Showing posts with label Kotak Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kotak Kehidupan. Show all posts

Surat untuk Ibu — Satu

Thursday, June 08, 2023

 

“Assalamualaikum, ibuuu”

Masih terekam dengan jelas bagaimana kelakarmu, agar anakmu ini tidak lupa mengucapkan salam ketika memulai atau mengakhiri percakapan.

Tulisan ini tepat kakak tulis di 20 hari semenjak kepergian ibu.

Semenjak kakak udah ga punya cara lain untuk berbicara, selain selalu memohon kebesaran Tuhan dalam menjaga ibu selepas sholat. Semoga doa kakak dan adik-adik, bisa memeluk dan menjaga ibu dalam keheningan paling dalam, ya.

Maaf ya bu, kemarin kakak sempat telat untuk datang dan tidak sempat melakukan ritual yang berulang kali kakak lakukan ketika pulang; Cium punggung dan telapak tangan Ibu berkali-kali, dan mencium dahi-pipi mu juga berulangkali. Hanya bisa sekali, bahkan kakak tidak mampu keras kepala untuk melawan mereka yang menahan kakak melakukannya ketika ingin lebih, “Ikhlasin, jangan sampai air matanya kena ya”. 

Lucu ya, bahkan kakak harus menahan diri di detik terakhir yang berjalan seakan begitu cepat.

Berat, bu.

Padahal ucapan terakhir kakak sebelum pamit ke bandara sebelumnya, “kita belum sempat cerita banyak”. Terlalu sibuk menyiapkan perhelatan lebaran hari raya Idul Fitri, yang siapa sangka… be our last eid.

Maaf kakak belum bisa jadi anak yang Ibu andalkan ketika harus bolak balik rumah sakit, berulangkali malah diwakili oleh adik-adik. Bahkan seringkali kakak telat mengetahui bahwa Ibu sedang rawat inap, karena tidak ada satupun yang mengabari. Takut kakak khawatir ya? Maaf ya, sudah buat Ibu dan semuanya merasakan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

Seringkali Ibu melayangkan protes karena kakak jarang memberi kabar meski jauh. Karena kakak pasti akan bercerita tentang banyak hal, yang mungkin saja membuat Ibu akan terus memikirkannya. Cukup sejauh ini Ibu tau bahwa kakak di sini baik-baik saja, dan bersama orang yang tepat.

Bu, semoga kakak bisa membedakan tangis sesak yang memang dalam ingin mengingat, atau ketidakikhlas-an yang menganggu. Semoga yang kakak lakukan tidak membuat Ibu resah di sana.

Bu, nanti kakak cerita lagi lebih banyak ya. Banyak hal yang mau kakak sampaikan. Sekarang mau siap-siap dulu menjelang maghrib dan mengirimkan doa untuk Ibu. Kakak gak mau kalah, karena kemarin sore adik-adik sudah menaburkan bunga di pusara Ibu. Cantik.

Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā.
"Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil."


BSD, Menjelang malam Jum’at

Tepat 20 hari Ibu tertidur dalam pelukan Tuhan.










Kehidupan di pertengahan tahun, saat tiga puluh.

Thursday, June 16, 2022

 In the middle of June, 2022


Wow, it has been a long time no see. 2020 adalah tahun terakhir untuk posting sesuatu, menceritakan sedikit yang ingin diceritakan.

Pada saat tulisan ini dibuat, saya sedang menatap keluar rumah. Kondisi cuaca sedang tidak terlalu terik, tidak juga cukup mendung untuk mengubah perasaan menjadi kelabu. Cukup nyaman untuk dinikmati udaranya.

Kehidupan di angka tiga puluh yang akan saya singgung ini, ternyata sudah berjalan cukup beberapa bulan. Bagaimana saya akan memulai ceritanya? Mungkin dari bagaimana pertambahan umur ini terbilang cukup unik. Meskipun saya menghabiskannya di pulau Dewata bersama dengan pasangan dan sahabat, tapi ternyata dibarengi pula dengan positif covid-nya saya dan pasangan. Membuat rencana kami yang awalnya hanya sekitar 4 hari saja, harus bertambah hingga 10 hari lebih. Tanpa ucapan meriah, ataupun tiupan lilin di kue ulang tahun seperti biasanya. Bahkan hanya satu dari keluarga yang mengucapkan dan memperingati. Mungkin terdengar terlalu sentimental, tapi sekedar ucapan yang seringkali dianggap hanya basa-basi, menjadi pengingat bahwa hidup saya yang biasa ini masih harus dilanjutkan keberadaannya. Masih diingat. Mahal rasanya.

Benar-benar minggu yang penuh perubahan mendadak. Salah satu hal yang saya dan mungkin banyak lainnya tidak menyukai— perubahan.

Bagaimana tepatnya Tuhan memainkan kuasa-Nya pada makhluk kecil yang suka lupa diri. Karena sebaik-baiknya manusia berencana, Tuhan adalah dzat paling kuat untuk menentukan.

Sedih? Kecewa? Awalnya tentu saja sebagaimana manusia biasa. Akan mengalami berbagai perasaan tidak mengenakkan dan tidak nyaman. Tapi ternyata rencana Tuhan akan selalu indah dan menenangkan. Ada sahabat yang setia menemani hingga akhirnya kami bisa kembali ke rumah dengan sehat dan selamat.

Salah satu penerimaan diri yang hingga sekarang masih menjadi salah satu hal sulit untuk dilakukan. Menerima bahwa semua kondisi dan situasi tidak akan selalu bisa sesuai dengan yang diharapkan. Kalimat-kalimat klise yang kerapkali ditemukan dimana saja, diucapkan oleh sesiapa saja, tapi ternyata hingga detik ini, di umur yang sudah menginjak tiga puluh. Masih sangat sulit dilakukan. Maka, meminta seseorang untuk langsung menerima segala hal untuk berjalan dengan begitu adanya, adalah salah satu hal yang tidak bijaksana, bagi saya pribadi. Bagaimanapun kasus masalahnya.

Bahkan hampir 4 bulan lamanya, tapi ternyata masih sering terucap bahwa sayang ingin terus bisa “bermain”, hingga nanti usia tua. Menikmati hidup yang mungkin dulu sempat tidak bisa dilakukan, atau acapkali dikesampingkan keinginannya. Sedang tidak ingin memikirkan bagaimana perasaan dan hidup orang lain, harus berjalan dengan baik. Atau bagaimana saya harusnya menyikapi hidup yang terkadang menuntut penyesuaian diri.

Seperti sedang bergelung dengan diri sendiri dan segala macam perasaannya. Menutup akses bagi orang lain untuk menyentuh terlalu dalam.

Kira-kira akan bertahan berapa lama?



BSD, June 2022

LA LA LA LOST YOU - NIKI; 

As my back song to finish the paragraph.


Welcome Back, 29!

Wednesday, March 04, 2020


Selamat datang 29 februari 2020!

Long time no see. After 4 years, kita ketemu lagi dengan banyak suguhan kehidupan yang berbeda. Saya dan segala perubahan besar dalam hidup, dimulai dari menopang status baru, hingga pindahan ke rumah yang baru. Memulai segalanya sedari awal.

Tahun ini adalah tahun ke dua puluh delapan, saya hidup, memiliki impian, menjalani jatuh dan bangun akan kehidupan, dan mengalami untuk merelakan serta mencintai lebih lagi.

Sedikit cerita, ketika akan menyambut tanggal bersejarah ini, saya benar-benar merasakan bagaimana ketakutan kecil yang menyelinap diam-diam. Perasaan dimana saya takut belum menyelesaikan apa saja yang ingin saya selesaikan, memiliki apa saja yang saya idamkan. Walaupun seringkali ada yang berucap, age is just a number, buat for me, it matters. A lot.

Bahkan tepat sehari sebelum siklus tanggalan menuju ke angka dua puluh sembilan di penghujung februari, saya mendapatkan kabar bahwa orang tua dan adik-adik saya yang kini sedang berada jauh di pulau yang berbeda, sakit. Padahal sebelumnya saya dan mereka sudah merencanakan beberapa impian untuk berlibur bersama, menghabiskan umur baru yang saya miliki dengan berbagai cetakan kenangan. Maklum, saya tidak bisa dengan mudahnya untuk pulang dan meninggalkan apa yang saya miliki, walaupun sejenak. Banyak pemikiran yang membuat saya tetap tinggal, dengan ikhlas. Sungguh. Meski ketika saya tidak mampu menatap para separuh jiwa saya secara langsung, hanya bisa memantau mereka melalui telepon genggam, meratap doa, dan air mata yang tiba-tiba menetes kala pesan masuk, “Selama ibu masih bisa berbicara, semua masih baik-baik saja”.

Tepat pada tanggalan dua puluh sembilan, mereka yang menyayangi saya tetap memberikan kejutan dadakan yang membuat hati hangat, saya ternyata amat di sayangi. Tidak peduli bagaimana keras kepala dan menyebalkannya.

Akhirnya Bandung menjadi pilihan pelarian sesaat, yang tentunya membahagiakan.

Bagi mereka yang mungkin mempertanyakan, kenapa saya tetap memilih tinggal dan akhirnya tidak mendekap separuh jiwa yang kini sedang melawan sakitnya raga, saya hanya bisa tersenyum. Jika mereka sudah pernah menikah, dan merasakan jauh dari orang tua, mungkin mereka akan sedikit mengerti.

Satu hal yang saya pikirkan, bahwa saya harus bahagia apapun kondisinya. Demi mereka yang telah menyelipkan doa atas kebahagiaan saya selama ini. Jika saya malah meratap dan memilih menghabiskan hari untuk berkeluh kesal dan menyalahkan keadaan, hati yang hancur bukan hanya saya.

Jika saya memilih pilihan yang terkesan mungkin tidak biasa dan dianggap egois, saya pun tetap akan memilih seperti itu.


Hai, you know who you are.
Terima kasih untuk segala usaha, doa dan harapan baiknya. Semoga kalian tidak bosan untuk mengenal saya.

Hai, dua puluh delapan.
Semoga kita berteman untuk jadi lebih baik lagi dalam memandang kehidupan, dan memilih keputusan.



Penghujung februari, 2020








#AbigdayofSasmyta (Part 5) - Perintilan Akad Nikah dan menuju resepsi

Wednesday, September 05, 2018

Masih dalam nuansa posting mengenai acara pernikahan Sasmerta dan Zulaimyta, kali ini mau menuliskan mengenai perintilan acara. Who's excited ? 

ME ? JUST ME ? oh, it's hurt! 

kidding.

So, here's the list! Beberapa penampakan dari perintilan akad nikah menuju ke resepsi, yang mungkin bisa membantu untuk kalian yang sedang dan akan mempersiapkan pernikahan :



Undangan : NETRA 
Payung : @rumahpayung
Souvenir : @hantaranjambi




 special request and handmade by : @bona.31



 semua pemetaan lokasi dan buku acara :
my one and only AYAH.


 

bridesmaid, groomsmen and card :
@gprajna




Beautifully handmade by : Tante Reyhan



Henna + kuku akad dan resepsi : @zhahenna



Make up : @sucindria



Dekorasi : @irmabungadecoration




seserahan : @Hantaranjambi

another list :
Catering - @vikacatering
Cake - @farfallabakery @widya_dayuagi
Documentation - @bangkuku and team
Flower - @zhyflowers
Adat - Balai Adat Melayu Jambi
EO - @svarnadvipapro



GOOD LUCK, BRIDES AND GROOMS!




BSD, September 2018
Mrs. Sasmerta





#ABigDayOfSasMyta (Part 4) - Akad Nikah Sasmerta dan Zulaimyta

Wednesday, May 09, 2018

KRIIIIIINGGGGGG
The alarm was played louder than before.
A sign that the day was came.

A big day, not only for me, but also for my family.

17-11-17

 09.30 WIB - Jumat pagi

"Mba, aku udah booking dan telpon untuk reservasi perawatan pre-wedding a/n Myta pagi ini, bisa kan ?"

YAP! Perawatan menjelang pernikahan yang harusnya dilakukan jauh-jauh hari malah dilakukan pas di hari H. Bahkan mba yang menangani perawatan saya pun kaget bahwa acara akadnya akan berlangsung malem ini, dan paginya si perempuan masih bisa seleweran kemana-mana bukannya diem duduk dirumah. Selo banget beb kayaknya hidup saya ya. Hahahaha. Tapi memang dikarenakan menjelang H-1 akad nikah, saya sama sekali tidak punya waktu untuk bersantai-santai ria. Ya kerjaan, ya prepare untuk acara pernikahan, semua dilakukan sendiri. Maka itu mengenang proses nya emang paling bisa bikin senyum-senyum gimana gitu, gimana kok ya bisa lewat juga akhirnya. 😂😂
 
Setelah perawatan kelar, sekitar jam 2 atau 3 siang, saya pun segera menuju ke lokasi akad -- Rumah kakek-- dan memang kebanyakan orang akan bertanya kenapa keluarga saya memutuskan untuk menjalankan acara sakral tersebut kembali dirumah kakek. Penuh pertentangan sebenarnya, karena sebelumnya saya kekeuh pengen dirumah sendiri, tapi ayah saya ingin sekali membahagiakan kakek saya, dimana memang rumah beliau yang di alamat sekarang belom pernah menjadi saksi pernikahan keturunannya secara langsung. Baiiiiiqq, akhirnya kesepakatan pun diambil.

Proses make up dan henna juga berjalan dengan lumayan agak riweuh, karena rumah sudah mulai ramai oleh keluarga besar dari luar maupun dalam kota yang berkumpul untuk memeriahkan acara yang akan berlangsung nanti malam. Pihak keluarga mempelai laki-laki juga sudah bersiap di hotel.

DEG-DEG AN, DUH! Jangan ditanya, makin menuju jam nya yaitu jam 19.00 WIB, ternyata baru berasa makin kenceng paniknya. Bahkan beberapa sodara atau crew EO yang memang sedari awal ada yang bertugas menemani saya, tidak bisa menangani kepanikan saya yang tidak bisa duduk tenang menjelang acara ijab qabul tersebut. Sesuai dengan adat yang saya jalani, memang pihak perempuan akan disembunyikan terlebih dahulu di suatu tempat, dan baru akan keluar menuju meja ijab qabul dan menemui mempelai laki-laki, adalah disaat prosesi tersebut selesai.

Sekitar pukul 20.15 atau 20.30 WIB akhirnya prosesi ijab qabul pun selesai, dan semua pihak mengucapkan SAH! BARAKALLAH. Bismillahirahmannirrahim, Pindahlah tanggung jawab akan diri saya dari orang tua, kepada suami saya, Hendra Sasmerta. Ciee, suami~
 
Ketika prosesi sungkeman kepada kedua orang tua, adalah salah satu waktu paling haru dalam hidup saya, karenanya itu menjadi alasan saya sangat menahan dengan keras air mata supaya tidak banjir--walaupun tetap ada yang lolos--karena prosesi akad nikah belum selesai sampai disana. Masing-masing dari saya ataupun suami pun akhirnya akan dilepas menjalani bahtera rumah tangga, berdua. Disaat itu pun saya melihat kembali bagaimana orang tua kami, mengucurkan airmata haru, sedih, bahagia bercampur jadi satu dengan beberapa selipan petuahnya, melepaskan anaknya untuk dipercayakan kepada "orang baru", yang memang baru beberapa tahun dikenal. Mencoba untuk hidup mandiri, tanpa bisa sesering itu merengek manja bila sakit datang, meminta bila kekurangan dan menginginkan sesuatu, egois untuk selalu menjadikan mereka back up saat terjatuh. Walaupun saya tau, family always comes first. Tetapi saya sendiripun tau diri, bahwa ketika akhirnya memutuskan untuk meletakkan kehidupan saya yang dijaga oleh kedua orang tua untuk selalu merasa berkecukupan, melalu prosesi ijab qabul tersebut, saya harus mengambil tanggung jawab penuh untuk merasa cukup akan segala yang suami saya sudah dan akan persiapkan untuk kehidupan kami kedepannya. Begitupun lelaki yang sudah menyandang status suami ini, bertambahlah tanggung jawab nya untuk akan lebih mengedepankan hidup yang lebih berdua, bukan lagi perihal ego dan keinginan pribadi. Mencoba kembali mengulang dari nol segala kehidupan yang sudah senyaman itu saya miliki selama 25 tahun. Tidak mudah, tapi pasti bisa. Bukankah hidup memang akan selalu seperti itu, selalu tentang pengulangan peristiwa. Yang berbeda hanya masalah waktu dan tempat, serta diri yang menyikapi.

Waktunya menimbun kenangan dengan menjalani proses foto-foto dengan sumringah tanda sedikit kelegaan satu acara telah terlaksana dengan semampunya. Sekaligus menjamu tamu yang datang dengan makanan yang sudah dipersiapkan. And prepare for the wedding reception on sunday, November 19th, 2017. Yes, it's not over yet. Dua hari saja acaranya~

Untuk cerita dibalik ke-riweuh-an menuju hari H ini beserta vendor yang sudah amat sangat membantu akan di posting setelah post ini ya, maklum, perintilan dan ceritanya lumayan agak panjang. Untung gak jadi film layar lebar sekalian :))


By the way, here's some pictures about the day ;








 
Officially SAH!

 
 
BSD, MEI 2018
Officially Mrs. Sasmerta










#ABigDayofSasMyta (Part 3) - Prosesi Lamaran Sasmerta dan Zulaimyta

Monday, February 05, 2018

08 July 2017

One step closer ...


LAMARAN BOOOOOOOO! Saya akan di lamar, dan otomatis akan jadi penetapan bahwa saya sudah tidak bisa lagi--setidaknya begitu--memilih lelaki lain lagi sebagai pendamping hidup hingga tua menjelang.

Perkenalan yang bisa dibilang cukup singkat, hanya kurang dari 1 tahun, tapi nyatanya lelaki inilah yang ternyata mampu menyiapkan diri dan meyakinkan saya, bahwa masa tua yang bahagia berdua itu nyata adanya. Lelaki ini yang mampu memberanikan dirinya untuk meminta dan memiliki saya sepenuhnya, dari kedua orang tua dan keluarga besar. Ketika di luar sana masih banyak lelaki yang seringkali mengecewakan dan menunda segala hal lebih baik yang mungkin saja terjadi, ketika dua insan memiliki niat baik untuk menyempurnakan agamanya.

Acara lamaran atau disebut Anter/Letak Tando yang terbilang agak ribet dikarenakan menggunakan full adat Jambi--iya, dikarenakan keluarga besar dari pihak Ayah adalah salah satu pengurus Lembaga adat baik kota maupun provinsi--ini melibatkan banyak pihak, mulai dari keluarga inti, keluarga besar, rekan, tetangga hingga sahabat. Dan memang, sedari awal kami berdua sepakat untuk tidak memberitahukan banyak orang perihal acara lamaran ini, karena merasa bahwa ini masih bukan acara besar yang semua orang di dunia harus tau rincinya. Cukuplah lingkup dekat yang mengetahui terlebih dahulu. Atau bisa dibilang Ring 1 kenegaraan ? HAHA. Jadi, mohon maaf bila sekiranya mendadak mendapatkan kabar kami akan segera menikah tanpa aba-aba terlebih dahulu.

A few months before ...

Mengenai persiapan pun, tentu tidak sekejap mata atau semudah membalikkan telapak tangan. Lagi-lagi penuh drama. Yaiyalah, ini yang mau lamaran aja ada di dua kota berbeda. Jambi dan Jakarta. Belum lagi kesibukan setiap hari yang berbeda, tentu sedikit banyak menyita waktu hingga kesabaran satu sama lain. Tidak hanya itu, konflik internal keluarga juga jangan ditanya sih, BANYAK. Apalagi sempat melewati masa puasa dan lebaran yang harusnya bisa khusuk untuk ibadah, tapi ini sekaligus kerja dan prepare. Kalo dirinciin mungkin konfliknya bisa ngalahin episode sinetron remaja di layar kaca. Like, seriously.

Persiapan mencari dan menghubungi vendor mulai dari dekorasi, catering, hantaran belanjo lamaran, pemilihan bahan dan warna baju hingga perintilan lainnya saya lakukan sendiri (di bantu keluarga dan sahabat pastinya). Maklum darah event organizer-nya tidak bisa disangkal dan sepertinya memang sudah turunan, maunya diurus sendiri biar puas dan sesuai keinginan juga. Kesana kemari nyetir sendiri, kalopun engga juga palingan saya ditemani oleh sahabat atau keluarga. untuk buku lamaran khusus pun dikerjakan sendiri oleh Ayah saya, tentunya dengan bantuan dari berbagai pihak yang lebih mengerti. Makanya keinginan menggunakan tema rustic untuk dekorasi pun, awalnya takut tidak disetujui oleh pihak keluarga besar saya, maklum ya kan harus menggunakan adat melayu Jambi yang notabene memang agak sedikit ribet dengan segala tatanannya. Salah sedikit bisa disembur daun sirih sama para tetua adatnya. *kidding*  

Karena tatanan dalam lamaran adat melayu jambi yang dilaksanakan saat acara lamaran saya adalah ; 
- Seloko yang berisi adu penjelasan kedatangan dan maksud acara berlangsung antar kedua belah pihak yang tentunya menggunakan banyak bahasa dan peribahasa menggunakan bahasa Jambi oleh nini mamak yang menunggu maupun yang datang, 
- Penyerahan hantaran belanjo yang biasanya disepakati terlebih dahulu isinya, dan saya serta pasangan memutuskan berisi cincin emas polos tanpa hiasan yang akan digunakan oleh pihak wanita, pakaian sepelurusan dari ujung rambut sampai kaki termasuk kain adat dari daerah lampung--dikarenakan pihak orang tua lelaki menetap disana dan mereka beradat Palembang, Jawa--yaitu tapis lampung, sirih pinang yang diletakkan di kotak sirih tembaga khusus untuk acara, serta kue tradisional dan sisanya ya tergantung kesepakatan masing-masing pasangan,
- Penyerahan  sirih nini mamak kepada penengah,
- Sepatah dua patah kata dari penengah, yang saat itu adalah kakek saya sendiri, Datuk Nata Utamo DRS. H. Hasan,
- Pemasangan cincin oleh orang tua pihak lelaki kepada saya, hanya saya, karena pemasangan cincin oleh kedua belah pihak pasangan akan dilkukan nanti saat acara akad nikah berlangsung.
- Doa
- Ramah Tamah

Banyak ya ? Gak kok, masih ada yang lebih ribet lagi. Tapi kurang lebih seperti itu tatanan adat melayu Jambi dalam upacara meminang anak gadis, untuk lebih jauhnya mungkin kalian bisa mencari tahu kepada yang lebih ahli, Google misalnya ?

Berhubung juga memiliki team EO sendiri, mau gak mau, beberapa persiapan dan Hari H lamaran pun dibantu oleh mereka dalam mendamaikan suasana yang mungkin akan agak tidak terkontrol, dikarenakan semua sudah tegang pada waktunya. (((tegang)))

Setelah menimbang dan memutuskan, jatuhlah pilihan vendor lamaran ke :

Dekorasi : Bunga Decoration
Catering : AINI Catering
Attire : NAZ OFFICIAL
Flower : Zhy flowers
Cake : Widya Dayuagi
Make Up : Sucindria
Dokumentasi : Kukuh and Team
Adat : LAM (Lembaga Adat Melayu) Kota Jambi

Beberapa vendor di atas adalah vendor pilihan dari sekian banyak yang saya dan pasangan pilih untuk mendukung kesuksesan acara. Tapi yang pasti dari semua persiapan adalah titik tengah. Yap! Persetujuan dari banyak pihak adalah salah satu kunci untuk semua acara berjalan dengan baik dan lancar. Jangan lupa buat segala rincian yang diperlukan mulai dari TO-DO list, MOU Vendor, hingga cash flow supaya tidak berantakan, dan bisa jadi bacaan penuh kenangan di kemudian hari. Karena semakin dekat dengan hari H, maka segala hal akan semakin ribet dan tidak menutup kemungkinan chaos baik dari internal maupun eksternal. Entah dari komunikasi ke pasangan, keluarga ataupun ke vendor-vendor yang bersangkutan, dan dikarenakan handle sendiri makanya gak pernah jauh dari namanya handphone atau laptop. udah 11-12 sama admin online shop yang harus standby 24 jam menjawab segala pertanyaan, karena komunikasi itu hal yang TERAMAT PENTING. Sekali misscomunication, sudahlah, berantakan kemana-mana. Makanya, saling mengerti antar pasangan dan komunikasi juga harus saling terjaga. Karena emosi yang suka mendadak meledak, bisa menjadi sumbu pendek yang memorakporandakan mood seharian.

Akhirnya meskipun ada sesi tangis haru biru, kecewa ataupun penolakan bahkan hingga H-1 sebelum acara, but everythings is under control. Legowo-in aja sist. Alhamdulillah, puji Tuhan, acara akhirnya bisa berjalan lancar dengan sebagaimana seharusnya. Usaha udah, doa apalagi, tinggal pasrah-in hasil akhir ke yang Maha Esa. Walaupun akan ada kekurangan di setiap sisi. Tapi bukankah kesempurnaan hanya milik Allah SWT ?



sneak peek : 




















To be continue ...





BSD, February 2018
Officially Mrs. Sasmerta












#ABigDayofSasMyta (Part 2) - Introducing Mr. Sasmerta

Tuesday, January 16, 2018

Mau post random tentang bagaimana akhirnya bisa memilih pasangan hidup yang tepat -- Insya Allah untuk sekarang dan seterusnya hingga maut memisahkan-- di waktu yang tepat pula.


Lelaki yang ngeduselin saya tiap pagi, tanpa perlu merasa takut bahwa bau asyem pagi hari akan menjadikannya ilfeel
Lelaki yang akan meladeni ke-lebay-an dan ke-galau-an saya, tanpa perlu merasa bahwa ia akan merasa bosan, 
Lelaki yang akan tetap menghabiskan setiap racikan masakan ngasal yang baru saja dipelajari dan rasanya tentu terkadang masih tidak bisa diterka, tanpa perlu merasa hari esok ia tidak akan duduk bareng di meja yang sama, 
Lelaki yang mencoba mendorong saya untuk selalu aktif setiap harinya--tidak peduli apapun ide absurd yang seringkali timbul di kepala--tanpa menuntut saya untuk selalu berhasil ketika lelah mencoba, 
Lelaki yang akan menurunkan suara nya ketika sudah terlalu emosi dan lelah ketika kita berselisih paham akan sesuatu hal, 
Lelaki yang hanya meminta seorang pendamping dengan satu visi misi untuk kedepannya, tak perlu harus stuck dengan body goals masa kini atau make up di segala jengkal muka, 
Lelaki itu yang saya jatuhkan pilihan untuk menjadi imam, abang, panutan, penjaga dan tempat pulang ketika bahagia maupun down.
Lelaki yang sedari kemarin, entah jauh ataupun dekat--tidak pernah dan semoga tidak akan pernah berubah--selalu menatap saya, dan hanya saya.


Flashback untuk beberapa waktu kebelakang, beberapa kali saya bertemu dengan berbagai tingkah lelaki, bukannya tidak baik, mungkin hanya saya tidak mampu memenuhi segala ekspektasi yang mereka inginkan.
Bukannya pun saya tidak mau--karena bukankah ketika seseorang memaksa kita untuk melakukan hal diluar kebiasaan akan memacu kita menjadi lebih baik lagi ?--tapi memang seringkali saya sudah mencoba, dan sialnya, memang tidak akan pernah cukuplah segala hal yang kita usahakan untuk seseorang yang mungkin memang sudah sedari awal tidak pernah siap untuk bersama kita.
Pada dasarnya manusia hanya diminta untuk mencoba, tidak harus selalu berhasil.
Tapi kita seringkali memaksakan keadaan yang seringkali bentrok dengan logika, lagi-lagi dikarenakan entah "sudah terlanjur sayang" atau karena "usia hubungan yang sudah lebih lama daripada cicilan gadget".

Akhirnya saya menyerah, memilih untuk menata kehidupan sendiri yang masih perlu untuk diperbaiki di sana sini. Karena terkadang menahan tangis ketika ada nyeri di hati, padahal sedang ada janji dengan beberapa client penting karena pekerjaan itu melelahkan.
Mencoba untuk apply beasiswa, mencari tambahan kerjaan pengisi dana tabungan tambahan untuk berbagai list destinasi liburan, dan kesibukan-kesibukan lainnya.
Hingga akhirnya, Tuhan berencana lain. Semesta mencoba menggagalkan segala hal baik yang saya rencanakan dengan hal yang lebih baik.

Saya dipertemukan dengan seseorang yang mampu memenuhi salah satu mimpi dan checklist dalam hidup saya, NIKAH DI USIA 25 TAHUN, DI PENGHUJUNG TAHUN 2017. Well, permintaan yang terkesan maksa, tapi disanggupin, gimana dong ? :))

Bahkan untuk beberapa visi dan misi untuk kini serta masa depan, kita memang tidak bisa dibilang 100% sama, tapi tetap bisa berdampingan dalam berjalan. Setidaknya sejauh saya mengenal lelaki ini, dia adalah lelaki yang mampu mengimbangi kebodor-an ataupun rencana masa depan yang telah saya susun sedemikian rupa. Begitupun segala permintaannya yang ditujukan kepada saya, adalah segala hal yang masih mampu saya usahakan.

Akhirnya saya pun bisa bernafas lebih lega dari biasanya,
menemukan sosok yang satu ritme perjalanan, tanpa takut akan tertinggal sendiri itu menenangkan.
Terimakasih pak Sasmerta.

Lalu, bagaimana dengan kamu ?





Malang, 2017




BSD, Januari 2017
Officially Mrs. Sasmerta





#ABigDayofSasMyta (Part 1) – Pertemuan Dua Keluarga

Monday, December 11, 2017

*SNIFF* *SNIFF*

Looks like I smeel something wrong. Oh! Crap, I didn’t do one of my lovely things.
Yes, wrote down all of my “miracle” things that happened on my life.

So, here I am.

Mau cerita apa dong?
Gimana kalau cerita sedikit “kegilaan” – yet lovable things—yang sedang dihadapi beberapa saat terakhir ?
Yaitu……. 

*drums roll*

WEDDING PREPARATION (Part 1) – Pertemuan Dua Keluarga

Mungkin untuk beberapa orang, atau bisa kita katakan BANYAK ORANG, akan merasa sangat terkejut dengan pemberitaan bahwa seorang ZULFAH NURHANNI ZULAIMYTA, akan menikah dalam waktu yang….. tidak lama lagi.

Pengembaraan yang tidak terpikirkan sebelumnya, perencanan yang disusun sedemikian rupa, akhirnya harus mengalah pada keputusan takdir bahwa memang sebaik-baiknya manusia merencanakan, kejutan semesta dan ketetapan Tuhan adalah yang tak pernah mampu terduga.

Jadi, mulailah kita dengan acara Lamaran setelah sebelumnya dimulai degan ngobrol di Palembang, di akhir maret 2017 (Iya, jauh. Mumpung lagi ada acara keluarga disana, dan doi lagi bisa buat cuti sebentar). Lelaki ini memberanikan diri bertemu dan berbicara secara langsung dengan sang kepala keluarga -red : Ayah- dan ternyata tidak segampang itu. Harus ada pertemuan kedua keluarga inti yang memang sebelumnya tidak pernah terjadi. Maklum, namanya LDR (Long Distance Relainship Relationship), apalagi memang perkenalan antara dua insan yang ingin menikah ini tergolong cukup singkat, kurang dari 1 tahun saja.  Terus udah langsung memutuskan untuk menikah ? Why  Not ? Karena udah 25 tjoy, udah merasa bahwa diri membutuhkan segala yang pasti, bukan lagi janji-janji. Emangnya masa kampanye ?

Oke, lanjut.

Setelah akhirnya ada perencanaan, akhir april menjadi salah satu jalan pertama perkenalan kedua keluarga. Mr. Sasmerta akhirnya membawa kedua orangtu, adek, dan kedua om-tante nya untuk bertemu secara langsung di kediamaan saya, di Jambi. Pertemuan non formal kali ini memang di khususkan untuk pertemuan kedua keluarga, dan pembicaraan mengenai hari pernikahan.



“Jadi kalian maunya nikah nya tanggal berapa ?”
“Tanggal 17 November untuk akad, dan 19 november 2017 untuk resepsi.”

Percakapan singkat yang mendadak terjadi, karena ditanyakan mengenai tanggal keinginan kami berdua, yang memang kami sudah pernah membicarakan hal ini sebelumnya. Jadi, tidak terlalu ragu dalam menjawab. Untungnya lagi, kedua keluarga menyetujui dan merestui. 

Tidak memakan waktu lama, hanya bertandang ke rumah saya, dilanjutkan makan malam bersama di sebuah restoran dan semuanya berlangsung dengan amat sangat baik.

Kini dimulailah perjalanan sesungguhnya untuk mencapai pintu perjalanan untuk merubah status dari BELUM KAWIN, untuk menjadi KAWIN di KTP nanti.

But this is not over yet…



 




BSD, Desember 2017
Officially Mrs. Sasmerta 




 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS