pikiran "waktu masih banyak" seringkali terbersit dan terbuai hingga tak sadar, waktu telah meninggalkan terlalu jauh.

Tahun yang sudah semakin banyak bilangannya, dan saya yang semakin denial tentang kehidupan untuk menjadi lebih dewasa. Bagaimana tidak, harusnya sekarang waktu tentang rencana kehidupan yang lebih berdua, nyatanya malah lebih memilih untuk menunggalkan diri, meraih apa yang masih jauh dan belum tergapai pasti. Bahkan resolusi ? Hanya setengahnya yang nyatanya terisi.

Bukan saya tidak cinta dengan kehidupan yang lebih baik dan menjadi manusia yang sebagaimana mestinya saya diumurku. Tapi bahkan untuk bertemu dengan tanggal lahir kembali, menjadi salah satu ketsayatan yang tidak terelakkan. Iya, 4 tahun sekali untuk bertemu dan menyapa, tak pelak juga malah tsayat yang menghampiri. Ternyata saya semakin tua, tapi tidak semakin dewasa.

Bercerita tentang tahun yang baru, segala bentuk tentang "Pindah" menjadi tema cerita di tiap saatnya. Meskipun tidak pernah menjadi resolusi, ternyata Tuhan mencoba memberikan jalan lain di berbagai cerita kehidupan hamba-Nya. Benar bahwasanya pun segala sesuatu yang seringkali tidak pernah terpikirkan untuk akan benar terjadi, malah akan di wujudkan dengan berbagai cara.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCiNbs6wX3lWr1UhhdisFoyCit1s6zVrtiKZSrmkIqTTBODAf1RjPiYDyf1e20776TLKMkFFOpRa3-8u4KvunSGf1MRd1fSwggYk0spsiwKbMcC_ilrUVQICCan5RVK2mqhBlcXb0Awc3Z/s320/629107-9-1300532346262_large.jpg

Bukan hanya berganti tahun, tapi juga untuk sementara waktu akan pindah untuk pulang kembali ke pelukan keluarga. Tidak hanya itu, tapi juga tentang hati. Hati yang berulangkali mesti di yakinkan, karena perpindahan tentunya tidak akan pernah mudah. Meskipun menyangkut tentang penggapaian salah satu mimpi besar, yang sedari dulu ingin sekali diwujudkan. Dan disini saya sekarang. Pindah untuk menggapai mimpi di sebuah lingkungan yang tidak baru, namun tetap terkadang masih terasa asing.  

Pindah tidak selalu mudah. Membereskan satu persatu yang ada, hingga tanpa sadar menemukan banyak hal yang telah lama tak diraba. Memilah mana yang harusnya dibawa, meninggalkan mana yang baiknya tak perlu lagi ada. Butuh pertimbangan yang tidak sebentar, karena bila sedikit saja saya salah memasukkan, maka selamanya akan selalu terbawa sebagai kenangan yang entah nantinya akan saya butuhkan atau nyatanya menjadi tidak menyenangkan.

Pindah tidak selalu mudah. Banyak hati yang harus direlakan keberadaannya. Tentang keluarga, sahabat,  hingga yang saya anggap cinta, ataupun ternyata hanya suka. Kehidupan yang sekiranya dianggap akan lebih terasa lebih indah, nyatanya tidak akan begitu setiap harinya. Ada banyak pertarungan pendapat yang lebih hebat di kedepannya. Untuk masa depan yang bukan lagi hal  main-main untuk diputuskan.

Pindah tidak selalu mudah. Akan banyak cerita tentang hari istimewa yang mungkin tidak akan saya sempat rasakan. Saya lewati, namun tidak untuk saya anggap begitu saja pergi. Tidak hanya kalian yang ingin saya tetap tinggal, begitupun saya. Tidak perlu lagi menambah air mata tertahan, cukup tinggalkan tawa sebagai kenangan.

Terimakasih saya haturkan untuk mereka yang telah meramaikan dua ribu lima belas kemarin. Baik buruknya, saya tetap merundukkan kepala dan melebarkan senyuman untuk setiap inci kesempatan, kesalahan, dan pelajarannya. Untuk mereka yang telah mencoba menyempitkan ruang rindu yang seringkali terlalu lama untuk terisi penuh dengan sebuah pelukan, membantu melegakan diri dalam tawa dan tangis yang seringkali berkepanjangan, menjejakkan tambahan pengalaman akan hal baru yang membekas dalam ingatan, hingga yang pernah datang lalu tinggal atau malah akhirnya melangkah pergi.  Percayalah, hati lebih dari ini. Keraguan yang semula akan terasa begitu mendera akan berganti dengan ketenangan yang tiada henti. Bahwa nyatanya tidak ada alasan yang pantas untuk meninggalkan, kecuali dengan imbalan untuk kembali pulang yang lebih membahagiakan.
Insya Allah.


Sekali lagi, 
selamat datang dua ribu enam belas.
Semoga kita berjodoh kali ini.




Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBy4QQOxuLoeSqk7_s6BvaArEKQqK_aTRAUlxTmdVKN4w_r4CeIzabw3_QYISzJDT_4j7VbG_5ayor8z-VNs8z2i7AKBetWIcqIAyrqBUXMi37LA7fLYxhBH0KMZdaUWsYce7SMtz-Lwtx/s320/tumblr_mgwvl8qRwM1rvvrm4o1_500.jpg




Jambi, awal tahun 2016
Ketika "Float - Sementara" dalam kondisi terputar berulang kali




Aku yang seringkali meng-aku-kan diri, maaf.

Sunday, September 20, 2015

"Aku kini terjatuh dan ingin mencoba untuk dimengerti. Lelah. Ingin sejenak meluruskan kaki yang berat untuk melangkah."

Berkaca pada hal yang seringkali aku hempaskan, seringkali aku mencoba untuk mendobrak rasa keterbatasan yang mengekang terlalu keras. Sakit, memang tidak terlalu. Aku masih kuat untuk menahan diri, untuk tidak tenggelam terlalu jauh. Tetapi seakan terlalu berdarah dan semakin tidak berhenti, kala aku tau bahwa dirimu malah menjauh dan menggelengkan kepala, tanda ketidak mengertian yang menjadi.

Sekelibatan masalah yang merundung di hari-hari belakangan, ah, jangan tanya pula dengan kegagalan yang menghampiri. Keambisiusanku seakan menjadi berkeping, hancur berantakan. Tak sadar, kegagalan tersebut aku jejak tanpa menggunakan alas. Tak kepalang, mengepal sudah tangan ini untuk menghentikan rasa sakit yang menggigit. Menjalar, menyetubuhi kekosongan diri. Hingga akhirnya aku terlalu diam, seakan menjadi terlalu aktif untuk tak bergeming dari peraduanku kini.

Maaf bila akhirnya aku harus melihatmu duduk terdiam mengalirkan perih, karena sikap dingin dan kata-kataku yang membuat kita tak berhenti untuk beradu kata. Air mata yang harusnya tak perlu untuk dikeluarkan oleh makhluk sepertimu, tak sengaja akulah yang menjadi pemicunya. Lelaki ini yang sedang terhempas rasa ketidakmampuan, rasa yang luar biasa mengikis rasa ketidak percayaan dirinya. Lelaki yang mencoba untuk seringkali mengangkatmu dalam keberagaman warna kata, padahal tahu bahwa dirimu tidak akan mampu tergambarkan, walaupun hanya setitik.

Aku yang seringkali meng-aku-kan diri di depan kenyataan pahit, terlalu angkuh, terlihat ingin tetap tersenyum seakan melambai bahwa semuanya baik-baik saja. Namun sebenarnya terkadang tidak mampu melihat dengan tatapan penuh harap. Berpikir bahwa tidak akan ada harapan sedikitpun disana, dengan sesungguhnya mengemban banyak sekali harapan pada kenyataan yang di tinggikan di setiap pundak diri. Berakhirlah aku dengan meracau akan ketidakmampuan diri sendiri, menyedihkan bukan ?

Tapi maaf bila aku tidak menunjukkan sisi yang berkabut ini kepadamu, kepada kalian para penonton setia hidup orang lain. Aku hanya tidak ingin menjadi salah satu pemeran utama di atas panggung perkataanmu. Tidak perlu rasa belas kasih terlalu berlebihan, aku mampu, bila aku mau. Hanya mungkin terkadang butuh jeda sedikit lebih lama untuk menjauh dan berlayar menjelajah, untuk menghangatkan diri yang mendadak membeku, atas ketidakjelasan jalan hidup yang Tuhan seringkali tetapkan. Bukan berarti aku menyerah, bukan begitu.

Teruntukmu yang kini sedang aku usahakan sebagai tempatku kembali pulang, mohon mengerti sedikit lebih banyak lagi. Untuk keadaan yang sedikit lebih baik.

Janjiku, aku akan kembali pulang, secepatnya waktu yang bahkan akan kamu syukuri pada akhirnya.









Jakarta, September 2015
Terinspirasi dari lelaki yang sedang mengumpulkan mimpi besarnya






Dari aku, yang kini sedang ingin istirahat sejenak

Saturday, September 05, 2015

Dear, you.

Seperti halnya mencintai tanpa ada batasan di balik dindingnya, ah, tidak. Bukankah cinta harusnya tak berbatas ? Tak memiliki sudut ataupun dinding yang menghalangi. Begitulah harusnya kita.

Hey, kamu. Duduklah bersamaku kini, akan ku kisahkan sedikit dari rasa sakit yang ingin tetap senantiasa memiliki. Atas nama rindu yang menggigit tapi seakan terabaikan pilunya.

Ketika akhirnya aku memilih untuk berhenti melakukan sesuatu yang sekiranya salah untuk terus di lanjutkan. Mungkin aku akan merasakan banyak keresahan, panjangnya pemikiran, membayangkan segala hal ketidaknyamanan yang mungkin saja akan terasa asing namun terasa, atas nama keterbiasaan akan kehadiran. Namun bukankah akan sedikit lebih melegakan, pada saatnya aku tidak lagi berjalan tersendat, namun melangkah lebih lebar sekiranya menghindari genangan-genangan kenangan.

Keterbiasaan akan menjadi racun ketika memang sudah menjadi darah daging pada hari-hari dalam setahun. Tapi sedikit saja ingin mengenang, bahwa mungkin kita memang membutuhkan jeda yang sedikit lebih lama daripada biasanya. Untuk saling menghangatkan hati, memantapkan diri. Bisakah kita kembali menjadi seperti apa yang pernah kita impikan kedepannya ?

Aku memilih untuk sedikit lebih tidak peduli, oh atau mungkin lebih banyak, dari biasanya. Bukan saja karena mencoba untuk mengenyampingkan rasa resah atas ketidakpercayaan. serta senantiasa sedang ingin mengenyahkan rasa ketidaknyamanan yang kini sedang aku rasakan. Juga karena aku terlalu lelah untuk mengerti lebih jauh dari biasanya.

Maaf, bila prioritas yang seringkali di bicarakan, bukan lagi tentang aku dan kamu - kita. Tapi sudah tentang aku, hidupku, dan masa depanku. Bukan karena kamu tidak lagi ada dalam list masa depan, tapi aku juga sedikit menyangsikan akankah aku ada di dalam list teratasmu ? Saat bahkan kamu tidak mendahulukan rasa nyaman yang sekiranya mampu membuatku tinggal. Catatan untukmu, rasa di pentingkan dan di dahulukan itu mahal sekali rasanya. Mewah.

Maaf, bila aku terlalu naif dalam mengutamakan rasa kenyamanan. Terasa agak sedikit janggal memang. Tapi bukankah kita akan selalu memilih tinggal pada sesuatu yang menenangkan lagi nyaman ? Maaf, bila aku merasa bahwa ke-posesif-an lelaki terhebat - ayah - terhadap diriku dari dulu, ternyata berdampak sangat besar. Dimana aku melihat beliau berusaha mengupayakan segalanya, untuk memberikan rasa terbaik yang akan atau sedang aku miliki.

Kita telah terlalu beranjak jauh lebih dewasa dari yang kita pikir, yang akan berusaha memberikan segala sesuatunya dengan pemikiran panjang. Bukan karena adanya kamu, aku akan mendadak jadi jauh lebih hebat, tapi setidaknya adanya kita mengajarkan bahwa keseriusan bermula lebih dari sekedar pelukan hangat dan canda tawa. Nyatanya dunia bukan hanya berkisar tentang kita saja, bukan ?

Karena cinta bukanlah jawaban dari semua pertanyaan, bukan pula sebuah pernyataan tunggal. Ada lebih banyak hal lagi yang harusnya di pertimbangkan lebih teliti. Karena aku berpikir kita akan berjalan jauh dan tidak mudah untuk melewatinya, tidak akan sesembarang itu kan kita dalam mempersiapkan segalanya ? aku butuh alasan yang cukup kuat untuk membuatku tetap tinggal. Karena mereka yang seserius itu, tidak akan pernah kehabisan akal untuk menunjukkan keseriusannya.

Atas nama rindu dan rasa yang ingin memiliki yang terlalu besar,
Aku yang sedang lelah, kini memilih untuk beristirahat sejenak dan mendahulukan apa yang kini sedang membuatku bahagia.
Yaitu rasa tidak berharap terlalu besar kepada makhluk lainnya.

Because falling in love with someone does not hurt you, but your expectation and that person, does.





Jakarta, September 2015
Kala kota Jambi sedang berkabut, begitupun hati.

 









Teruntuk siapapun yang (harusnya) belajar merelakan

Monday, August 18, 2014

Apa kabar, hati ?

Kilasan kenangan yang lalu seakan memberi salam untuk yang telah terpendam, atau yang seharusnya kini sudah tak perlu lagi meluap ke permukaan.

Kamu, yang hingga kini masih mengharapkan sesuatu untuk kembali dan merajai hari dengan rindu yang baru. Ku haturkan pesan, semoga hatimu baik-baik saja. Aku tidak tahu pasti sudah seletih apa hatimu kini, tapi aku pernah tau bagaimana mencoba untuk menghadapinya. Mencoba menghadapi kenyataan dengan setengah hati yang retak, tidak berdarah pun tampak, tapi rasa sakitnya mendampingi hari, selalu.

Kamu, dengan penuh kebimbangan dan jatuh bangun untuk memperbaiki pondasi hidupmu sendiri, kini mungkin sedang kembali terhempas kala mengetahui, ada yang membuat dia yang kamu sayangi bisa tersenyum bahagia. Memeluk dan menjaga hati, yang mana bukan kamu lagi tujuannya. Lalu apa yang akan kamu lakukan kini ? Kembali jatuhkah, mencoba pura-pura tersenyum walau getir atau menyalahkan kebahagiaan lain yang sedang bersemi dengan syahdunya ?

Mungkin kini kamu mencoba mencari pembenaran atas semua sikap egoismu untuk mendekati dan memiliki yang bukan lagi milikmu, mencari pembenaran bahwa harusnya masih kamu dan selalu kamu yang menyumbangkan alasan di tiap senyumnya. Mungkin juga kini kamu mencari pembenaran untuk setiap kata yang kamu rasa pantas untuk dilontarkan, alasan untuk rasa sakit hatimu. Meskipun kamu menyadari, terselip kesalahan di setiap sudut pembenaran yang kamu lakukan.

Tapi, bukankah yang menyakiti hatimu adalah harapanmu sendiri ?

Harapan bahwa semuanya akan kembali sama seperti dulu, ketika semua cerita masih tentangmu dan dia. Harapan yang sesungguhnya kamu pun tau, bahwa itu semu. Tak jelas asalnya, pun entah mampu terjadi lagi atau tidak, meski doa tak luput kamu lafalkan di setiap mengingat tentangnya. Akhirnya, kamu hanya mendulang rasa sakit kembali.

Tidak ada yang bisa meyakinkanmu bahwa semuanya sudah kembali baik-baik saja, pasti rasa sakit itu masih seringkali berdenyut hebat, atau sesekali malah melumpuhkan persendian kesadaranmu. Tidak pula ada yang bisa menjamin bahwa ini semua telah berakhir, karena Tuhan tak pernah bersuara secara langsung untuk mengatakan persetujuannya tentangmu dan dia, yang kamu cintai.

Aku yang melihatmu dari jauh, mencoba mengirimkan rasa maaf bahwa harus kamu terima kenyataan, yang tentunya sama sekali bukan keinginanmu. Maafkan aku yang telah lancang mengingatkanmu, bahwa kini yang kamu pikirkan masih menjadi salah satu prioritas hidupmu, bukan lagi milikmu. Tapi, sepatutnya kamu menyadari, bahwa apapun yang sedang kamu hadapi hari ini, berharap saja ini hanya sekilas lalu pembelajaran untuk harimu yang sudah pasti lebih baik lagi.

Tak usah terlalu cepat berlari, aku tau hatimu masih belum pulih benar. Tak usah pula terlalu lama mencoba menutup mata untuk melihat kenyataan, kamu telah terlalu lama membohongi hati. Pelan-pelan saja, meski mungkin membutuhkan waktu yang tak sedikit. Karena bila rasa sakit dan ketidaksiapan itu menjadi alasanmu untuk berhenti, entah kapan kamu akan merasa siap. Tidak akan pernah.

Entah nantinya kamu akan membaca dan mencoba berpikir, tetaplah untuk tak berhenti melaju.
Untuk merelakan yang seharusnya kamu relakan.
Bukan saja ini hanya untuknya, tapi juga untuk ketenangan hidupmu.


Karena kebahagiaan lain yang menjadi milikmu,
Kini menunggu untuk ditemukan.











Jakarta, Agustus 2014
Cerah namun sesekali berawan.




Tuhan, tolong ingatkan aku lagi.

Thursday, January 30, 2014


Foto : Myta


Tuhan, aku pernah berjanji bahwa aku akan kembali menatap tanpa adanya genangan air mata,
Tolong ingatkan aku lagi.
Tuhan, aku pernah berjanji bahwa aku akan melangkah tanpa adanya keraguan,
Tolong ingatkan aku lagi.
Tuhan, aku pernah berjanji bahwa aku akan merekam kenyataan tanpa adanya lelah,
Tolong ingatkan aku lagi.
Tuhan, aku pernah berjanji bahwa aku akan menjejakkan kenangan tanpa adanya rasa sesal,
Tolong ingatkan aku lagi.
Tuhan, aku pernah berjanji
bahwa aku akan bergelung dengan mimpi tanpa adanya rasa menyerah,
Tolong ingatkan aku lagi.
Tuhan, aku pernah berjanji bahwa aku akan menciptakan kebahagiaan tanpa adanya rasa pamrih,
Tolong ingatkan aku lagi.
Tuhan, aku pernah berjanji bahwa aku akan kembali mengingat tentang lalu tanpa adanya kemirisan,
Tolong ingatkan aku lagi.
Tuhan, aku pernah berjanji bahwa aku akan mencintai kembali tanpa adanya tertinggal rasa sakit,
Tolong ingatkan aku lagi.

Tuhan, tolong aku.



Berpikirlah sekali lagi, kamu.

Tuesday, April 09, 2013

Hey, kamu.

Ketika kamu membanggakan seseorang yang pernah menyayangi kamu sepenuh hati
Berpikirlah sekali lagi
Karena tidak seharusnya kamu berbangga diri ketika meninggalkan ia dan menjadikannya masa lalu


Ketika kamu mencoba berlari dari masalah yang merintangi
Berpikirlah sekali lagi
Karena masalah itulah yang akan senantiasa menjadi pelatihmu menuju kedewasaan


Ketika kamu mengucapkan alasan yang bukan sebenarnya tentang perpisahan
Berpikirlah sekali lagi
Karena Tuhan maha tau dan dia akan mengungkapnya cepat atau lambat


Ketika kamu lebih memilih kebahagiaan sesaatmu yang dengan mudah mengalihkan
Berpikirlah sekali lagi
Karena kebahagiaan sesungguhnya itu butuh perjuangan diawalnya


Ketika akhirnya kamu menyadari kesalahan yang sudah kamu lakukan
Berpikirlah sekali lagi
Karena kamu harus segera menentukan kemana arah selanjutnya untuk berjalan


Akankah kamu berpikir sekali lagi ?

Ataukah melangkah dan tersandung di kesalahan yang sama lagi ?



Bahagia itu apa ?

Wednesday, March 27, 2013

Bahagia itu diciptakan bukan di tunggu
Entah kapan akan adanya kamu
Berdiri
Memeluk
Membalas senyum
Menghantam kebisuan kita

Bahagia itu merelakan bukan menahan
Ketika akhirnya kebisuan meraja
Seruling kesunyian berbunyi merdu
Terdiamlah kita satu sama lainnya
Menatap tanpa bisa beranjak


Bahagia itu kita
Ada kamu dan aku
Selipan kenangan manis
dan
Harapan 
masa depan


Tapi bahagia itu sialnya tidak selalu ada
Hanya bermodal rindu
Beralaskan rasa
Namun berbalas dengan semu



Kalimat terakhir sebelum (benar-benar) berakhir

Saturday, March 23, 2013

Dari aku yang kini memilih,
Teruntuk kamu yang ternyata tidak pernah bisa bersikap untuk menentukan.



Aku mencintaimu
Aku mencintaimu kemarin dan hari ini
Aku mencintaimu tidak untuk esok dan seterusnya
Karena ketika kamu melangkah pergi dan aku menutup pintu
Maka kita sama-sama tau tidak akan ada kesempatan selanjutnya
Untuk kita.


Mungkin ini adalah tangis terakhir yang akan kamu lihat, karenamu
Mungkin juga ini adalah ekspresi kesedihan terakhir yang akan kamu lihat, karenamu
Karena mungkin nanti aku akan menggantinya
Dengan tawa dan ekspresi kebahagiaan
Tapi tidak lagi karenamu


Maaf atas perilaku yang membingungkanmu
Maaf atas sikap yang seringkali membuatmu memilih
Tapi kali ini biarkan aku menentukan dan menetapkan
Biarkan kita berjalan di jalan yang terpisah, meski bagiku susah
Maaf aku tak berhasil membuatmu bisa melakukan kata 'maaf' dan 'sayang' dengan tulus
Maaf
Maaf


Terimakasih untuk mengajarkanku bagaimana mencintai seseorang dengan hati
Terimakasih sekali karenamu aku tau bagaimana susahnya membangun kepercayaan
Terimakasih untuk mengingatkan agar bertahan entah di saat senang atau susah
Terimakasih sekali karenamu aku lebih kuat dan bersyukur
Terimakasih untuk mengajarkanku bagaimana harusnya bertanggung jawab atas rasa orang lain


Aku berjanji untuk selalu mengusahakan segala yang meski kini terlihat mustahil
Aku berjanji untuk jadi lebih baik, demi diriku sendiri
Aku berjanji kini akan berusaha membahagiakan mereka yang menyayangiku tanpa henti
Aku berjanji akan berusaha  berbahagia, di sela dahaga akan kamu
Aku berjanji jika nanti datang seseorang yang pantas untuk aku percayai
Aku akan menjaga hati dan dirinya, hingga ia tak merasa sendiri
Aku akan berjanji tidak akan membuatnya merasakan sakit
Seperti yang tak sengaja kamu torehkan untuk kali ini
Lebih dari kemarin.


Kamu hanya sedang di atas
Kamu hanya sedang lupa rasanya di bawah
Tuhan selalu mendengar dan Dia melihat
Hanya Dia yang bisa menyadarkanmu dari keadaan
Berhatihatilah dengan sikapmu, sayang.


Meski kamu pantas untuk diperjuangkan
Entah olehku atau olehnya yang lain
Meski aku telah memberikan 'segalanya' yang ku punya
Untuk tetap bertahan
Mungkin
Aku hanya memang tak sekuat itu untuk memperjuangkanmu hingga akhir



Ternyata hanya cara ini yang bisa Tuhan lakukan,
untuk membuatku akhirnya menyerah.



Tapi dari sekian kalimat yang ingin aku ucapkan
Aku mohon sesuatu kepadamu
Berbahagialah
Karena sakitku kali ini untuk melihat kebahagiaanmu
Hingga nanti aku mendengar rasa sakitmu ada dan nyata
Aku akan menyesali keputusanku untuk meninggalkanmu tanpa pelajaran berarti.


Aku  yang kemarin memilihmu dengan relanya.
Namun kini melepaskan dengan segala rasanya.


Ya, aku.








Terimakasih untuk mencoba meski berhenti di 22. Ya, kamu. :)








Katakan kepadaku

Monday, December 24, 2012

Untuk kamu yang entah sadar atau tidak dirinya tengah dipertimbangkan perjuangannya.
Taukah kamu bahwa menunggumu itu bukan hal yang mudah
Taukah kamu bahwa aku disini sedang dikelilingi banyak godaan
Taukah kamu bahwa berusaha untuk berkata tidak ketika keadaan meng-iya-kan itu sulit
Taukah kamu bahwa menimbang kembali keputusan untuk melihatmu kembali itu mesti bertarung dengan logika terlebih dahulu

Untuk kamu yang entah sadar atau tidak tengah diterima kembali dikehidupanku
Sadarkah kamu bagaimana sulitnya membangun kepercayaan dari awal
Sadarkah kamu betapa tidak menyenangkannya membangun harapan kembali
Sadarkah kamu betapa susahnya menyepelekan rasa sakit yang masih terasa
Sadarkah kamu bagaimana berusahanya aku untuk membutakan logika ketika ia berkata "Jangan"

Untuk kamu yang entah sadar atau tidak telah memintaku menunggu untuk waktu yang tak tentu
Haruskah aku katakan kembali bagaimana tidak enaknya menunggu tanpa kepastian
Haruskah aku ceritakan kembali bagaimana tidak nyamannya diganggu perasaan tak tenang
Haruskah aku tunjukkan kembali bagaimana tidak senangnya aku disaat semua rencana hanya harapan
Haruskah aku bisikkan kembali bagaimana tidak tenangnya hati ketika tak tau kemana harus melangkah

Jadi harus dengan sakit yang bagaimana lagi agar kamu tau bagaimana susahnya memperjuangkan yang kamu sayang ?
Jadi harus dengan kata-kata bagaimana lagi agar kamu menyadari bagaimana resahnya menunggu ?
Jadi harus dengan sikap bagaimana lagi agar kamu melihat tentang beratnya meyakinkan diri sendiri setelah sebelumnya terluka ?

Katakan padaku, agar aku mengerti. Aku harus apa ?





24 Desember 2012
Senin yang menyaksikan pertarungan hati dan logika.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS