Showing posts with label Kotak Surat. Show all posts
Showing posts with label Kotak Surat. Show all posts

Surat untuk diri sendiri di tahun mendatang - Part 1

Thursday, April 20, 2017

Teruntuk diriku sendiri, di lima atau sepuluh tahun mendatang.

Hai, bagaimana keadaanmu hari ini ? apakah akan lebih baik daripada hari ini ?
Apakah kebebasan bertindak yang seringkali kamu impikan, sedikit bisa terwujud ?
Semoga saja, “Iya” jawabmu meski sambil berbisik.

Jika pada hari ini, terbaca olehmu post usang yang tertulis kala usiamu masih 25 tahun. Usia seperempat abad yang menuntutmu memiliki banyak pencapaian lebih dari adik-adikmu. Untuk membuktikan bahwa keluarga—terutama kedua orangtua—sukses mendidik anaknya. Akan ada sedikit pengingat untuk diri, yang mungkin sekarang telah memiliki jauh lebih banyak tanggung jawab. Keluarga kecilmu dengan Dia yang kamu sayangi.

Apakah telah ada malaikat kecil sebagai pelengkap hari ? Bagaimana rupanya ? Lucu dan menggemaskan ya sepertinya. Sebagaimana tingkah diri yang seringkali diceritakan oleh keluarga dan mereka yang acap kali menimangmu ketika masih kecil. Pasti telah banyak pemikiran dan impian-impian yang diri dan Dia rumuskan untuk masa depannya. Seru sekali memikirkan bagaimana pencapaian itu akan terjadi dengan dibarengi langkahmu di sisinya.

Sebelum semua hal selesai diterapkan,  satu hal pertama yang akan aku ingatkan; 
Jangan biarkan malaikat kecilmu selalu menuruti apa maumu. Biarkan ia mengambil langkah yang ia inginkan, hargai dan dukunglah.

Jangan biarkan segala hal yang tidak mampu diri sendiri lakukan pada masa lampau, menjadi tolak ukur untuk segala hal baik yang harus malaikat kecilmu lakukan. Ia tidak pernah memilih untuk menjadi seseorang yang akan mengemban tanggung jawab atas ketidakmampuanmu di masa lalu. Jadi, jangan jadikan ia salah satu jembatanmu, kecuali ia menginginkannya.

Jangan selalu mengambil alih segala pilihan yang akan ia tapaki kedepannya dan membuatnya terkesan untuk diam tak bisa mengungkapkan pendapat, sebagaimana yang pernah diri sendiri pernah alami. Karena ketika nanti ia dewasa, ia akan sedikit kesusahan dalam mengambil keputusan-keputusan untuk hidupnya. Biarkan ia belajar bertanggung jawab sedari dini untuk segala keputusan yang ia ambil. Ajarkan ia bahwa dirinya sendiri adalah pribadi yang harus dihormati pandangan dan keberadaannya, tidak hanya orang lain. Hingga nanti yang ia sadari, bahwa tidak mudah bagi orang lain untuk mempengaruhi prinsip hidupnya, ataupun mencemooh pendapatnya. Karena ia tau bahwa dirinya seberharga itu, dengan porsi yang seharusnya. Tidak kurang, pun tidak berlebihan hingga mengecilkan orang lain.

Tidakkah ingat bagaimana di malam-malam tertentu, upaya diri untuk tertidur malah berujung berbagai macam evaluasi diri atas segala hal yang tidak selesai diwujudkan. Membuatmu menangis, mengutuki ketidakmampuan dan berakhir dengan keinginan lari dari segala tanggung jawab. Jangan sampai malaikat kecilmu mengalami hal yang sama. Biarkan ia bersyukur untuk segala kekalahan atau kemenangannya di kemudian hari, dengan sepenuh hati bahwa dirinya sendiri juga menyumbangkan langkah untuk mengambil keputusan besar tersebut. Dan tak lupa rasa haru yang menyelimuti untuk menyadari bahwa dirinya telah didorong dan didukung penuh oleh keluarga kecil yang teramat menyayangi dan menghargai segala keputusannya, sedari awal.

Pertimbanganmu mungkin akan jauh diatas dari ia yang belum mengetahui apapun, tapi setiap manusia akan selalu memiliki keinginan atas kebebasannya sendiri. Belajarlah dari dirimu sendiri yang 25 tahun telah hidup dan masih menginginkan kebebasan tersebut.

Cukup berikan pandangan lain dari setiap langkah yang akan ia tuju, tidak selalu bicara akan batasan
Cukup berikan jalan yang entah akan lebar atau sempit, setidaknya berikan Ia tempat untuk menapak
Cukup berikan Ia ruang untuk mengambil alih tanggung jawab dan menyelesaikannya
Cukup berikan Ia pelukan ketika lelah terlihat saat ia berusaha, ucapkan bahwa apapun pencapaian baik yang ia lakukan adalah kebanggaanmu
Cukup ajarkan hal tersebut untuk menjadi kebiasaan pada diri sendiri.

Bebaskan ia dengan sewajarnya, sebelum ia memaksa untuk lari darimu, dan menghukum diri tak berkesudahan.






Backsound : Dive - Ed Sheeran
Ketika ingin belajar untuk mencintai  seseorang dengan  memberikannya kebebasan seperlu yang ia inginkan.






#SuratUntukFebruari

Thursday, February 02, 2017



Surat untuk februari ini akan saya dedikasikan untuk luka lama yang terkadang terlintas, tapi nyerinya sudah tak lagi mengganggu meski sepintas.



Hai ...
Lama tidak berjumpa, kamu, yang berbelit akan rasa pedih yang merintih. Luka lama yang kini sedang saya perbincangkan sudah tidak terasa lagi, meski didendangkan dengan mata terbuka dan alunan lagu kesukaan. 

Kilas balik, kamu, adalah yang pernah menjadi alasan utama untuk setiap tetes air yang jatuh dari sudut mata. Pencetus pertama untuk ketidaknyamanan ketika tertidur, hingga rasa paling tidak bisa teraba meski hidangan yang tersaji di depan mata adalah apa yang disuguhkan dengan segenap cita.

Duka, adalah nama panggung yang lupa untuk di sebutkan, tapi lambat laun saya mengerti adanya. Berperan sangat tak diduga, menjadikan hidup seorang anak manusia berubah genre; parodi dengan tawa getir yang melintir. Sialnya, memang sebuah "luka lama" yang tidak akan pernah saya harapkan kehadirannya, tapi selalu tak pernah lupa untuk berkunjung di akhir cerita. Satu demi satu pemain bernafaskan kamu, mencoba memporakpandakan sebuah angan yang sudah membubung tinggi. Sayangnya, rencana itu berhasil sempurna dan menjatuhkannya kembali dalam bentuk serpihan, tak bersisa. 

Tanya saja bagaimana sebuah genggam yang dulu melekat erat, perlahan-lahan mengendurkan diri tanpa perlu diminta lagi. Bagaimana sebuah perjuangan untuk mendobrak sebuah pintu jati diri, akhirnya lelah dan beranjak pergi.

Meski seringkali candu akan bibirmu yang melepaskan aksara cinta dan tawa, tanganmu yang penuh sentuhan mesra, matamu yang merefleksikan masa demi masa, ataupun langkahmu yang seringkali menyeimbangkan rasa. Saya memilih untuk pamit diri, berkubang dengan segala yang pedih ternyata mampu membuat jiwa terkikis sedih.

Kembali, saya mengingatkan, berbahagialah.
Lahirlah menjadi sebuah alasan untuk senyum lain yang tak pernah lagi patah.
Tak perlu lah sering mengenang yang mungkin lebih baik terduduk di sudut dengan tenang.
Cukup jadikan sandiwara yang pernah menjadikan kita pemain utama, sebuah cerita yang harusnya terlintas tanpa terasa kebas.
Begitupun saya, kini sedang bersiap untuk bertemu hari demi hari yang semoga tidak pernah memakamkan diri.








Jambi, Februari 2017
#SuratUntukFebruari pertama







Dari aku, yang kini sedang ingin istirahat sejenak

Saturday, September 05, 2015

Dear, you.

Seperti halnya mencintai tanpa ada batasan di balik dindingnya, ah, tidak. Bukankah cinta harusnya tak berbatas ? Tak memiliki sudut ataupun dinding yang menghalangi. Begitulah harusnya kita.

Hey, kamu. Duduklah bersamaku kini, akan ku kisahkan sedikit dari rasa sakit yang ingin tetap senantiasa memiliki. Atas nama rindu yang menggigit tapi seakan terabaikan pilunya.

Ketika akhirnya aku memilih untuk berhenti melakukan sesuatu yang sekiranya salah untuk terus di lanjutkan. Mungkin aku akan merasakan banyak keresahan, panjangnya pemikiran, membayangkan segala hal ketidaknyamanan yang mungkin saja akan terasa asing namun terasa, atas nama keterbiasaan akan kehadiran. Namun bukankah akan sedikit lebih melegakan, pada saatnya aku tidak lagi berjalan tersendat, namun melangkah lebih lebar sekiranya menghindari genangan-genangan kenangan.

Keterbiasaan akan menjadi racun ketika memang sudah menjadi darah daging pada hari-hari dalam setahun. Tapi sedikit saja ingin mengenang, bahwa mungkin kita memang membutuhkan jeda yang sedikit lebih lama daripada biasanya. Untuk saling menghangatkan hati, memantapkan diri. Bisakah kita kembali menjadi seperti apa yang pernah kita impikan kedepannya ?

Aku memilih untuk sedikit lebih tidak peduli, oh atau mungkin lebih banyak, dari biasanya. Bukan saja karena mencoba untuk mengenyampingkan rasa resah atas ketidakpercayaan. serta senantiasa sedang ingin mengenyahkan rasa ketidaknyamanan yang kini sedang aku rasakan. Juga karena aku terlalu lelah untuk mengerti lebih jauh dari biasanya.

Maaf, bila prioritas yang seringkali di bicarakan, bukan lagi tentang aku dan kamu - kita. Tapi sudah tentang aku, hidupku, dan masa depanku. Bukan karena kamu tidak lagi ada dalam list masa depan, tapi aku juga sedikit menyangsikan akankah aku ada di dalam list teratasmu ? Saat bahkan kamu tidak mendahulukan rasa nyaman yang sekiranya mampu membuatku tinggal. Catatan untukmu, rasa di pentingkan dan di dahulukan itu mahal sekali rasanya. Mewah.

Maaf, bila aku terlalu naif dalam mengutamakan rasa kenyamanan. Terasa agak sedikit janggal memang. Tapi bukankah kita akan selalu memilih tinggal pada sesuatu yang menenangkan lagi nyaman ? Maaf, bila aku merasa bahwa ke-posesif-an lelaki terhebat - ayah - terhadap diriku dari dulu, ternyata berdampak sangat besar. Dimana aku melihat beliau berusaha mengupayakan segalanya, untuk memberikan rasa terbaik yang akan atau sedang aku miliki.

Kita telah terlalu beranjak jauh lebih dewasa dari yang kita pikir, yang akan berusaha memberikan segala sesuatunya dengan pemikiran panjang. Bukan karena adanya kamu, aku akan mendadak jadi jauh lebih hebat, tapi setidaknya adanya kita mengajarkan bahwa keseriusan bermula lebih dari sekedar pelukan hangat dan canda tawa. Nyatanya dunia bukan hanya berkisar tentang kita saja, bukan ?

Karena cinta bukanlah jawaban dari semua pertanyaan, bukan pula sebuah pernyataan tunggal. Ada lebih banyak hal lagi yang harusnya di pertimbangkan lebih teliti. Karena aku berpikir kita akan berjalan jauh dan tidak mudah untuk melewatinya, tidak akan sesembarang itu kan kita dalam mempersiapkan segalanya ? aku butuh alasan yang cukup kuat untuk membuatku tetap tinggal. Karena mereka yang seserius itu, tidak akan pernah kehabisan akal untuk menunjukkan keseriusannya.

Atas nama rindu dan rasa yang ingin memiliki yang terlalu besar,
Aku yang sedang lelah, kini memilih untuk beristirahat sejenak dan mendahulukan apa yang kini sedang membuatku bahagia.
Yaitu rasa tidak berharap terlalu besar kepada makhluk lainnya.

Because falling in love with someone does not hurt you, but your expectation and that person, does.





Jakarta, September 2015
Kala kota Jambi sedang berkabut, begitupun hati.

 









Untuk segala perihmu, Maaf.

Thursday, September 25, 2014

Dear, Kamu.

Pernahkah kamu merasa bahwa kaki sudah terlalu lelah untuk menajajaki hari dan memilih sesuatu?

Pernahkah kamu merasa bahwa tangan sudah terlalu letih untuk menghapus peluh dalam pencarian?

Pernahkah kamu merasa bahwa hatimu sudah terlalu lemah untuk kembali mengembalikan rasa menjadi utuh ?

Aku pernah, dan kala itu, hati telah memilih untuk berdiam. Meski kaki masih ingin beranjak dan tangan ingin bergerak. Kala itu, hati telah memilih untuk tinggal. Meski kaki masih ingin berlari menyusuri dan tangan ingin merajah. Kala itu, kala aku melihatmu.

Banyak hal yang datang silih berganti, serasa menjanjikan masa depan pun berusaha menggoyahkannya. Ketika akhirnya yang aku lihat adalah tetap kamu, dan hanya kamu. Aku merasa segalanya menjadi baik-baik saja. Tidak peduli berapa banyak harus air mata menjelajah pipi, dan tangan menutup mata untuk sesekali membutakan pandangan. Selama ada tangan yang mendekap dan membuatku harus menghentikan tangis, tanganmu. Karena aku sadar, apapun yang terlalu hebat di akhir tidak akan pernah mudah untuk di lakukan pada awal dan prosesnya.

Entah sudah berapa kali aku merengek manja, meminta sesuatu bahkan hanya bertubi-tubi pelukan darimu sebelum akhirnya kita berpisah, dan kamu kembali ke rumah. Sungguh, aku sedikit merasa kesal untuk memiliki pertemuan denganmu, karena akan selalu ada rindu yang menggebu dengan lebih hebatnya, ketika perpisahan terjadi, meski hanya untuk beberapa saat. Entah sudah berapa kali aku menyebutmu terlalu egois untuk lebih mementingkan sesuatu daripada keberadaanku. Merasa bahwa apapun tentangku harusnya menjadi utamamu. Tapi entah sudah berapa kali pula, kamu merendahkan ego dan mengikuti mauku. Mencoba menggenggam kala aku mencoba melepaskan serta membuatmu menjauh, dan membuatku menjadi yang utama ketika seringkali luput aku sadari maksudnya. Entah sudah berapa kali juga, akhirnya kamu membuatku harus menancapkan rasa tak mampu kehilangan atasmu dengan lebih hebat, tanpa perlu kamu pinta.

Tak perlu harus benturkan kepala untuk kehilangan akal sehat, bagiku, cukup mendadak kamu mencoba untuk membalikkan harapan saja sudah mampu membuatku tak tentu arah. Seakan, esok sudah menjadi pudar di pandangan. Ketika hari aku membuat kesalahan yang menorehkan rasa luka, membuatmu menelan rasa perih. Tanpa sadar aku tak henti memohon agar Tuhan menghilangkan rasa perih tak bertuan itu, memberikan aku kemampuan untuk membalutnya dengan rapi meski butuh waktu yang entah harus berapa lama. Pun, ingin aku berdiam di depan pandangmu, untuk akhirnya kamu mau kembali menjatuhkan pandangan untukku kembali.

Aku tidak mengerti secara pasti bagaimana luka itu mampu membuat jantungmu berdegup lebih kencang karena emosi, tidak mengenal secara benar bagaimana luka itu mampu membuat harimu menjadi tidak terasa benar. Satu hal yang aku tahu pasti, aku mencintaimu dengan akhirnya merasakan bahwa rasa sakit itu nyata adanya.


Di dalam untaian tulisan yang mungkin saja hanya akan kamu baca sekilas, ataupun ketika kamu terlalu lelah untuk mengeja, karena kegiatan tanpa henti terlalu menyita waktu. Aku meminta maaf untuk setiap tetes air mata yang entah kenapa tak mampu aku halangi untuk mengalir. Aku meminta maaf untuk melihatmu dengan tatapan yang entah seperti apa aku tak bisa menjelaskan. Karena tidak peduli harus berlari sejauh mana lagi, untuk akhirnya bisa menggenggammu dengan nyata. Tidak peduli sudah berapa kali aku menekan rasa takut akan sekeliling, untuk akhirnya bisa mendengar suaramu yang melegakan. Tidak peduli kemarin atau nanti akan datang seseorang yang lebih hebat kedalam kehidupanku, aku hanya ingin mencoba untuk berhenti di kamu.

Untuk segala kata dan rasa yang terlalu perih untuk di jabarkan,
aku melepaskan segala hal tentang keegoisan,
aku meminta maaf, maaf, maaf.

Terimakasih untuk pernah dan masih membuatku merasa bahwa masa depan terasa begitu nyata,
Terimakasih untuk membuatku ingin terus bertahan,
Terimakasih untuk tetap tinggal,

Kamu.





Dari seseorang yang mencoba untuk tetap ada pada segala tentangmu,

aku.







Dear, my future husband

Friday, September 05, 2014




Dear, my future husband.


Siapapun kamu di masa depan, istrimu yang masih berusia 22 tahun ini ingin mengucapkan rasa terima kasihnya, karena sudah mempercayakan masa depanmu bersamanya. Meski hanya melalui sebuah post singkat, tapi semua yang tertulis disini adalah ketulusannya.

Hai, bagaimanakah rupamu sang pengelana yang menetap ? Maaf, aku masih bertanya-tanya, kini.
Tak peduli bagaimana binar matamu berbicara, seberapa banyak helaan nafasmu per waktu, dan berapa banyak langkah hari yang telah kita lalui dalam perkenalan, satu hal yang kuketahui pasti, dirimu yan menetap dan semoga tidak pernah memilih untuk pergi, adalah seseorang yang di genggamnya aku hentikan pencarian dan melabuhkan segala harapan.

Ketika nanti kita sudah menyatukan dua misi, dua keluarga dan dua pendapat yang berbeda, semoga apapun alasan yang harusnya membuat kita berpisah, mampu mengeratkan kembali apa yang hendak terlepas. Menjadi seseorang yang berdiri satu shaff di belakangmu, mencium tanganmu kemanapun kita akan melepaskan pelukan, meminta izinmu atas segala yang akan aku lakukan, dan menjadi satu-satunya hal halal bagimu untuk menerima semua rasa bahagia dan berbagi duka.

Bagaimanapun rupamu, sifatmu dan impianmu, mungkin saja semuanya adalah jawaban dari setiap harapanku saat menengadahkan tangan, dan berbicara dengan Tuhan untuk setiap pertanyaan, siapakah yang nantinya menjadi teman seumur hidup ?

Hari demi hari akan kita lewati dengan menanjakkan kaki lebih kuat, dan melewati berbagai masalah dengan segala hal yang kita berdua miliki. Melewati segala musim dengan segala kemungkinan terbaik maupun terburuk. Melengkapi hari dengan pelukan sebagai pembuka dan penutupnya. Namun, maaf bila nantinya akan bertambah orang yang sangat aku cintai, tempat aku menggantungkan harapanku selanjutnya, perpaduan rupamu dan rupaku, akan ku panggil mereka dengan bangga, my future children.

Teruntuk kamu, pendamping, teman dan calon dari anak-anakku kelak, apapun nanti amarah yang terbakar dan membuatku melontarkan hal yang menyakitkan, atapun tingkah laku yang mampu membuat hatimu sakit, mohon maafkan aku, dan ingatlah bahwa tidak ada siapapun di dunia ini yang mampu mendeskripsikan, sebagaimana besar dan tulusnya rasa sayang yang aku miliki untukmu.

Maaf untuk segala kata yang terkesan melankolis, aku hanya tidak mampu menggambarkan bagaimana rasa bahagia yang aku miliki di hari penyatuan kita nanti.

Tak peduli bagaimana jauh jarak diriku nanti dari orang-orang yang aku sayangi,
Tak peduli bagaimana rasa rinduku yang begitu hebat atas kenyamanan rumah dan kenangan di masa kecil,
Tak peduli bagaimana hal terpenting milikku yang tersisa adalah dirimu, 
Because when I'm with you, I'm home.






With love,

Your future wife





Dear, myself on 5 years later

Friday, August 29, 2014




Dear, myself on 5 years later

You're young, selfish, and unpredictable. Until one day, di umur 22 tahun tiba-tiba terpikir, 5 Tahun lagi mau jadi apa ya ?

Seringkali kita terlalu terpaku untuk menjalani hari demi hari, dan terlupa untuk merencanakan masa depan, yang pastinya akan bermula dari hari ini. Begitu juga dirimu ini, terlalu sibuk meski hanya untuk berimajinasi. Hampir saja lupa bagaimana rasanya membahagiakan diri dengan menyusun rencana masa depan.

Hari ini, entah kenapa ingin sekali menuliskan sesuatu tentang rencana masa depan. Harapan, pastinya. Dimulai dari angan untuk 5 tahun yang akan datang. Karena, 5 tahun bukan waktu yang terlalu lama untuk dijalani dan merancanakan sesuatu dengan matang. 5 tahun yang akan datang, ada banyak hal yang ingin di raih, di explore, di temukan, dan masih banyak lagi. Pastinya, 5 tahun lagi, entah kenapa dirimu ini menuliskan ada 5 hal pasti yang ingin di wujudkan. 
  1. Tabungan masa depan
  2. Rumah
  3. Kendaraan tambahan hasil sendiri
  4. Memiliki seorang pendamping untuk seumur hidup dan membangun keluarga kecil
  5. Menjadi seorang ibu.
Bagi beberapa orang memang apa yang aku tuliskan untuk pencapaian di 5 tahun yang akan datang merupakan hal yang terkesan biasa. Tapi, tidak untuk aku yang masih seringkali susah dan bandel untuk bertanggung jawab dengan masa depan. Ada banyak alasan kenapa hal seperti ini bahkan tertulis dengan lugas di halaman ini, mungkin karena ini seperti rekam jejak dan pengingat untuk segala ke-alfa-an yang mungkin saja akan aku lakukan di masa depan. Meskipun kita tau bahwa Takdir, Jodoh, Rezeki dan Kematian adalah kuasa-Nya, kita seringkali lupa untuk menyatukan ramuan doa, dengan kerasnya usaha yang nanti menentukan hasil akhir. Man Jadda WaJada, bukankah begitu ?

Untuk segala hal urusan duniawi, kebutuhan tersier, sekunder dan primer dan entah kebutuhan umum lainnya, tentu hal yang mesti aku tekankan untuk dipersiapkan segala simpanannya--tabungan maksudnya--dalam menghadapi kebutuhan di masa depan. Karena kita tidak akan tahu, apa yang akan kita hadapi. Tuhan pun bersabda bahwa Dia tidak akan mengubah nasib seorang umat, tanpa usaha mereka sendiri, bukan ?

Ada yang bilang, "Ketika kamu bisa membayangkan masa depan bersamanya, dia pantas untuk di perjuangkan." kalimat sederhana yang membuatku tersenyum dan meninggalkan rasa hangat. Untuk hal ini, aku kira berlaku untuk masa depan yang nanti akan aku jajaki hari demi harinya. Karena, aku tidak akan bersifat munafik untuk mengaku bahwa salah satu alasanku untuk memilih seorang pasangan hidup, bukan saja nantinya ia bisa meng-imam-i keluarga kecilnya dekat tidak hanya kepada Tuhan, tapi juga keluarga dan orang lain. Tapi juga ia yang mampu bertanggung jawab untuk memberikan masa depan yang nyata, nyaman dan aman untuk calon keluarganya kelak. Sebagai seorang perempuan --meski masih 22 tahun-- pikiran untuk melangkah jauh dalam menjalan sebuah hubungan tentu saja ada, perasaan dan doa untuk menjadikan kali ini sebagai hubungan yang terakhir dan semoga untuk selamanya, terpartri dalam ingatan. Entah kenapa, untuk kai ini, pemikiran untuk melangkah ke masa depan, tampak dengan lebih nyata. Ucap syukur kepada Tuhan seringkali aku lontarkan selepas ku bersujud kepada-Nya.

Segala keinginan pribadi atas nama naluri seseorang yang belum menikah, melihat segala sesuatu yang menarik dan ingin memiliki segalanya tanpa terpikir apakah benar-benar membutuhkan atau tidak. Konsep ini hanya aku, atau orang lain juga begitu ? :))

Tetapi beberapa bulan belakangan, entah kenapa, pemikiran sudah jauh untuk membandingkan dan memilah mana yang ingin dimiliki, digunakan atau hanya keinginan sesaat. Ah, terdengar sudah agak tua, apalagi pemikiranku di 5 tahun yang akan datang. Mulai belajar untuk memasuki wilayah dapur--sejujurnya dulu jarang sekali tersentuh--, sudah mencoba beberapa resep makanan yang simple dan menghidangkannya ke keluarga terdekat.

Sekarang segala hal yang diinginkan sedang dalam proses dalam usaha dan doa untuk di wujudkan dalam nyata. Semoga Tuhan selalu menunjukkan mana yang terbaik yang harusnya aku jalani. Dan teruntuk diriku di umur 5 tahun yang akan datang, which means 27 years old, catatan singkat ini semoga bisa mengingatkan bagaimana ketidaktahuanmu tentang masa depan namun bermimpi dan berusaha menggariskan yang diinginkan dalam 5 tahun yang akan datang. I'm gonna meet you 5 years later, Apakah semuanya berjalan sesuai rencana ? I hope so.




Tertanda, dirimu di umur 22 tahun.
Jakarta, Agustus 2014
Antara usaha, doa dan rencana masa depan.





Ps:
Kalau kamu, ingin menjadi seperti apakah dalam 5 tahun yang akan datang ?
Let's write it down and see how's your life change.
Selamat bermimpi dan merencakan masa depan!



Behind The Story (7 Days To Remember)

Friday, May 30, 2014

 
BEHIND THE STORY
OF
"7 DAYS OF REMEMBER" AND
"NGEMIL EKSIS KE INGGRIS GRATIS BARENG MISTER POTATO"
 
 
  
 

Pengen berangkat ke Inggris gratis ?

BANGET! Ke Inggrisnya aja ditawarin mau-mau-mau-mau-BANGET, apalagi bisa gratis.

Terus, kenapa harus pilih kamu buat jadi salah satu pemenang ?
Well, karena gue udah usaha pake doa sesuai yang seharusnya dan mungkin gue bakal cerita sedikit ya………
Bermula dari ke eksisan para selebtweet yang mempromosikan #InggrisGratis nya @MisterPotato_id gue pun awalnya juga gak terlalu yakin bakalan menang. Liat aja yang submit. Semriwing banget tulisannya pada bagus-bagus. Mendadak gue nge-down.
Tapi, gue teringat seseorang yang pernah nanya ke gue langsung,
“Mimpi kamu mau ke Inggris ? Terus, udah usaha apa aja buat sampe ke sana ?”  - Mrs. Avanti
Saat itu gue Cuma bisa cengar-cengir gak jelas dan belum menentukan harus pake jalan apa kesana. Beasiswa ? Uang pribadi ? Rada-rada berat sih dua-duanya. *nyengir lagi*
Hingga beberapa hari lalu gue membaca tentang #InggrisGratis dan gue ngerasa mendapat hidayah *tear* THIS IS YOUR CHANCE! *suara beratberat basah ala pembawa acara berita*
Mulailah gue searching semua hal yang dibutuhkan, buat bisa dilirik para juri dan di jadikan pemenang. Mencari informasi tentang England, yang makin giat aja gue lakukan berhubung deadline waktunya tinggal sebentar lagi. Merepotkan adek-adek dalam hal “Dek, kakak titip Veetoooosssss yah. Banyak-banyak. Doa dulu sebelum milih. Kesempatan kakak, ada di tanganmu, dek!” atau “Dek, fotoin kakak dong. Kakak tau kamu pasti bisa!” *nyeret adek yang lagi anteng nonton kartun di hari libur* Bahkan saking antengnya di depan laptop, nyokap sambil terharu gak mau ganggu dan bertanya, “Kak, skripsinya udahan ?” Pertanyaan yang berulangkali gue jawab “Udah, bu.” Tapi nyokap kayaknya masih gak percaya. *Sigh*
Dengn ke-gabut-an LUAR BIASA selama gue lagi liburan di Jambi, dan lagi banyaknya di terpa kegagalan dari beberapa hal beberapa waktu ke belakang, gue melampiaskan dengan kembali membuat cerita dan menulis di blog lagi. Setelah sebelumnya sempat gak punya ide buat nulis. Jadi, dimulailah bergadang beberapa malam terakhir, ngebut buat bikin cerita dari kerangka, nama, tempat, alur, blablabla. Dengan kondisi badan dari yang sehat, agak gak enak badan sampai sebentar-sebentar mesti gegulingan karena efek PMS. You know lah ya. Rasa-rasa tangan pengennya ngetik bukan di teken tapi di tonjok tiap tombol keyboardnya.
Akhirnya lahirlah cerita-mepet-tiga-hari-gue “7 DAYS TO REMEMBER” *Jengjeng* gue berharap bisa sedikit banyak menampilkan gambaran, informasi dan keindahan Inggris serta sedikit dari BANYAK alasan "Kenapa gue harus menginjakkan kaki di Inggris ?".  Mulai dari menikmati 7 stadion legendaris di Inggris, yang gue pengen banget loncat-loncat sambil selfie biar bikin orang iri karena melewatkan kesempatan besar kayak gitu *smirk* gak deng, karena emang kemegahan para stadion itu menggiurkan banget buat dipandang langsung. Hingga menikmati sudut kota Inggris dengan keindahan sejarah dan pemandangannya yang gak pernah mati. Mulai dari bergaya ala Kate Middleton di Westminster Abbey, Menikmati senja atau malam hari dari London Eye, menikmati perpindahan waktu di sisi Big Ben atau berimajinasi jadi detektif dadakan di The Sherlock Holmes Museum, sekalian membayangkan bagaimana kehidupan England menginspirasi Shakespeare yang mampu membuat karya se-legendaris Romeo and Juliet, Othello, Macbeth, etc. Masih banyak tempat-tempat menakjubkan lainnya yang kebanyakan buat ditulis tapi gak bakal bosen buat di datengin. Klise sih bilang kalo ke Inggris itu salah satu impian, karena pasti banyak yang pake alasan itu, tapi itu salah satu alasan lain yang gue punya. Jadi, tetep harus dimasukkan! *Gak mau pilih kasih* Oh iya, gue juga pengen puas-puasin norak memanjakan telinga mendengar aksen british warga sana. : ))
Emang harus banget menang ?
Harus atau enggaknya sih ya tergantung pilihan para Juri yang tsakep dan pastinya mempunyai alasan kuat dalam memilih, dan semoga tulisan gue salah satu pilihannya *wink* tapi  gue sih berpikirnya harus, karena gue udah menggalakan usaha (lumayan) keras buat ikutan submit entry seperti peserta lainnya dan doa di tiap jentikkan tombol keyboard. Tinggal tunggu gimana hasil yang bakal di keluarin para juri. *Cross my fingers*
Gak lupa mau bilang, MAKASIH YA MISTEEEEEEEEEEEEERRR POTATO UDAH KASIH IDE NULIS DAN KESEMPATAN. Karena salah satu impian besar gue lainnya ya bikin buku, dan nulis di blog salah satu cara gue buat merealisasikan impian. Mungkin aja, suatu saat gue bakal kepikiran untuk bawa cerpen “7 DAYS TO REMEMBER” punya gue ke dalam konsep yang lebih panjang, novel. Walaupun gue yakin banget, butuh banyak banget polesan buat jadi sebuah buku yang memenuhi keinginan pasar dan pembaca. Dan semoga apa yang gue tulis beneran jadi nyata untuk mengunjungi setiap tempat di Inggris serta mengabadikan setiap momentnya, gak perlu lagi “by Google.com” bakal gue ganti dengan nama dan hasil karya foto gue sendiri. AAAAMIIIIINNNNNN!
Finally,
Gue akhiri salah satu usaha gue buat nginjek kaki di Inggris, melalui #InggrisGratis. Sekarang tinggal tunggu kabar baiknya dari Mister Potato. Dengan nama Allah SWT dan atas kejaran maut batas pengiriman posting. Bismillah. *publish*
 
 
 Jambi, May 2014.
 
 
 
 
 
 
 
 
  

Teruntuk kamu, aku. Kita.

Saturday, June 01, 2013





Teruntuk kamu yang mencintai dengan seluruh hatinya,

Kamu sebenarnya tidak akan pernah sepenuhnya tau, apakah dia juga tengah mengerahkan seluruh hatinya untuk berbalik mencintaimu atau tidak. Kamu hanya bisa memberikan tanpa bisa mengharap sebaliknya.  Hatimu hanya satu, ketika kamu hanya memberikan setengah saja telah mampu membuatmu terluka parah karena kenyataan, apalagi ketika seluruhnya ?

Teruntuk kamu yang memperjuangkan atas nama cinta,

Sudahkah kamu merasa dia pantas untuk kamu perjuangkan dengan sebegininya ? Ketika di luar sana masih banyak yang mestinya kamu perjuangkan terlebih dahulu. Banyak yang sesungguhnya lebih butuh dengan kehadiranmu. Buka matamu, ini bukan hanya tentang dia. Sadarkah kamu ?

Teruntuk kamu yang mempertahankan tanpa peduli apapun,

Kamu tau bahwa dia memang memperjuangkanmu, awalnya. Hingga akhirnya kamu merasa dia pantas di pertahankan. Entah karena memang sudah seharusnya, atau karena kamu takut tidak mampu menemukan “dia” yang lain di luar sana ?

Teruntuk kamu yang menyianyiakan tanpa takut menyesal,

Waktumu terus berjalan, begitu juga dengan mereka yang mengelilingimu. Terbiasa di terima kembali, seakan menjadi alasan ternyamanmu untuk berpikir, “Masih ada esok hari”. Hey, kamu tidak tau apa tidak mau tau, bahwa sesukses dan sehebat apapun kamu nanti, ‘Rumah’ adalah tempat senyaman-nyamannya kamu kembali. ‘Rumah’-mu yang biasa tempat kembali mungkin suatu saat akan berpindah kepemilikan, atau hancur karena terlalu sering kamu sia-siakan keberadaannya. Hanya waktu yang bisa membuktikan. Jadi mengapa harus menunggu hilang, baru menyadari keberadaan ?

Teruntuk kamu yang terbiasa menunggu tanpa lelah,

Hidupmu tidak harusnya tentang menunggu sesuatu yang entah pasti akan datang kembali atau tidak. Hidupmu terus berjalan, entah kamu menyadarinya atau tidak. Perjalananmu masih panjang. Tak lelahkah kamu berdiri diambang ketidak pastian ? Tak inginkah kamu menemukan sesuatu yang mungkin saja menjadi alasan barumu, untuk lebih mensyukuri hidup ?


Teruntuk kamu, aku. Kita yang seringkali mengabaikan diri sendiri ketika merasa nyaman terhadap satu hal, yang entah sadar atau tidak telah menyakiti dirinya dengan perlahan,

Pusat kendali hidupmu adalah dirimu sendiri. Jangan biarkan ‘dia’ yang dicintai dengan seluruh hati, diperjuangkan atas nama cinta, dipertahankan tanpa peduli apapun, hingga seringkali menyianyiakan tanpa takut menyesal  karena terbiasa kita tunggu itu, menjadi satu-satunya alasan mengapa sekarang kamu lupa mensyukuri hidup yang sudah Tuhan berikan.

Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk menunjukkan kepadamu, apakah ‘dia’ adalah yang Tuhan inginkan untuk tetap terus tinggal dan berada di hidupmu.





“We met with somebody for a reason; either they’re a blessing or a lesson" – Anonim.









Nb : Dedicate to first of June. Hello, June :)



Dear, Bara

Friday, May 03, 2013

Dear, Bara

Iya. aku menyapa kamu, lelaki bernama Bernard Batubara, biasa di sapa Bara dan kini memiliki account twitter baru @Benzbara_ , kamu masih berusia 23 tahun bukan ? Apakah aku (mencoba) terlalu banyak tau atau hanya sok tau ? 

Bermulai dari dunia maya, menilik tweet demi tweet sebagai pencitraan dirimu. Hingga akhirnya berlanjut dengan Retweet dan terkadang bila beruntung saat kamu berhenti pada mentionku, maka kita akan memiliki kegiatan saling membalas. Ada beberapa yang ku Favorite-kan. Entah buat apa, hanya karena aku pecinta kenangan ? Atau mungkin kamu adalah salah satu hal yang layak untuk aku kenang. Kali ini bukan sebagai pasangan kekasih, teman dekat, atau keluarga, tetapi orang baru yang seakan mampu membuatku berkata "Bisa aja sih bikin kata-katanya ? Ngena!".

Mengenalmu memang hanya sebatas media social, tapi permainan kata-katamu membuatku tergelitik untuk membeli buku Kata Hati, setelah sebelumnya aku juga secara tak sengaja penasaran dengan buku Radio Galau FM. Iya, aku membelinya di @Gramedia.




Berbeda dengan yang sebelumnya. Aku membeli Kata Hati-mu dengan pemesanan Pre-Order, hanya untuk sekaligus bisa menikmati untaian goresan tanda tanganmu langsung di halaman depannya. Aku selalu suka buku dengan ‘penanda’ yang tak biasa seperti itu. Serasa bahwa aku (pernah) meminta langsung di hadapanmu.

Bermula dari tak sengaja penasaran untuk membaca, kini boleh aku berpendapat singkat tentang bukumu ? 
Aku suka. Sangat suka.

Selanjutnya #Milana. Ah. Kumpulan cerpen keluaran terbarumu itu masih saja membuatku terpikat. Lagi-lagi aku tergoda untuk membeli terlebih dahulu, bukan hanya karena aku tau pasti akan ada kejutan di setiap tulisan barumu, atau warna sampulnya yang oranye dan mampu membuat mata siapapun terhenti padanya, tetapi juga aku merasa tak mau kalah dengan mereka yang sudah mendapatkannya. Maaf, bila mungkin aku bertingkah seperti anak kecil. Psst. Terimakasih juga untuk hadiah frame #Milana nya, hadiah mini yang menarik. Mungkin bisa aku isi dengan fotoku bersama kamu, iya, kamu. Salah satu penulis fiksi yang hingga kini aku (selalu) suka dan di tunggu tulisan selanjutnya.

Terimakasih balasannya @benzbara_ dan kita samasama mem favorite kan :)






Mengenai perandaian di atas, bagaimana bila dinner bersamamu nanti menjadi salah satu usahaku, agar foto ku dan kamu (bisa) ada dalam satu frame milikku? Iya, di frame #Milana :)

Hari ini aku tak ingin berdoa yang terlalu muluk, hanya semoga aku menjadi salah satu orang yang beruntung itu. #Fingercross






Dari yang (masih) menunggu jawabanmu di 20 Mei 2013 nanti,



Aku.





Dear, LIFE :)

Monday, March 11, 2013

Dear, LIFE


Pertamanya mau bilang makasih ya buat semuanya, asli. You hit me like a bitch! COOL! Aku merasa jadi kayak seseorang dengan sudut pandang yang berbeda. Terlalu banyak kejutan yang manis hingga pahit yang diberikan. Tapi dengan semua kejutan tiba-tiba ini membuatku bisa memilah mana yang pantas untuk tetap tinggal di hidupku, ataupun enggak.

Ketika kamu merasa sudah cukup untuk berdiri dan berdiam, ada saatnya kamu berkeyakinan lebih dari 100% untuk kembali melangkah melanjutkan hidupmu dengan lebih baik, bersama mereka yang pantas untuk singgah ataupun menetap. Hidup itu berputar disekitar mereka yang berkeyakinan ataupun memilih pesimis dan menyerah. Jadi, berhatihatilah dalam memilih keputusan, karena gak semua yang kamu pikir manis itu akan berjalan dengan semestinya. Well. LIFE.

Hidup itu menurut aku juga gak pernah meminta kita untuk menyerah sebelum waktunya, Tuhan udah kasih kita berbagai cobaan hanya untuk melihat sejauh mana kita akan bertahan. Hidup itu pertarungan. Kamu menang, ketika kamu menaklukannya bahkan ketika bukan hanya dengan fisik, tapi juga ketika menyikapi dan menghadapinya dengan penuh tanggung jawab dan keberanian meski itu berat. Sebaliknya, kamu bahkan sudah jauh kalah terlebih dahulu, ketika kamu memilih memandang sinis terhadap cobaan yang ada, hey, keep calm! Baru digertak dengan sedikit cobaan aja kamu udah kalah, gimana dengan hal yang lebih besar lagi ?

Teman menjadi salah satu payung kebahagiaan yang melengkapi hidup ku sekarang. Ketika ada awan gelap kesedihan yang bertittle "kamu" dan memporakporandakan hampir seluruh rencana besarku, masih ada mereka. Keluargaku juga selalu bisa menjadi rumah tempatku kembali, dimanapun dan darimanapun aku berpijak. Mereka semua bahkan terlalu besar untuk dideskripsikan bagaimana penting keberadaannya. Keberadaan Tuhan ? Jangan disangsikan. Bahkan untuk setiap hembusan nafasku, masih dia yang mengatur. Great ? huh ?

Aku sudah kamu tampar dengan kenyataan, dicubit dengan sakitnya dan dibelai dengan manisnya. Kalau my LIFE bisa dideskripsikan sebagai makhluk. Dia adalah seorang coach yang amat-sangat tegas namun memiliki rasa empati luar biasa. Tanpa sakitnyanya, aku gak bakalan bisa tetap berdiri ketika aku tau, aku telah terjatuh berkali-kali, namun tanpa manisnya juga, aku tidak akan percaya bahwa "kamu" yang lain akan segera datang dan melengkapi kebahagiaan yang aku punya. Aku cuma butuh waktu. Tuhan itu pengatur waktu terbaik, DIA akan tau kapan saatnya aku nanti akan bertemu spesies kebahagian-kebahagian ku yang lain. Sekarang ? Nanti sore atau.... besok mungkin. Atau mungkin kamu yang DIA kirim buat aku ? :))

Jadi, LIFE tolong sampaikan terimakasihku untuk siapapun 'kamu' yang sudah datang, menetap ataupun akan segera pergi. Kamu menjadi pelajaran yang berharga untukku kedepannya. Agar aku bisa dengan bijak menyikapi masalah dan berani mengambil sikap dalam menentukan keputusan penting didalam hidup, juga lebih bisa memilih mana yang pantas untuk diperjuangkan. Tidak menutup kemungkinan, kamu merupakan salah satu cara Tuhan menunjukkan kekuasaannya, bahwa hanya DIA yang kekal didalam hidupku. Psst, I think he is jealous and miss our quality time above "sajadah" :)






Sincerely,



Me



Surat untuk kamu, dari aku.

Thursday, March 07, 2013

Ini masih siang dan aku terpikir untuk berbicara melalui tulisan atau bisa dibilang, surat mini. Semoga tidak membuat waktu dikemudiannya menjadi amat-sangat mellow.


May I hold you as you fall to sleep

When the world is closing in
And you can't breathe here
May I love you, may I be your shield
When no one can be found
May I lay you down

All I want is to keep you safe from the cold
To give you all that your heart needs the most


(May I - Trading Yesterday)




Dear, kamu.

Bagaimana keadaan hatimu kali ini ? masih merasakan tekanan dari berbagai arah, yang membuatmu kian bimbang menentukan arah kedepannya ? Jangan coba untuk lari lagi, tidakkah kamu letih dan bosan ? Hadapilah.

Ketika semua hal tidak berjalan dengan seharusnya, ada saatnya aku juga merasa lelah dan ingin semuanya berjalan sempurna tanpa aku minta. Kita sama. Bukankah kamu juga menginginkannya ? Kehidupan kita memiliki perbedaan yang amat sulit untuk dipersatukan, tapi bukankah Tuhan selalu menjanjikan adanya "jalan keluar" dari setiap masalah yang ada ? Jadi, akankah kita bersikap sok tau dan beranggapan bahwa tidak ada jalan lain dan menyerah ?

Percakapan singkat kita yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain, tapi bagi kita ini canda yang terhitung manis untuk dmiliki. Seputar kehidupan, makanan dan minuman kesukaan dan bercanda dengan hal lainnya. Sudah terlalu jarang kita lakukan, dengan minimalnya kuantitas yang kita miliki, dengan itulah aku berusaha untuk meningkatkan kualitas disetiap pertemuan kita.

Membaca kembali kisah kita yang kemarin, bagaimana masing-masing dari kita mencoba kembali saling percaya satu sama lain dan memulainya kembali dari awal. Berat memang, tapi kita hanya merasa akan selalu ada yang terlewati ketika kita jauh, dan sudah merasa cukup bahwa "kehilangan" memang bukanlah sesuatu yang ingin ditemui kembali. Aku merasakannya, hingga hari ini. Entah kenapa. Aku percaya selama kamu masih mau menggenggam tanganku dan berkata "kita kuat", aku mampu. Seberat apapun rintangan yang mungkin menghadang didepan.

Aku hanya berusaha menghargai usaha hatiku untuk kembali merasakan bagaimana sulitnya bangkit dari rasa "ketidakpercayaan" akan sesuatu. Aku juga menghargai fisikku yang menopang dan berusaha tegak ketika aku tau, didalamnya, aku tidak merasakan apapun. Aku menghargai waktu yang sudah terlewat entah ini akan menjadi sia-sia ataupun suatu cerita, juga mereka yang berusaha untuk membantuku untuk kembali dan tetap bertahan. Hingga hari ini.

Kehadiranmu yang sepenuhnya menjadi kado terindah dari Tuhan atas keberadaanmu di dunia-Nya ini. Jadi, masihkah kamu rela untuk melepaskan kembali hal yang kamu tau, sulit untuk didapatkan, hingga akhirnya kamu ataupun aku tidak tau, masih akan adakah kesempatan selanjutnya. Hanya ingin kamu berusaha menghadapi semua yang sudah semestinya dihadapi. Kamu tidak sendiri, ada aku.

Karena memang maaf, bila mungkin aku tidak bisa menjanjikan seribu kebahagiaan, tidak mampu menjadi yang terbaik, tidak sanggup untuk selalu menenangkanmu. Tetapi tetap akan ada sejuta keyakinan yang aku berikan. Melalu tangan ini yang akan berusaha menggenggam jarimu. Melalui mata ini yang akan berusaha menjagamu dan melihat arah terbaik yang mungkin saja kamu lewati. Melalui kaki ini yang melangkah bersamamu, meski sesekali harus berhenti dan berlari karena keadaan. Atau melalui bibir ini yang mengucapkan namamu disetiap lafal doanya.

Aku hanya bersyukur untuk memilikimu dari milyaran orang didunia.





Tertanda,


Aku.






Little truth in a letter

Thursday, January 24, 2013


Kepada kamu yang kini entah masih mau membaca tulisan ini atau tidak, ini sedikit kejujuran perasaan yang mewakilkan.


Maafkan aku yang kemarin telah melukaimu dengan goresan kata-kata dan rengekan yang seharusnya tidak aku lakukan terhadapmu yang sedang letih karena perjalanan jauh. Maafkan keegoisanku yang meminta sedikit waktu mu untuk meretaskan rindu yang terendap untuk seminggu ini. Maafkan amarahku yang tak bisa mengerti akan kebebasanmu untuk membagi waktu dengan kesenanganmu.


Aku hanya tidak mampu untuk berdiri sekarang, aku hanya membutuhkan tarikan dan pelukan hangat serta ucapan bahwa aku akan baik-baik saja. Aku hanya sedang tidak memiliki semangat untuk menjalani rutinitas yang membosankan disalahsatu bagian hidupku. Aku hanya sedang terlalu bersikap kekanak-kanakan untuk memintamu mengerti keadaanku. Aku hanya ingin menunjukkan rasa sayangku yang seringkali mungkin mengganggu buatmu.

Ini aku yang masih menunggumu untuk berbagi cerita seperti saat semuanya terlihat baik-baik saja. Terlalu banyak cerita yang terlewat hingga terlupa yang seharusnya aku bagi bersamamu. Hingga kini aku lupa bagaimana rasanya diperhatikan ketika bercerita dengan antusiasnya. Dengan bodohnya aku lupa bagaimana rasanya dipeluk dan diucapkan selamat karena aku berhasil melewati hari yang sebegitu menjatuhkannya buatku, meski itu tanpa kehadiranmu disisi. Dengan bodohnya pula aku seringkali lupa bagaimana rasanya kamu berusaha sedemikian caranya untuk membagi waktumu untukku. Hanya untuk bertemu dan bersikap seakan tidak akan ada lagi perpisahan dikedepannya.

Ini aku yang berusaha tidak membandingkanmu dengan yang lainnya ketika bisa saja aku melakukannya. Tidak bermacam benda dan keinginan yang aku pinta untuk kebahagiaanku semata. Ingin meminta sedikit waktumu untuk tertawa seperti biasanya, melupakan bahwa kini aku sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Ini aku yang khilaf karena melukaimu dengan anggapan bahwa kamu tidak pernah berusaha untukku. Aku hanya sedang tak merasakannya sekarang. Aku hanya merindukan bagaimana kamu memperjuangkanku, sebelum akhirnya kamu yakin bahwa aku akan selalu ada untuk menanti kehadiranmu kembali. Langkah ini memang sedang berhenti dikamu, tapi bukan berarti ia tak bisa meneruskan  kembali langkahnya yang tertunda. Sang empu dari langkah ini sedang menunggumu untuk melangkah bersama. Hingga nanti langkah ini terlalu lelah dan memilih untuk melanjutkannya, meski sendiri.

Ini aku yang sedang mempertahankan hatinya dan menguatkan inginnya. Berusaha menyadarkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan sekarang setidaknya akan selalu ada hikmah dibaliknya dan membuatnya lebih dewasa. Berusaha percaya bahwa keinginan Tuhan yang membuatnya tetap berdiri hingga sekarang, meski aku tak pernah tau bahwa akan seberat ini.  Berusaha menggenggam kembali kata-katamu bahwa  “kita kuat”. Ya. Kita kuat.

Jadi, pintaku sama seperti sebelumnya. Tolong jangan buat aku merasa bahwa aku sendiri.  Padahal kita sama-sama tau bagaimana rasa sesaknya akan ketidakhadiran satu sama lain disisi. Jangan juga buatku akhirnya meyakini lebih jauh bahwa ini akan menjadi sia-sia.




Sincerely,


Yours.



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS